Tgk Sairul Bahri: Zakat Harus Melahirkan Muzakki Baru

Share

NUKILAN.ID | TAPAKTUAN – Podcast Kito Sahabat Zakat kembali menghadirkan diskusi inspiratif tentang peran zakat dalam membangun kemandirian umat. Pada episode kali ini, hadir Tgk. Sairul Bahri, S.Pd.I, Ketua Dewan Pengawas Baitul Mal Aceh Selatan yang juga dikenal sebagai pimpinan Dayah Raudhatussunnah Al Waliyyah di Gampong Durian Kawan, Kecamatan Kluet Timur.

Diskusi tersebut dipandu oleh Sepri Kurniadi, dosen Politeknik Aceh Selatan sekaligus Pengurus MPD Pemuda ICMI Aceh Selatan. Dalam pengantarnya, Sepri menyampaikan bahwa zakat bukan sekadar bantuan sesaat, melainkan kekuatan yang mampu mengubah kehidupan seseorang.

“Dari tangan yang menerima, menjadi tangan yang memberi. Dari yang dibantu, menjadi yang membantu. Inilah perjalanan kemuliaan dalam zakat,” ungkapnya.

Dalam pemaparannya, Tgk. Sairul Bahri menjelaskan bahwa konsep “Dari Mustahik Menuju Muzakki” merupakan tujuan ideal dalam sistem zakat Islam. Menurutnya, zakat tidak hanya berfungsi untuk meringankan beban sementara, tetapi juga sebagai instrumen untuk membangun kehidupan yang mandiri dan bermartabat.

“Zakat itu bukan untuk membuat seseorang terus bergantung, tetapi untuk mengangkat derajatnya. Ketika seorang mustahik mampu bangkit dan akhirnya menjadi muzakki, di situlah zakat telah bekerja secara sempurna,” jelasnya.

Ia menambahkan, Baitul Mal memiliki peran strategis dalam mendorong transformasi tersebut, tidak hanya melalui penyaluran bantuan konsumtif, tetapi juga melalui program pemberdayaan berkelanjutan. Program tersebut meliputi bantuan modal usaha, pelatihan keterampilan, pemberdayaan UMKM, hingga dukungan di bidang pendidikan.

Menurutnya, zakat produktif menjadi kunci dalam menciptakan perubahan jangka panjang. Dengan pengelolaan yang tepat, zakat dapat menjadi modal yang mampu menggerakkan ekonomi keluarga hingga komunitas.

“Zakat yang dikelola dengan baik akan melahirkan kekuatan ekonomi umat. Dari satu usaha kecil, bisa tumbuh harapan besar,” tambahnya.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa tantangan terbesar tidak hanya terletak pada aspek ekonomi, tetapi juga pada pola pikir dan mentalitas. Dibutuhkan semangat, kerja keras, serta keyakinan untuk keluar dari ketergantungan.

“Jangan pernah merasa cukup hanya sebagai penerima. Jadikan zakat sebagai pijakan untuk melangkah lebih tinggi. Bangkitlah, karena setiap usaha adalah jalan menuju perubahan,” pesannya.

Sebagai Ketua Dewan Pengawas, Tgk. Sairul Bahri juga menegaskan pentingnya transparansi, akuntabilitas, dan ketepatan sasaran dalam pengelolaan zakat. Ia menilai kepercayaan masyarakat menjadi fondasi utama dalam membangun sistem zakat yang kuat dan berkelanjutan.

Dalam pesannya kepada para mustahik, ia menyampaikan:
“Jangan merasa kecil karena menerima zakat. Itu adalah hak yang Allah berikan. Tetapi niatkan dalam hati, suatu hari nanti kita akan menjadi orang yang memberi. Karena sebaik-baik tangan adalah tangan yang di atas.”

Ia juga mengajak masyarakat Aceh Selatan untuk menyalurkan zakat dan infak melalui Baitul Mal agar pengelolaannya lebih terarah, merata, dan berdampak luas bagi kesejahteraan umat.

Menutup podcast, Sepri Kurniadi kembali menegaskan bahwa zakat bukan sekadar kewajiban yang ditunaikan, melainkan harapan yang ditumbuhkan untuk masa depan.

“Setiap rupiah zakat yang kita keluarkan bukan hanya membantu hari ini, tetapi menanam harapan untuk esok yang lebih baik. Zakat adalah jembatan perubahan, dari mustahik menuju muzakki,” tutupnya.

Melalui Podcast Kito Sahabat Zakat, Baitul Mal Aceh Selatan terus berkomitmen menghadirkan edukasi publik yang terbuka, transparan, dan inspiratif, sekaligus mengajak masyarakat membangun kekuatan zakat demi terwujudnya Aceh Selatan yang lebih peduli, produktif, dan madani. (XRQ)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

spot_img
spot_img

Read more

Local News