NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Pembelajaran Pendidikan Pancasila di SMP Negeri 1 Banda Aceh berlangsung dengan suasana berbeda. Peserta didik kelas IX tidak hanya duduk mendengarkan penjelasan guru, tetapi diajak bergerak, berdiskusi, menjawab pertanyaan, dan menyusun strategi melalui permainan Monopoli Pendidikan Pancasila.
Inovasi pembelajaran tersebut merupakan bagian dari Projek Kepemimpinan PPG Prajabatan FKIP Universitas Syiah Kuala yang dilaksanakan pada 3 September 2026 di SMP Negeri 1 Banda Aceh. Proyek ini dibimbing oleh Dr. Amiruddin, S.Pd., M.Si. dan mendapat pendampingan langsung dari Guru Pamong, Rahmadani Fitri, S.Pd.
Monopoli Pendidikan Pancasila dirancang sebagai media pembelajaran yang menggabungkan permainan dengan penguatan materi Pendidikan Pancasila. Media utama berupa papan permainan berukuran 3 × 3 meter, dilengkapi dadu, pion, dan 75 kartu soal yang mencakup lima materi utama, yaitu Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, serta Hak dan Kewajiban Warga Negara.
Dalam permainan, peserta didik dibagi ke dalam kelompok. Setiap kelompok secara bergiliran melempar dadu dan menggerakkan pion. Ketika pion berhenti pada petak pertanyaan, kelompok mendapatkan tantangan yang harus dijawab melalui diskusi bersama.
Tidak berhenti pada aktivitas bermain, peserta didik dituntut untuk memahami pertanyaan, mengemukakan pendapat, mendengarkan anggota kelompok, menentukan jawaban, serta mengambil keputusan bersama. Dengan demikian, permainan menjadi ruang bagi peserta didik untuk belajar sekaligus mempraktikkan keterampilan sosial dan kewarganegaraan.
Kolaborasi Mahasiswa PPG dan Guru Pamong
Di balik pelaksanaan permainan tersebut terdapat proses kolaborasi mahasiswa PPG yang dilakukan sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan. Mahasiswa terlibat dalam merancang konsep permainan, menyusun kartu soal, mendesain dan memproduksi media, melakukan uji coba, hingga melaksanakan pembelajaran di kelas.
Pembagian tugas dalam tim menjadi pengalaman nyata bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan kepemimpinan, komunikasi, kreativitas, kolaborasi, pengambilan keputusan, dan pemecahan masalah.
Guru Pamong, Rahmadani Fitri, S.Pd., turut memberikan arahan dan pendampingan selama proses pelaksanaan. Selain mendukung penerapan media di kelas, Guru Pamong juga melakukan pengamatan dan penilaian terhadap pelaksanaan proyek.
Respons Positif Peserta Didik
Penggunaan Monopoli Pendidikan Pancasila mendapatkan respons positif dari peserta didik. Berdasarkan hasil angket, media memperoleh persentase respons sebesar 89,06%, sementara aspek keaktifan peserta didik mencapai 100%.
Penilaian Guru Pamong terhadap proyek juga memperoleh nilai 95,83 dengan kategori Sangat Baik.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa permainan edukatif dapat menjadi salah satu alternatif dalam menghadirkan pembelajaran Pendidikan Pancasila yang lebih aktif dan menyenangkan. Peserta didik tidak hanya memperoleh kesempatan untuk mengingat kembali materi, tetapi juga belajar berkomunikasi, bekerja sama, menghargai pendapat, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab terhadap kelompok.
Pancasila Tidak Hanya Dipelajari, tetapi Dialami
Proyek Monopoli Pendidikan Pancasila menunjukkan bahwa inovasi pembelajaran tidak selalu harus bergantung pada teknologi digital. Media sederhana yang dirancang secara kreatif dapat menjadi sarana untuk menciptakan pengalaman belajar yang bermakna.
Bagi mahasiswa PPG, proyek ini juga menjadi pengalaman kepemimpinan yang mempertemukan perencanaan, kreativitas, kolaborasi, pelaksanaan, dan evaluasi dalam situasi pembelajaran nyata.
Sementara bagi peserta didik, permainan menjadi ruang untuk mengalami pembelajaran Pendidikan Pancasila secara langsung.
Monopoli Pendidikan Pancasila bukan sekadar permainan. Melalui permainan, peserta didik belajar bahwa Pancasila bukan hanya untuk dihafalkan, tetapi untuk dipahami, dipraktikkan, dan diwujudkan melalui sikap bekerja sama, bertanggung jawab, menghargai perbedaan, serta mengambil keputusan bersama.
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News





