NUKILAN.ID | LHOKSEUMAWE – Pema Global Energi (PGE) berhasil melaksanakan lifting perdana kondensat dari Wilayah Kerja (WK) B pada awal Juli 2026 setelah operasional sempat terganggu akibat kebakaran tangki run down serta bencana banjir dan longsor di Aceh.
Sebanyak 95.483,33 barel kondensat dikirim menggunakan kapal MT Double Seven menuju Kilang TPPI Tuban untuk memenuhi kebutuhan energi nasional. Volume tersebut terdiri atas 90.000 barel realisasi Proforma Lifting (PPL) Juni 2026 dan 5.483,33 barel lifting periode Juli 2026.
Keberhasilan tersebut menjadi tonggak penting bagi PGE dalam memulihkan kegiatan operasional WK B sekaligus memastikan produksi dan penyaluran kondensat kembali berjalan setelah terdampak gangguan pada fasilitas penyimpanan.
Selama proses pengapalan, tim operasi menghadapi sejumlah tantangan teknis, termasuk penyesuaian draft kapal dengan kondisi terminal. Berkat koordinasi antara PGE, BPMA, pengelola terminal, awak kapal, surveyor, dan seluruh pihak terkait, proses pemuatan dapat diselesaikan dengan aman.
Pengawas Lifting BPMA, Ikhwanushafa Djailani, mengatakan seluruh kendala berhasil diatasi melalui kerja sama yang solid.
“Melalui koordinasi yang baik antara BPMA, Pema Global Energi, pengelola terminal, awak kapal, surveyor, dan seluruh pihak yang terlibat, seluruh kendala dapat diselesaikan dengan cepat sehingga proses pemuatan berlangsung aman, tanpa insiden, dan sesuai prosedur operasi,” ungkapnya.
PGE bersama BPMA juga telah menyiapkan berbagai langkah operasional untuk memastikan target lifting WK B tahun 2026 tetap dapat dicapai meski fasilitas utama masih dalam proses pemulihan.
Kepala Divisi Operasi Produksi BPMA, Ibnu Hafizh, mengatakan skenario jangka pendek yang disusun pascakebakaran kini mulai membuahkan hasil.
“Lifting ini merupakan titik awal pemenuhan target lifting WK B tahun 2026. Solusi short-term yang telah disiapkan kini berhasil direalisasikan, dan kami berharap skenario lanjutan dapat segera diterapkan agar target lifting tahun ini tetap tercapai,” jelasnya.
Sementara itu, Deputi Operasi BPMA, Muhammad Mulyawan, menilai keberhasilan lifting perdana menunjukkan kemampuan seluruh pihak, termasuk PGE sebagai operator, dalam menjaga keberlangsungan operasi di tengah situasi yang penuh tantangan.
“Lifting perdana ini sangat penting karena menandai kembali normalnya penyaluran kondensat setelah gangguan akibat kebakaran fasilitas dan bencana banjir serta longsor. BPMA akan terus mendukung percepatan pemulihan fasilitas agar target lifting 2026 dapat dicapai,” pungkasnya.
PGE terus berkoordinasi dengan BPMA untuk menjalankan berbagai skenario operasional lanjutan guna menjaga kesinambungan produksi hingga akhir tahun. Keberhasilan lifting perdana ini diharapkan menjadi momentum pemulihan penuh kegiatan hulu migas di WK B sekaligus memperkuat kontribusi Aceh terhadap ketahanan energi nasional. (XRQ)
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News









