NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (UNAIR) memperkenalkan teknologi wafer complete feed (WCF) kepada peternak sapi di Aceh. Pelatihan pembuatan pakan tersebut diikuti 50 peternak dari Gampong Lubok Sukon, Kecamatan Ingin Jaya, Kabupaten Aceh Besar, pada Minggu (11/10/2026).
Dalam kegiatan ini, peternak juga mendapat pelatihan pembuatan silase untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak setelah banjir.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Pengembangan Desa Binaan (PPDB) UNAIR 2026 dengan tema “Pengembangan Desa Binaan Berbasis Pakan Probiotik dan Kesehatan Reproduksi Sapi Aceh untuk Ketahanan Pangan Pascabanjir”.
Pelestarian Plasma Nutfah Lokal
Ketua tim pelaksana, Prof Dr Mirni Lamid drh MP, menjelaskan bahwa pemilihan Aceh Besar sebagai lokasi program didasarkan pada dua pertimbangan. Pertama, sapi Aceh merupakan plasma nutfah lokal yang harus dijaga kelestariannya. Kedua, bencana banjir di sejumlah daerah di Aceh berdampak terhadap ketersediaan pakan ternak dan pangan asal hewan.
“Kami ingin hasil riset di laboratorium dimanfaatkan langsung oleh peternak. Bahan lokal yang selama ini terbuang dapat diolah menjadi pakan lengkap yang praktis dan tahan simpan,” kata Guru Besar Divisi Peternakan FKH UNAIR tersebut.
Dalam pelaksanaan program ini, Prof Mirni didampingi Dr Zulfi Nur Amrina Rosyada SPt MSi serta Prof Dr Mohammad Anam Al Arif drh MP, Guru Besar Laboratorium Makanan Ternak FKH UNAIR yang menjadi instruktur pembuatan WCF.
Tim juga melibatkan Prof Dr Erma Safitri drh MSi untuk menangani aspek reproduksi ternak dan Muhammad Browijoyo Santanumurti SPi MSc PhD dari Fakultas Perikanan dan Kelautan UNAIR untuk mendukung pendekatan One Health.
Kolaborasi dengan USK
Program ini dilaksanakan melalui kerja sama FKH UNAIR dengan Pusat Riset CENTROVETS-OHCC Universitas Syiah Kuala (USK) yang dipimpin Prof drh Teuku Reza Ferasyi MSc PhD.
Dua akademisi lulusan FKH UNAIR yang kini mengajar di FKH USK, yakni Dr Siti Rani Ayuti SPt MSi dan Dr drh Mudhita Zikkrullah Ritonga SKH MVet, turut mendampingi peternak sebagai mitra pelaksana. Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kemitraan FKH USK, Dr drh Amalia Sutriana, juga hadir dalam kegiatan tersebut.
Rangkaian kegiatan berlangsung selama dua hari. Pada Sabtu (10/10/2026), tim bersama Dr drh Mustafa Sabri MP, Dr drh Faisal Jamin MSi, dan drh Awaluddin MSi dari CENTROVETS-OHCC USK melakukan pemeriksaan kesehatan sapi milik Kelompok Ternak Sejahtera dan Kelompok Ternak Meufakat.
Ternak yang membutuhkan penanganan memperoleh obat, vitamin, dan obat cacing. drh Riyan Ferdian MSi dari FKH USK, yang juga menjabat Ketua Kelompok Ternak Meufakat, turut membantu proses penyuntikan sapi dan kambing. Sementara itu, Kelompok Ternak Sejahtera dipimpin oleh Amirul Azmi.
Foto: Tim FKH UNAIR bersama CENTROVETS-OHCC USK memeriksa sapi di kandang kelompok ternak mitra pada Sabtu (10/10/2026). (Foto: Istimewa)
Pada hari kedua, kegiatan dilanjutkan dengan penyuluhan dan praktik pembuatan pakan. Prof Anam menyampaikan materi mengenai WCF untuk ternak ruminansia. Selanjutnya, Prof Dr drh Erwin MSc dari CENTROVETS-OHCC USK memberikan materi tentang kesehatan sapi, kambing, dan domba. Adapun Prof Mirni menjelaskan pengelolaan pakan serta sistem perkandangan sapi potong.
Praktik Pembuatan Pakan dan Target Program
Dalam sesi praktik, peternak diperkenalkan dengan komposisi wafer pakan komplet yang terdiri atas 70 persen hay rumput dan 30 persen campuran bungkil kelapa, jagung giling, dedak padi, pollard, serta mineral. Tepung tapioka dan molases digunakan sebagai bahan perekat.
Bahan-bahan tersebut dicampur, kemudian dipadatkan menggunakan keranjang plastik, dipotong, dan dijemur sampai kering. Selain membuat WCF, peserta mempraktikkan pembuatan silase rumput dan fermentasi jerami padi dengan bantuan probiotik EM4 peternakan.
Kedua metode pengolahan pakan tersebut dipilih karena menggunakan peralatan sederhana sehingga relatif mudah diterapkan kembali oleh kelompok peternak.
Kegiatan ini dibuka oleh Keuchik Gampong Lubok Sukon, Drs Mahyadi SH, bersama Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Besar, drh Adekurniawan Addy. Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan, drh Uzir SPt MSi, turut menyaksikan praktik pembuatan pakan.
PPDB UNAIR 2026 menetapkan sejumlah indikator keberhasilan untuk tahun pertama. Sedikitnya 80 persen peserta ditargetkan mampu membuat WCF secara mandiri, hasil post-test diharapkan meningkat minimal 30 persen, dan 70 persen bahan baku pakan ditargetkan berasal dari sumber daya lokal.
Memasuki tahun kedua, program akan diarahkan pada pengembangan usaha dan hilirisasi produk. Tahap tersebut mencakup pembentukan unit produksi, pengembangan bank pakan, serta penyiapan kemasan dan strategi pemasaran WCF.
Program ini turut mendukung lima tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu SDG 2, SDG 3, SDG 8, SDG 12, dan SDG 15. Dukungan tersebut diwujudkan melalui penyediaan cadangan pakan ternak, peningkatan kesehatan ternak dengan pendekatan One Health, pengembangan peluang usaha pakan, pemanfaatan limbah pertanian, serta pelestarian sapi Aceh sebagai sumber daya genetik lokal.
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News





