NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Penceramah sekaligus Pimpinan Dayah Babul Maghfirah, Ustaz Masrul Aidi, menyoroti penegakan syariat Islam di Aceh yang menurutnya masih cenderung menyasar kaum perempuan dibandingkan laki-laki.
Masrul menilai, perhatian terhadap penerapan syariat Islam selama ini lebih banyak diarahkan pada persoalan pakaian perempuan. Padahal, dalam kehidupan sehari-hari, masih ditemukan laki-laki yang tidak mengenakan pakaian sesuai ketentuan syariat.
Ia mencontohkan perempuan yang telah mengenakan pakaian syar’i seperti gamis, tetapi ketika dibonceng oleh laki-laki yang memakai celana pendek, baik suami maupun anaknya.
“Selama ini, kita cenderung hanya berfokus pada persoalan aurat perempuan, sementara laki-laki seolah-olah tidak memiliki kewajiban untuk tunduk pada aturan syariat. Hal ini mungkin terjadi karena adanya ego sentris, mengingat mayoritas pendakwah adalah laki-laki. Namun, dakwah yang disampaikan justru lebih sering menyasar kaum perempuan, bukan laki-laki,” kata Masrul dalam wawancara bersama Nukilan.id pada Senin (2/11/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut menimbulkan kesan seolah-olah penerapan syariat Islam hanya menjadi kewajiban perempuan. Meski terdapat pembatasan tertentu di ruang publik yang lebih ketat terhadap perempuan, bukan berarti laki-laki tidak memiliki kewajiban untuk menaati aturan syariat.
Masrul juga menyinggung persoalan kebiasaan bergosip yang selama ini kerap dilekatkan dengan perempuan. Padahal, menurutnya, laki-laki juga melakukan hal serupa, tetapi dalam perkembangan masyarakat, perilaku tersebut seolah menjadi identik dengan kaum perempuan.
“Para pendakwah yang tampil di ruang publik, terutama di atas panggung, rata-rata adalah laki-laki. Namun, tidak semuanya memahami syariat maupun esensi dakwah secara utuh. Ada pula yang sekadar menjadikan dakwah sebagai konten. Akibatnya, materi dakwah yang disampaikan kerap menyasar perempuan, sementara laki-laki justru kurang mendapat sorotan atau teguran yang sama,” kata Masrul.
Ia menjelaskan, kecenderungan menyalahkan pihak lain juga berkaitan dengan faktor psikologis manusia. Ketika seseorang berbicara dari sudut pandangnya sendiri, sering kali pihak lain yang dianggap sebagai sumber kesalahan.
Kecenderungan serupa, lanjutnya, juga dapat ditemukan dalam kehidupan keluarga, ketika seseorang lebih mudah menyalahkan keluarga lain dibandingkan melakukan evaluasi terhadap diri sendiri.
Masrul mengakui mengubah pola pikir tersebut bukan perkara mudah. Menurutnya, salah satu persoalan dalam aktivitas dakwah adalah masih banyak pendakwah yang belum menjadikan metodologi dakwah sebagai landasan dalam menyampaikan pesan keagamaan.
“Sulit rasanya untuk mengubah kecenderungan ini, karena rata-rata pendakwah itu tidak berangkat dari metodologi dakwah. Mereka berdakwah karena terampil berbicara dan dapat panggung,” pungkasnya.
Reporter: Tibrani
Editor: Akil
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News





