Turis Asing Keluhkan Banyak Sampah di Lokasi Wisata, Tonicko Anggara Kembali Semprot Dispar Aceh Selatan

Share

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Aktivis pariwisata Aceh, Tonicko Anggara, kembali melontarkan kritik terhadap kinerja Dinas Pariwisata Aceh Selatan. Kritik tersebut muncul setelah dirinya dan beberapa pemuda lainnya mendampingi wisatawan asal Swiss mengunjungi beberapa destinasi wisata di Aceh Selatan pada Minggu 7 Juni 2026.

Kepada Nukilan.id, Tonicko menceritakan bahwa kunjungan diawali dengan aktivitas berselancar di kawasan pantai Surfing Cafe Samadua, Aceh Selatan yang dikenal memiliki ombak menarik bagi peselancar.

Setelah itu, rombongan melanjutkan perjalanan ke kawasan Pasir Putih yang berada di perbatasan Kecamatan Samadua dan Kecamatan Sawang untuk menikmati panorama matahari terbenam.

Namun, pesona alam Aceh Selatan yang memikat justru ternoda oleh persoalan kebersihan yang belum tertangani secara optimal.

“Saya merasa malu ketika membawa wisatawan asing ke sana. Tempatnya indah, pemandangannya luar biasa, tetapi sampah plastik berserakan di mana-mana,” kata Tonicko pada Selasa (9/6/2026).

Menurutnya, wisatawan asing yang ikut dalam perjalanan tersebut juga menyampaikan kesan serupa. Mereka mengapresiasi keindahan alam Aceh Selatan, tetapi menyoroti banyaknya sampah yang ditemukan di sejumlah lokasi wisata.

“Turis itu mengatakan Aceh Selatan bagus, pantainya indah, tetapi banyak sampah dan kurang terawat. Ini tentu menjadi catatan yang memalukan bagi daerah yang ingin mengembangkan sektor pariwisata,” ujarnya.

Tonicko menilai persoalan tersebut tidak bisa dilepaskan dari peran Dinas Pariwisata sebagai sektor yang bertanggung jawab mengoordinasikan pengembangan destinasi wisata.

Meski mengakui bahwa urusan kebersihan bukan sepenuhnya tugas Dinas Pariwisata, ia menilai kepala dinas harus mampu membangun koordinasi lintas sektor dengan instansi terkait.

“Masalah sampah memang bukan hanya tanggung jawab Dinas Pariwisata. Tetapi kepala dinas seharusnya bisa membangun komunikasi dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan, atau pihak terkait lainnya agar kawasan wisata tetap bersih dan nyaman,” katanya.

Lebih lanjut, Tonicko mempertanyakan perhatian Dinas Pariwisata terhadap kondisi destinasi yang selama ini menjadi salah satu lokasi favorit masyarakat menikmati matahari terbenam di kawasan Pasir Putih tersebut.

Ia menilai sulit dipercaya apabila pejabat terkait tidak pernah melihat langsung kondisi kawasan tersebut yang dipenuhi sampah.

“Mustahil rasanya Pak Kadis atau jajarannya tidak pernah melihat kondisi itu. Pertanyaannya, apakah tidak merasa risih ketika melihat sampah berserakan di lokasi tersebut?” ujar Toniko.

Selain persoalan kebersihan, Tonicko juga menyoroti minimnya dukungan transportasi bagi wisatawan yang ingin mengunjungi destinasi wisata di Aceh Selatan. Berdasarkan pengakuan wisatawan asing yang didampinginya, mereka kesulitan memperoleh informasi transportasi untuk menjangkau sejumlah lokasi wisata.

Menurut dia, kondisi tersebut seharusnya menjadi perhatian serius pemerintah daerah melalui Dinas Pariwisata. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah menjalin koordinasi dengan Dinas Perhubungan untuk menyediakan pusat informasi atau layanan hotline yang memuat daftar penyedia jasa transportasi lokal yang siap mengantarkan wisatawan ke berbagai destinasi wisata.

“Setidaknya ada nomor yang bisa dihubungi wisatawan ketika membutuhkan kendaraan menuju lokasi wisata. Dengan begitu, mereka tidak kesulitan mencari transportasi sendiri,” ujarnya.

Tak hanya itu, Tonicko juga menilai pengembangan pariwisata membutuhkan sinergi dengan berbagai instansi, termasuk sektor infrastruktur. Menurutnya, koordinasi dengan dinas teknis seperti Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang sangat diperlukan untuk memastikan akses jalan menuju objek wisata dalam kondisi baik.

“Pariwisata tidak bisa berjalan sendiri. Perlu kolaborasi lintas sektor agar destinasi wisata benar-benar siap menerima kunjungan wisatawan,” katanya.

Menurutnya, kritik yang disampaikan bukan bertujuan menjatuhkan pihak tertentu, melainkan sebagai bentuk kepedulian terhadap masa depan pariwisata Aceh Selatan. Ia berharap pemerintah daerah segera melakukan evaluasi dan memperkuat koordinasi lintas sektor agar persoalan kebersihan, aksesibilitas, dan fasilitas wisata dapat ditangani secara serius.

“Kalau ingin pariwisata Aceh Selatan maju, semua pihak harus bergerak bersama. Jangan sampai wisatawan datang membawa kesan buruk hanya karena persoalan yang sebenarnya bisa diselesaikan,” katanya. (XRQ)

Anda dapat menyiarkan ulang, menulis ulang, dan atau menyalin konten ini dengan mencantumkan sumber NUKILAN.ID

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

spot_img
spot_img

Read more

Local News