Bukit Kerang, Jejak Peradaban Purba yang Terlupakan di Aceh Tamiang

Share

NUKILAN.ID | KUALA SIMPANG – Jika menelusuri jejak panjang evolusi manusia, berbagai temuan arkeologis menjadi bukti penting bagaimana manusia purba hidup dan berkembang. Salah satu situs yang menyimpan jejak tersebut di Indonesia adalah Bukit Kerang di Kabupaten Aceh Tamiang.

Dalam perspektif paleontologi, manusia modern atau Homo sapiens tidak hadir begitu saja, melainkan melalui proses evolusi panjang. Menyadur smithsonianmag.com (2/2/2021), salah satu nenek moyang manusia paling awal, Sahelanthropus, mulai menunjukkan transisi dari gerakan menyerupai kera sekitar enam juta tahun lalu. Sementara Homo sapiens baru muncul lebih dari lima juta tahun setelahnya.

Dalam rentang waktu tersebut, berbagai spesies manusia hidup, berevolusi, dan punah. Bukti perkembangan itu tidak hanya terlihat dari fosil, tetapi juga dari peralatan dan teknologi sederhana yang mereka tinggalkan.

Salah satu bukti penting aktivitas manusia purba di Nusantara dapat ditemukan di Bukit Kerang. Situs ini berlokasi di Lorong Pintu Air, Desa Mesjid, Sungai Iyu, Kecamatan Bendahara, Kabupaten Aceh Tamiang. Bukit Kerang telah ditetapkan sebagai cagar budaya sejak 1 Januari 1970 dengan nomor registrasi CB.5050.19700101.00211.

Secara fisik, situs ini berupa gundukan tanah dengan tinggi sekitar 4,5 meter dan berdiri di atas lahan seluas kurang-lebih 36 x 31 meter. Hingga kini, kondisinya masih relatif utuh dan berada di bawah pengelolaan BPCP Aceh, meski dikelilingi oleh area perkebunan kelapa sawit.

Bukit Kerang merupakan bukti konkret aktivitas manusia purba pada masa berburu dan meramu, sebelum manusia mengenal pertanian dan peternakan. Pada masa itu, manusia hidup secara nomaden dengan mengandalkan hasil buruan seperti rusa, kerbau, dan ikan, serta mengumpulkan bahan makanan dari alam.

Peralatan yang digunakan pun masih sangat sederhana, seperti kapak perimbas, alat serpih, hingga alat dari tulang. Alat-alat ini digunakan untuk memotong, berburu, hingga melindungi diri dari ancaman.

Para ahli menyebut Bukit Kerang sebagai kjokkenmoddinger, istilah dari bahasa Denmark yang berarti tumpukan sampah dapur. Dalam konteks ini, Bukit Kerang merupakan tumpukan sisa makanan berupa cangkang kerang yang dikonsumsi manusia purba pada masa Mesolitikum, sekitar 5.000 hingga 7.000 tahun lalu.

Dilansir dari acehnews.net (31/10/2014), Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Aceh Tamiang, Yetno, S.Pd., menyebut bahwa situs ini merupakan peninggalan manusia purba ras Mongoloid. Bahkan, Bukit Kerang diklaim sebagai salah satu situs kjokkenmoddinger yang masih utuh secara substansial di kawasan regional Asia Tenggara.

Keberadaan situs ini tidak hanya penting dari sisi sejarah, tetapi juga berpotensi menjadi destinasi wisata edukatif, khususnya bagi pelajar dan mahasiswa yang ingin mempelajari kehidupan manusia purba secara langsung.

Namun, di balik nilai historisnya, Bukit Kerang menghadapi ancaman serius. Aktivitas pengambilan fosil moluska untuk bahan baku kapur serta eksplorasi yang tidak terkontrol menyebabkan jumlah kerang semakin berkurang.

“Dulu, dari hasil penelitian para arkeolog, ketinggian Bukit Kerang dahulunya mencapai tujuh meter, namun kini semakin berkurang. Mengalami eksplorasi hingga ketinggiannya kini hanya sekitar tiga hingga empat meter saja,” tutur Yetno.

Kondisi ini menjadi peringatan penting akan perlunya perlindungan serius terhadap situs bersejarah tersebut. Tanpa upaya pelestarian, Bukit Kerang berisiko kehilangan nilai ilmiah dan historisnya.

Ke depan, keberadaan Bukit Kerang diharapkan tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat Aceh Tamiang, tetapi juga menjadi aset nasional yang bernilai tinggi. Dengan pengelolaan yang tepat, situs ini berpotensi memperkuat sektor pariwisata sekaligus menjadi sumber pembelajaran sejarah peradaban manusia di Indonesia.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

spot_img
spot_img

Read more

Local News