NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Pemerintah Banda Aceh menegaskan sektor pendidikan masih menjadi fokus utama pembangunan kota. Wali Kota Illiza Sa’aduddin Djamal menyebut masih terdapat sejumlah tantangan yang harus diselesaikan, mulai dari keterbatasan tenaga pendidik hingga sarana dan prasarana sekolah.
“Kita akui, di sektor pendidikan kita para guru masih kurang, sarana dan prasarana masih kurang. Ini terus kita benahi,” kata Illiza dalam kegiatan Suara Warga: Mendengar Suara, Membangun Kota dengan Kolaborasi Warga yang berlangsung di Pendopo Wali Kota Banda Aceh, Minggu (10/5/2026).
Dalam forum tersebut, Illiza mengakui kebutuhan penguatan layanan pendidikan di Banda Aceh masih cukup besar, terutama untuk mendukung sistem pendidikan inklusif di seluruh satuan pendidikan.
Berdasarkan data Dapodik tahun ajaran 2025/2026, jumlah tenaga pendidik di bawah kewenangan Pemerintah Kota Banda Aceh tercatat sebanyak 2.860 orang. Jumlah itu terdiri atas 627 guru taman kanak-kanak, 1.403 guru sekolah dasar, serta 830 guru sekolah menengah pertama.
Pemerintah kota, lanjutnya, telah melakukan berbagai langkah pembenahan melalui peningkatan fasilitas sekolah dan penguatan kapasitas guru lewat sejumlah pelatihan, khususnya untuk mendukung pembelajaran yang inklusif dan adaptif.
“Kami juga telah membentuk unit layanan disabilitas sebagai bagian dari komitmen menghadirkan pendidikan yang setara bagi seluruh anak, termasuk anak berkebutuhan khusus, yang didukung dengan upaya penyesuaian layanan dan pendekatan pembelajaran di sekolah,” katanya.
Selain itu, Pemko Banda Aceh juga terus mengevaluasi pelaksanaan sistem zonasi agar akses pendidikan dapat lebih merata. Pemerintah turut memberi perhatian pada kesejahteraan tenaga pendidik, terutama guru honorer yang dinilai memiliki peran penting dalam menjaga kualitas pembelajaran.
Upaya lain yang terus diperkuat adalah program sekolah ramah anak sebagai langkah pencegahan kasus perundungan, melalui keterlibatan aktif pihak sekolah, orang tua, dan lingkungan sekitar.
“Intinya, kami menyadari bahwa ke depan masih diperlukan penguatan, terutama dalam pemerataan kualitas layanan pendidikan dan penyediaan guru pendamping khusus di setiap sekolah,” demikian Illiza Sa’aduddin Djamal.
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

