NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Di tengah upaya pemulihan ekonomi masyarakat pascabanjir, potensi limbah pertanian mulai dilirik sebagai alternatif sumber penghasilan baru. Salah satu yang dinilai menjanjikan adalah jerami padi, yang selama ini kerap dianggap sebagai sisa produksi tanpa nilai ekonomi tinggi.
Pada Jumat (17/4/2026) lalu, Nukilan.id mewawancarai Andriy Anta Kacaribu, S.Si., M.T., peneliti sekaligus calon doktor Bioteknologi Pertanian di Universitas Syiah Kuala (USK). Ia menilai, pemanfaatan limbah pertanian seperti jerami padi bukan sekadar wacana, melainkan peluang nyata yang dapat dikembangkan di Aceh.
Andriy menegaskan bahwa potensi tersebut sangat terbuka jika didukung pendekatan ilmiah dan teknologi yang tepat.
Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa dari sisi kandungan material, jerami padi memiliki nilai yang tidak bisa dipandang sebelah mata, terutama dalam konteks pengembangan produk turunan berbasis biomassa.
“Limbah jerami padi, misalnya, merupakan biomassa yang mengandung banyak selulosa. Ini bisa dimanfaatkan di berbagai bidang, baik untuk pertanian maupun untuk pengolahan limbah air,” katanya.
Tidak hanya itu, potensi ekonomi juga dapat ditingkatkan melalui proses ekstraksi senyawa tertentu yang memiliki nilai jual lebih tinggi di pasar.
“Selain itu, jerami juga mengandung silika yang bisa diisolasi dan diekstraksi untuk kemudian memiliki nilai jual. Jadi secara ilmiah, peluangnya sangat terbuka,” sebutnya.
Namun demikian, realitas di lapangan menunjukkan bahwa pemanfaatan potensi tersebut belum berjalan optimal. Andriy menilai, hambatan utama justru bukan terletak pada ketersediaan ilmu pengetahuan, melainkan pada aspek implementasi.
“Alat-alat yang dibutuhkan relatif mahal, dan metode yang digunakan juga tidak murah. Akibatnya, banyak temuan riset hanya berhenti di level publikasi atau paper, tanpa bisa diterapkan secara luas di masyarakat,” ungkap Andriy.
Dalam praktiknya, sejumlah upaya sederhana sebenarnya telah dilakukan, meski hasilnya belum sepenuhnya berhasil menjawab tantangan di lapangan.
“Kalaupun menggunakan metode sederhana, biasanya hanya sebatas pengomposan atau pembuatan biogas. Tapi pun itu pernah menemui kendala sosial. Misalnya, ada program biogas dari jerami padi yang dicampur dengan kotoran sapi, namun tidak diterima oleh masyarakat karena dianggap najis,” kata Andriy.
Kondisi ini menunjukkan adanya jarak antara pemahaman ilmiah dengan persepsi masyarakat, yang kerap menjadi penghambat dalam adopsi inovasi.
“Padahal secara ilmiah, setelah melalui proses fermentasi, itu sudah bukan lagi kotoran dalam bentuk awalnya. Di sini terlihat bahwa selain kendala teknologi dan biaya, ada juga tantangan dari sisi penerimaan masyarakat,” pungkasnya.
Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya peran pemerintah dalam menjembatani kesenjangan tersebut, baik melalui kebijakan yang berpihak maupun edukasi publik yang berkelanjutan.
“Karena itu, memang dibutuhkan intervensi pemerintah yang kuat, tidak hanya dari sisi kebijakan dan teknologi, tetapi juga edukasi kepada masyarakat agar lebih terbuka terhadap inovasi-inovasi seperti ini,” tutupnya.
Dengan pendekatan yang komprehensif, pemanfaatan limbah pertanian seperti jerami padi berpotensi tidak hanya mengurangi dampak lingkungan, tetapi juga menjadi salah satu jalan keluar untuk memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat Aceh di masa pemulihan. (XRQ)
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

