NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Program Studi Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Pemerintahan (FISIP), UIN Ar-Raniry Banda Aceh, bekerja sama dengan Refugee Research Centre (RRC) UIN Ar-Raniry menyelenggarakan International Guest Lecture dengan menghadirkan Abrar Ahmad sebagai narasumber. Kegiatan ini membahas dinamika pengungsi, kebijakan migrasi, dan pengalaman penanganan komunitas pengungsi di Australia dalam perspektif internasional.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk memperluas wawasan mengenai persoalan pengungsi melalui pemaparan yang menghubungkan kajian akademik dengan pengalaman praktis. Pembahasan mencakup sejarah migrasi ke Australia, perkembangan kebijakan penerimaan migran, dinamika masyarakat multikultural, serta tantangan yang dihadapi pengungsi dalam mengakses pekerjaan dan layanan sosial.
Dalam pemaparannya, Abrar Ahmad turut membagikan pengalamannya dalam pendampingan komunitas pengungsi Sudan Selatan di Australia. Pengalaman tersebut mencakup program pemberdayaan dan pengembangan keterampilan, termasuk inisiatif pembelajaran berenang bagi anak-anak dari keluarga pengungsi. Praktik tersebut menunjukkan bahwa penanganan pengungsi tidak hanya berkaitan dengan perlindungan awal, tetapi juga mencakup upaya mendukung keselamatan, akses terhadap layanan, dan partisipasi sosial.
Diskusi juga menyoroti bagaimana kebijakan migrasi dan pengungsi berkaitan dengan perubahan sosial serta dinamika politik di negara penerima. Pengalaman Australia memberikan gambaran mengenai hubungan antara kebijakan negara, persepsi masyarakat terhadap pendatang, dan tantangan integrasi pengungsi dalam kehidupan sosial.
Bagi kajian ilmu politik, isu pengungsi merupakan topik penting karena berkaitan langsung dengan kebijakan publik, kedaulatan negara, hubungan internasional, dan perlindungan hak asasi manusia. Kebijakan mengenai penerimaan dan penanganan pengungsi memperlihatkan bagaimana negara menjalankan kewenangannya dalam mengatur perbatasan sekaligus menghadapi tuntutan perlindungan kemanusiaan.
Isu ini juga relevan untuk memahami peran aktor nonnegara, seperti organisasi masyarakat sipil dan lembaga nonpemerintah, dalam melengkapi upaya pemerintah menangani persoalan pengungsi. Dengan demikian, mahasiswa ilmu politik dapat mempelajari bahwa proses kebijakan tidak hanya ditentukan oleh institusi negara, tetapi juga melibatkan interaksi antara berbagai aktor, kepentingan, dan kondisi sosial.
Penyelenggaraan International Guest Lecture ini menjadi bagian dari upaya memperluas perspektif internasional dalam pembelajaran ilmu politik di UIN Ar-Raniry. Pertukaran pengetahuan dengan narasumber yang memiliki pengalaman dalam isu pengungsi diharapkan dapat mendorong mahasiswa untuk mengembangkan pemahaman kritis terhadap persoalan politik kontemporer yang melampaui batas negara.
Kolaborasi Program Studi Ilmu Politik dan Refugee Research Centre UIN Ar-Raniry ini sekaligus membuka ruang bagi penguatan diskusi akademik dan pengembangan kajian mengenai migrasi, pengungsi, kebijakan publik, serta hubungan internasional. Melalui pendekatan yang menghubungkan teori dan praktik, kegiatan ini diharapkan dapat memperkaya proses pembelajaran dan mendorong pengembangan penelitian yang relevan dengan dinamika global.
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News





