NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Tidak ada titik panas (hotspot) yang terdeteksi di wilayah Aceh hingga Kamis (10/9/2026) pukul 17.00 WIB berdasarkan pemantauan satelit Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Sultan Iskandar Muda, Dedi, mengatakan hasil pemantauan hingga sore hari belum menunjukkan adanya titik panas di wilayah Aceh.
“Sampai jam 17.00 WIB belum terpantau titik panas wilayah Aceh,” kata Dedi kepada Nukilan, Kamis (10/9/2026).
Data tersebut tercantum dalam Peta Sebaran Titik Panas (Hotspot Map) BMKG untuk wilayah Aceh dengan periode pemantauan 10 September 2026 pukul 00.00 hingga 17.00 WIB. Dalam peta tersebut, jumlah titik panas berdasarkan tingkat kepercayaan (confidence) rendah, sedang, maupun tinggi tercatat nol.
Pemantauan dilakukan menggunakan data dari satelit Terra, Aqua, Suomi NPP (S-NPP), dan NOAA-20. Data tersebut menjadi salah satu instrumen BMKG untuk memantau indikasi awal keberadaan titik panas yang berpotensi berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Meski hingga sore belum terpantau hotspot, kondisi tersebut tidak serta-merta menghilangkan kebutuhan untuk melakukan pemantauan di lapangan. Deteksi satelit merupakan bagian dari sistem pemantauan dan tidak dapat secara langsung menggambarkan seluruh kondisi kebakaran di suatu wilayah.
Pemantauan secara berkala diperlukan untuk melihat perubahan kondisi dan mengantisipasi kemungkinan munculnya titik panas baru, terutama di wilayah yang memiliki potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
Dengan hasil pemantauan hingga pukul 17.00 WIB, untuk sementara Aceh tercatat nihil titik panas pada seluruh kategori tingkat kepercayaan yang dipantau BMKG. []
Reporter: Sammy

