NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Keterbatasan lahan di kawasan perkotaan tidak menghalangi masyarakat untuk mengembangkan pertanian. Universitas Syiah Kuala (USK) melalui program pemberdayaan masyarakat mendorong warga Gampong Ie Masen Kayee Adang, Kota Banda Aceh, mengembangkan pertanian terpadu dengan memanfaatkan pekarangan dan teknologi sederhana.
Program bertajuk “Pengembangan Sistem Pertanian Terpadu Berbasis Kearifan Lokal untuk Penguatan Kemandirian Ekonomi Gampong Ie Masen Kayee Adang” tersebut didanai melalui sumber dana PTNBH Universitas Syiah Kuala.
Pengembangan program dilakukan dengan melihat sejumlah persoalan di tingkat masyarakat, seperti keterbatasan lahan produksi, belum maksimalnya pengolahan limbah organik rumah tangga, pemasaran produk yang masih terbatas, serta kelembagaan kelompok masyarakat yang belum terhubung dalam sebuah sistem usaha terpadu.
Untuk menjawab persoalan tersebut, tim USK memperkenalkan konsep urban farming melalui pemanfaatan lahan pekarangan dan instalasi hidroponik. Warga mendapat pelatihan mengenai seluruh tahapan budidaya, mulai dari penyemaian, penanaman, pemeliharaan, pengelolaan nutrisi, pengendalian hama dan penyakit, hingga panen.
Ketua tim pelaksana, Ira Manyamsari, S.P., M.Si., mengatakan pertanian di wilayah perkotaan perlu dikembangkan dengan menyesuaikan kondisi lahan yang tersedia.
“Lahan yang terbatas bukan berarti masyarakat tidak dapat menghasilkan pangan. Dengan teknologi hidroponik dan optimalisasi pekarangan, ruang-ruang yang sebelumnya tidak produktif dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan sayuran sekaligus menjadi bagian dari kegiatan ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Hidroponik Menjadi Demplot Pembelajaran Warga
Salah satu kegiatan utama dalam program tersebut adalah pembangunan satu unit instalasi hidroponik yang difungsikan sebagai lokasi pembelajaran sekaligus demplot bagi masyarakat.
Tidak hanya menyediakan instalasi, tim USK juga memberikan pendampingan kepada warga agar mampu mengoperasikan dan mengembangkan hidroponik secara mandiri. Materi yang diberikan mencakup teknik budidaya, pengelolaan nutrisi, perawatan tanaman, pengendalian hama dan penyakit, hingga proses panen.
Program tersebut menargetkan 80 persen peserta dapat melakukan budidaya hidroponik secara mandiri setelah mengikuti rangkaian pelatihan dan pendampingan.
Instalasi yang dibangun juga dilengkapi panduan dan standar operasional prosedur (SOP) budidaya. Penyediaan panduan tersebut diharapkan membuat pengetahuan yang diperoleh warga dapat terus digunakan meski program pendampingan telah selesai.
Limbah Organik Dimanfaatkan untuk Mendukung Pertanian
Pengelolaan limbah rumah tangga menjadi bagian lain dari sistem pertanian yang dikembangkan USK.
Tim memperkenalkan pengolahan limbah organik rumah tangga menjadi kompos dan pupuk organik cair (POC). Selama ini, limbah organik yang dihasilkan rumah tangga belum seluruhnya dimanfaatkan dan sebagian masih berakhir sebagai sampah.
Melalui pelatihan dan praktik langsung, masyarakat diperkenalkan dengan teknik pengolahan menggunakan komposter sederhana.
Kegiatan tersebut diarahkan untuk membentuk satu kelompok pengolah limbah yang aktif, memiliki peralatan komposter, serta mampu menghasilkan kompos dan POC secara mandiri. Kelompok tersebut juga dibekali modul pelatihan sebagai panduan dalam menjalankan kegiatan.
Produk yang dihasilkan dari pengolahan limbah kemudian dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan hidroponik dan pertanian pekarangan. Dengan pola tersebut, pengelolaan sampah organik tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari rantai produksi pangan masyarakat.
Produk Pertanian Didorong Masuk Pasar Digital
Tim USK juga menempatkan aspek pemasaran sebagai bagian dari pengembangan program. Kemampuan masyarakat menghasilkan produk pertanian dinilai perlu dibarengi dengan kemampuan mengemas dan memasarkannya.
Karena itu, warga mendapatkan pelatihan mengenai branding, desain kemasan, penyusunan katalog, hingga pemasaran melalui platform digital.
Program tersebut menargetkan terbentuknya satu unit usaha yang aktif memanfaatkan kanal digital, memiliki akun marketplace, desain kemasan, serta katalog produk. Pengembangan kanal pemasaran tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan penjualan produk masyarakat.
Dengan demikian, kegiatan pertanian tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga, tetapi juga memiliki peluang berkembang menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat.
Melibatkan Dosen dari Berbagai Bidang
Pelaksanaan program di Gampong Ie Masen Kayee Adang melibatkan dosen USK dari sejumlah bidang keilmuan.
Ira Manyamsari, S.P., M.Si. dari Program Studi Agribisnis bertindak sebagai koordinator program. Selain mengoordinasikan kegiatan, ia terlibat dalam pengadaan peralatan hidroponik, pelatihan branding dan kemasan, serta pengembangan pemasaran digital.
Sementara itu, Dr. Ir. Elly Kesumawati, M.Agric.Sc. dari Program Studi Agroteknologi memberikan pelatihan dan demonstrasi mengenai teknik budidaya hidroponik. Materi mencakup tahapan penyiapan alat hingga proses panen.
Adapun Dr. Ir. Manfarizah, M.Si. dari Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan memberikan penyuluhan dan demonstrasi mengenai pembuatan POC serta pestisida nabati.
Keterlibatan berbagai bidang keilmuan tersebut ditujukan untuk membangun satu sistem yang menghubungkan produksi pangan, pengolahan limbah, pemanfaatan pupuk organik, pengembangan usaha, pemasaran, hingga penguatan kelembagaan masyarakat.
Ditargetkan Menjadi Model Pertanian Terpadu Gampong
Selain aspek teknis, program ini turut menekankan penguatan kelembagaan masyarakat. Pendampingan diberikan untuk membangun kelompok usaha yang dapat mengelola kegiatan pertanian secara bersama dan berkelanjutan.
Target akhirnya adalah terbentuknya satu kelompok yang aktif dan mandiri, lengkap dengan dokumen model gampong binaan serta SOP kelembagaan.
Melalui model tersebut, Gampong Ie Masen Kayee Adang diharapkan tidak sekadar memiliki instalasi hidroponik, tetapi juga mampu menjalankan sistem pertanian terpadu yang menghubungkan pemanfaatan pekarangan, produksi sayuran, pengolahan limbah organik, penggunaan pupuk organik, pengembangan usaha, dan pemasaran digital.
Program ini sekaligus menunjukkan bahwa keterbatasan lahan di kawasan perkotaan dapat disiasati melalui teknologi pertanian yang sesuai, pemanfaatan ruang yang tersedia, serta penguatan kapasitas masyarakat.
USK melalui kegiatan tersebut terus mendorong peran perguruan tinggi dalam menerapkan pengetahuan dan teknologi yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat di tingkat lokal.
Tim pelaksana menyampaikan terima kasih kepada Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Syiah Kuala atas dukungan terhadap pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat melalui sumber dana PTNBH Universitas Syiah Kuala.

