NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan diare mulai mengancam ribuan warga terdampak banjir di Kabupaten Aceh Tamiang. Kondisi lingkungan yang belum pulih setelah bencana menjadi faktor utama meningkatnya risiko penyebaran penyakit di kalangan pengungsi maupun masyarakat yang telah kembali ke rumah.
Masalah kesehatan tersebut muncul seiring terganggunya akses air bersih dan rusaknya sistem sanitasi di sejumlah kawasan terdampak. Warga di pengungsian maupun di permukiman yang masih dipenuhi sisa banjir dilaporkan mengalami keluhan kesehatan yang hampir seragam.
Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan RI, penyakit yang paling banyak dikeluhkan warga di Desa Sekumur, Aceh Tamiang, meliputi ISPA, diare, dan infeksi kulit. Kondisi ini dipicu oleh menurunnya kualitas lingkungan setelah banjir, termasuk munculnya debu dari lumpur yang mengering.
Lingkungan pascabencana dinilai menjadi tempat yang mendukung berkembangnya berbagai agen penyakit seperti bakteri, virus, dan jamur. Saat genangan air surut, lumpur yang tertinggal akan mengering dan berubah menjadi partikel debu halus yang mudah terbawa angin.
Debu tersebut berpotensi membawa mikroorganisme serta berbagai material asing yang dapat terhirup masyarakat. Akibatnya, risiko peradangan saluran pernapasan meningkat, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak dan lanjut usia.
Di sisi lain, sumber air minum warga juga menghadapi risiko pencemaran. Banyak sumur dan jaringan air bersih terkontaminasi material yang terbawa banjir, termasuk kotoran dan bakteri penyebab penyakit. Kondisi ini menjadi salah satu faktor utama meningkatnya kasus gangguan pencernaan, khususnya diare.
Situasi di lokasi pengungsian turut memperbesar risiko penularan penyakit. Keterbatasan fasilitas sanitasi seperti toilet dan tempat pembuangan sampah, ditambah tingginya kepadatan penghuni posko, membuat penerapan kebersihan pribadi menjadi lebih sulit dilakukan.
Bencana banjir tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik pada bangunan dan infrastruktur, tetapi juga meninggalkan ancaman kesehatan lingkungan yang berpotensi berkembang menjadi wabah apabila tidak ditangani secara serius.
Dampak Luas dan Kerusakan Fasilitas Kesehatan
Selain memengaruhi kesehatan masyarakat, banjir juga merusak berbagai fasilitas kesehatan yang menjadi penopang pelayanan medis di wilayah terdampak. Kerusakan tersebut membuat upaya penanganan penyakit pascabencana menjadi semakin berat.
Data sementara menunjukkan sebanyak 288.311 jiwa atau 80.919 keluarga terdampak bencana. Dampak tersebut menjangkau 444 gampong yang tersebar di 24 kecamatan. Sementara itu, terdapat 20.537 warga yang masih berada di 52 titik pengungsian.
Di sektor kesehatan, tercatat 41 fasilitas kesehatan mengalami kerusakan. Dari jumlah tersebut, lima puskesmas mengalami kerusakan berat hingga tidak dapat beroperasi sama sekali.
Puskesmas yang mengalami kerusakan paling parah berada di wilayah Kecamatan Lokop, Serbajadi, Peunaron, Ranto Pereulak, Pante Bidari, dan Matang Pudeng. Kerusakan ini berdampak langsung terhadap akses layanan kesehatan masyarakat di daerah terdampak.
Upaya Tanggap Darurat
Untuk menekan risiko meningkatnya kasus penyakit, berbagai pihak mulai menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada masyarakat terdampak. Bantuan tersebut mencakup operasional dapur umum serta distribusi suplemen bagi warga yang berada di pengungsian.
Tim medis dari berbagai instansi, termasuk unsur Polri, terus menjangkau daerah terdampak menggunakan kendaraan khusus maupun perahu karet. Selain memberikan layanan kesehatan, petugas juga memberikan dukungan psikologis kepada warga yang mengalami trauma akibat bencana.
Langkah pencegahan turut dilakukan dengan membersihkan fasilitas umum dan menyiram jalan yang mulai berdebu guna mengurangi risiko gangguan pernapasan akibat paparan partikel lumpur kering.
Beberapa langkah penanganan darurat yang dilakukan antara lain:
- Mendirikan posko kesehatan darurat yang beroperasi selama 24 jam di sekitar lokasi pengungsian.
- Menyalurkan air bersih siap konsumsi dan cairan disinfektan untuk kebutuhan sanitasi warga.
- Melaksanakan fogging sebagai langkah antisipasi peningkatan kasus demam berdarah setelah banjir.
Imbauan bagi Warga
Masyarakat diminta tetap waspada terhadap gejala penyakit yang muncul pascabanjir. Menjaga kebersihan diri menjadi langkah penting untuk mencegah penularan penyakit, termasuk membiasakan mencuci tangan menggunakan sabun sebelum makan dan setelah menggunakan toilet.
Warga juga dianjurkan menggunakan masker saat beraktivitas di area yang berdebu guna mengurangi risiko gangguan pernapasan. Sementara untuk kebutuhan konsumsi, air minum sebaiknya dimasak hingga mendidih dan makanan dijaga tetap bersih serta tertutup.
Bagi warga yang mengalami gejala seperti demam, batuk, atau diare, dianjurkan segera mendapatkan penanganan medis. Konsumsi oralit atau larutan gula garam dapat membantu mencegah dehidrasi pada penderita diare sebelum memperoleh perawatan lebih lanjut.
Penanganan dampak kesehatan pascabanjir membutuhkan kerja sama berbagai pihak secara berkelanjutan. Pemulihan fasilitas kesehatan, perbaikan sanitasi, serta penyediaan akses air bersih menjadi faktor penting untuk mencegah munculnya kejadian luar biasa (KLB) penyakit menular di masa mendatang. Tanpa langkah tersebut, risiko penyebaran penyakit akan tetap menjadi ancaman bagi masyarakat setiap kali bencana banjir kembali terjadi.
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

