Tenaga Kesehatan di Aceh Mulai Diimunisasi Campak-Rubella

Share

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Pemerintah Aceh mulai melaksanakan pemberian imunisasi campak rubella (MR) bagi tenaga medis dan tenaga kesehatan sebagai langkah strategis menekan lonjakan kasus campak yang masih tinggi di daerah tersebut.

Peluncuran program ini dilakukan oleh Pemerintah Aceh yang diwakili Asisten I Sekda Aceh, Drs. Syakir, M.Si, di Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUDZA), Banda Aceh, Rabu (22/04/2026). Kegiatan ini turut dihadiri Direktur RSUDZA Dr. Muhazar H, SKM, M.Kes serta Plt. Kepala Dinas Kesehatan Aceh, Ferdiyus, SKM, M.Kes.

Pemberian imunisasi campak rubella ini menyasar tenaga medis, tenaga kesehatan, dokter umum, hingga dokter gigi yang sedang menjalani program internship. Selain itu, seluruh tenaga kesehatan yang bekerja di fasilitas pelayanan kesehatan, baik rumah sakit daerah, rumah sakit pusat, hingga fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) di seluruh Indonesia diwajibkan menerima imunisasi ini.

“Seluruh tenaga kesehatan yang bekerja di fasilitas kesehatan, baik itu RSU Daerah maupun Rumah sakit umum pusat, sampai dengan FKTP yang ada di seluruh Indonesia wajib untuk mendapatkan imunisasi Campak Rubella”, sebut Ferdiyus.

Ia menjelaskan, kebijakan tersebut merupakan tindak lanjut dari Surat Edaran Kementerian Kesehatan terkait pemberian imunisasi campak bagi tenaga kesehatan.

Ferdiyus menegaskan, tenaga kesehatan merupakan kelompok dengan risiko tinggi terpapar penyakit karena setiap hari berhadapan langsung dengan pasien dalam waktu yang panjang. Oleh karena itu, imunisasi menjadi langkah penting untuk melindungi tenaga kesehatan sekaligus mencegah penularan di fasilitas layanan kesehatan.

“Kami sangat mengharapkan partisipasi aktif seluruh tenaga medis dan tenaga kesehatan, sekaligus menjadi teladan bagi masyarakat dalam upaya pencegahan penyakit melalui imunisasi”, sebut Ferdiyus.

Ia menambahkan, tenaga kesehatan diharapkan tidak hanya terlindungi, tetapi juga menjadi agen edukasi di tengah masyarakat, terutama di puskesmas dan wilayah desa.

“Kita ingin nakes, khususnya di puskesmas dan bidan desa, menjadi agen edukasi di tengah masyarakat,” katanya.

Ferdiyus mengungkapkan, kasus campak di Aceh masih tergolong tinggi dan tersebar di seluruh kabupaten/kota. Sepanjang tahun 2025, tercatat sebanyak 5.063 kasus campak klinis, dengan 1.233 kasus terkonfirmasi positif campak dan enam kasus rubella berdasarkan pemeriksaan laboratorium.

Lima daerah dengan jumlah kasus tertinggi yakni Aceh Besar, Bireuen, Pidie, Aceh Barat Daya, dan Banda Aceh.

Sementara itu, hingga Maret 2026, Dinas Kesehatan Aceh mencatat 724 kasus campak klinis, dengan 124 kasus positif campak dan satu kasus rubella. Aceh Besar masih menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi.

“Sebagian besar pasien, khususnya dari Aceh Besar dan Banda Aceh, dirawat di RSUD Zainoel Abidin,” ujarnya.

Ia juga menyebut tingginya kasus campak berkorelasi dengan rendahnya cakupan imunisasi di Aceh dalam lima tahun terakhir. Pada 2025, cakupan imunisasi dasar lengkap hanya mencapai 34,3 persen. Sementara itu, cakupan imunisasi MR pada bayi sebesar 39,9 persen dan pada anak bawah dua tahun (baduta) hanya 23 persen.

Menurutnya, pelaksanaan program imunisasi di Aceh masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan cakupan layanan, kualitas pelayanan, sistem pencatatan dan pelaporan, hingga adanya penolakan dari sebagian masyarakat.

Pemerintah Aceh berharap melalui program ini, risiko penularan di fasilitas pelayanan kesehatan dapat ditekan sekaligus mendorong peningkatan cakupan imunisasi di masyarakat secara luas.

Sementara itu, Asisten Pemerintahan, Keistimewaan, dan Kesejahteraan Rakyat Sekda Aceh, Drs. Syakir, M.Si, menyebut vaksinasi ini sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam menjaga keselamatan tenaga kesehatan.

“Diperlukan sinergi semua pihak, terutama tenaga kesehatan, agar program imunisasi ini berjalan maksimal,” ujarnya.

Ia juga mendorong seluruh kabupaten/kota di Aceh untuk segera mengikuti langkah tersebut, mengingat capaian imunisasi yang masih rendah di tengah meningkatnya kasus campak.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

spot_img
spot_img

Read more

Local News