NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Hutan mangrove di kawasan Tadu Raya, Kabupaten Nagan Raya, Aceh, menyimpan potensi pemanfaatan sebagai tanaman obat tradisional. Penelitian terbaru menemukan sembilan jenis tumbuhan mangrove yang telah dimanfaatkan masyarakat setempat untuk membantu mengatasi sejumlah keluhan kesehatan.
Peneliti Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Alin Fithor, menyebutkan sembilan jenis tumbuhan tersebut terdiri atas tujuh spesies mangrove sejati dan dua tumbuhan yang berasosiasi dengan ekosistem mangrove.
“Tumbuhan jenis mangrove sejati yaitu Avicennia marina, Bruguiera gymnorrhiza, Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Rhizophora stylosa, Sonneratia alba, dan Sonneratia caseolaris. Sedangkan tumbuhan yang berasosiasi dengan ekosistem mangrove yaitu Acanthus ilicifolius dan Nypa fruticans,” ungkap Alin pada Kamis, (22/10/2026).
Menurut Alin, pemanfaatan mangrove sebagai tanaman obat telah lama dikenal masyarakat setempat. Bagian tumbuhan yang paling banyak digunakan antara lain daun dan buah untuk membantu menangani berbagai gangguan kesehatan, mulai dari memar, luka bakar, cacar air, demam, diare, gatal-gatal, luka kulit, sakit perut, sariawan, hingga sakit gigi.
“Salah satu tanaman yang dimanfaatkan masyarakat adalah Rhizophora apiculata atau bakau. Masyarakat menggunakan bagian daun dan buahnya untuk membantu mengatasi sariawan, sakit gigi, dan luka. Sementara itu, Rhizophora mucronata dimanfaatkan untuk diare, sakit perut, dan luka pada kulit,” jelasnya.
Selain mendokumentasikan pemanfaatan tradisional, penelitian tersebut mengidentifikasi sejumlah senyawa bioaktif yang terkandung dalam tumbuhan mangrove. Senyawa yang ditemukan meliputi alkaloid, fenolik, steroid, terpenoid, flavonoid, dan saponin.
Senyawa-senyawa tersebut diketahui memiliki potensi aktivitas biologis, di antaranya sebagai antibakteri, antikanker, antidiabetes, antijamur, antiinflamasi, antitumor, dan antivirus. Namun, potensi tersebut belum serta-merta membuktikan bahwa tumbuhan mangrove dapat digunakan sebagai obat yang efektif secara medis.
“Meskipun demikian, kami membedakan tanaman obat tradisional dengan tanaman yang telah terbukti secara ilmiah memiliki khasiat medis. Oleh karena itu, potensi tanaman mangrove sebagai bahan obat masih membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk menguji efektivitas farmakologisnya,” terangnya.
Di samping potensi pemanfaatannya, penelitian ini juga mencatat tingkat keanekaragaman mangrove di Tadu Raya yang masih tergolong rendah. Pengamatan dilakukan pada tiga stasiun penelitian untuk mengidentifikasi komposisi vegetasi mangrove di kawasan tersebut.
“Indeks keanekaragaman pada tiga stasiun berada pada rentang 0,83 hingga 0,89. Rhizophora apiculata memiliki nilai penting tertinggi di stasiun 1 dan stasiun 2, sedangkan Rhizophora mucronata memiliki nilai penting tertinggi di stasiun 3,” jelas Alin.
Meski seluruh spesies yang ditemukan termasuk dalam kategori risiko rendah, keberadaan habitat mangrove tetap menghadapi ancaman. Aktivitas penebangan dan pembangunan di kawasan pesisir berpotensi mengurangi habitat serta mengganggu kelestarian ekosistem mangrove.
“Penelitian ini menyediakan dokumentasi dasar yang dapat mendukung pengelolaan mangrove, edukasi masyarakat, serta penelitian selanjutnya untuk memvalidasi efektivitas farmakologis dan memperkuat pemanfaatan mangrove secara berkelanjutan,” imbuh Alin.
Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa mangrove di Tadu Raya tidak hanya memiliki peran ekologis dalam mendukung ekosistem pesisir, tetapi juga berkaitan dengan pengetahuan tradisional masyarakat mengenai pemanfaatan tumbuhan untuk kesehatan. Pengetahuan tersebut dapat menjadi dasar penelitian lanjutan, terutama untuk menguji potensi medisnya sekaligus mendorong pelestarian mangrove secara berkelanjutan.
Penelitian berjudul Species Composition and Medicinal Uses of Mangrove Plants in Southwest Aceh, Indonesia tersebut telah diterbitkan dalam Biodiversitas Journal of Biological Diversity, Volume 27 Nomor 3, pada Maret 2026. Penelitian ini dilakukan oleh Alin Fithor, Wintah, Moh. Husein Sastranegara, dan Kiswanto. (xrq)
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News





