NUKILAN.ID | LHOKSUKON – Sejumlah penyintas banjir masih bertahan di hunian sementara (huntara) di Desa Matang Bayu, Kecamatan Baktiya Barat, Kabupaten Aceh Utara, Minggu (19/4/2026). Namun, keterbatasan fasilitas membuat sebagian dari mereka memilih tidak menetap sepenuhnya di lokasi tersebut.
Di dalam huntara, hanya tersedia satu kasur, kipas angin, serta kompor tanpa tabung gas. Para penyintas mulai menempati hunian ini sejak Februari 2026, setelah rumah mereka hancur akibat banjir yang terjadi pada 26 November 2025.
Mengutip Kompas.com, kondisi fasilitas dasar juga memprihatinkan. Sejumlah toilet di belakang hunian dilaporkan longsor dan tidak dapat digunakan. Padahal, fasilitas tersebut sebelumnya dimanfaatkan untuk mandi dan mencuci.
“Lihatlah ke belakang, mana bisa kami tempati sekarang ini. Sedang dibangun toilet baru. Karena toilet yang dibangun itu longsor dan retak tanahnya,” ujar Zakaria, salah satu penyintas.
Akibat kondisi tersebut, warga harus mencari sumber air terdekat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Zakaria juga berharap pembangunan fasilitas air ke depan dapat lebih memadai.
“Debit airnya juga kecil sebelumnya. Pembangunan yang baru ini kami minta debitnya agar diperbesar. Biar cukup buat mandi,” ujarnya.
Selain persoalan air, kondisi huntara yang panas turut menjadi keluhan warga. “Panasnya luar biasa. Jadi tidak tahan saya pakai baju,” katanya.
Keluhan serupa disampaikan Habibah, seorang perempuan paruh baya yang memilih tidak tinggal di huntara karena ketiadaan air bersih. Ia mengaku lebih sering bermalam di rumah kerabatnya.
“Saya ini ibu satu-satunya, tidak punya anak. Bagaimana mau menetap di sini, air tidak ada,” katanya.
Setiap hari, Habibah datang ke huntara hanya pada siang hari, kemudian kembali ke rumah saudaranya di Desa Meunasah Tengoh, Kecamatan Baktiya, saat malam tiba.
“Pagi kalau ada teman atau tumpangan saya kemari sampai sore. Malamnya saya tidur di rumah saudara,” terangnya.
Selain keterbatasan fasilitas, ia juga mengaku belum lagi menerima bantuan bahan pangan. Bantuan lain seperti dana jatah hidup, pemulihan ekonomi, dan perlengkapan hunian juga belum diterimanya.
“Saya hidup dari belas kasihan orang. Kami semua memiliki tanah untuk dibangun hunian tetap. Tapi entah kapan dibangun,” ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Aceh Utara, Fakhrurradhi, mengatakan pihaknya akan kembali mengusulkan data penerima bantuan ke Kementerian Sosial RI.
“Bagi yang belum menerima bantuan, kita usulkan lagi pekan depan ke Kemensos RI. Semoga bisa segera menerima bantuan untuk seluruh penyintas banjir,” katanya.
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News



