Utang Luar Negeri Indonesia Capai 444,4 Miliar Dolar AS pada Mei 2026, Pertumbuhan Tetap Terkendali

Share

NUKILAN.ID | JAKARTA — Posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Mei 2026 tercatat sebesar 444,4 miliar dolar AS. Secara tahunan, nilai tersebut tumbuh 2,1 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada April 2026 yang mencapai 2,0 persen.

Peningkatan ULN dipengaruhi oleh pertumbuhan utang sektor publik yang meliputi pemerintah dan Bank Indonesia, di tengah kontraksi utang luar negeri swasta yang mulai mereda.

Dilansir Nukilan dari laporan Bank Indonesia, Posisi ULN pemerintah pada Mei 2026 mencapai 217,3 miliar dolar AS atau tumbuh 3,7 persen secara tahunan, relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya. Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh aliran dana ke Surat Berharga Negara (SBN) internasional, yang mencerminkan masih terjaganya kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia.

Di sisi lain, pemerintah tetap melakukan pembayaran pokok dan bunga utang luar negeri yang jatuh tempo serta menegaskan komitmen mengelola utang secara pruden, terukur, dan fleksibel. Pemanfaatan ULN juga terus diarahkan untuk mendukung pembiayaan sektor-sektor produktif melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Berdasarkan penggunaannya, porsi terbesar ULN pemerintah dialokasikan untuk sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 22 persen dari total utang pemerintah. Selanjutnya, administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib sebesar 20,6 persen, jasa pendidikan 16,2 persen, konstruksi 11,5 persen, serta transportasi dan pergudangan 8,5 persen. Mayoritas utang pemerintah merupakan pinjaman berjangka panjang.

Sementara itu, peningkatan utang luar negeri Bank Indonesia didorong oleh bertambahnya kepemilikan investor nonresiden pada instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), sejalan dengan kebijakan operasi moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Di sektor swasta, posisi ULN tercatat sebesar 195,9 miliar dolar AS atau masih mengalami kontraksi 0,1 persen secara tahunan. Meski demikian, kontraksi tersebut lebih rendah dibandingkan April 2026 yang mencapai 0,5 persen.

Perbaikan tersebut terutama dipengaruhi oleh menurunnya kontraksi utang kelompok lembaga keuangan yang tercatat sebesar 0,8 persen, jauh lebih rendah dibandingkan kontraksi 5,0 persen pada bulan sebelumnya.

Kontribusi terbesar ULN swasta berasal dari sektor industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan dan penggalian. Keempat sektor tersebut menyumbang 79,9 persen dari total utang luar negeri swasta. Sama seperti pemerintah, utang swasta juga masih didominasi oleh pinjaman berjangka panjang dengan pangsa 74,9 persen.

Secara keseluruhan, struktur utang luar negeri Indonesia dinilai tetap sehat. Rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada Mei 2026 tercatat sebesar 29,9 persen, dengan 83,9 persen dari total utang merupakan utang berjangka panjang.

Bank Indonesia dan pemerintah menyatakan akan terus memperkuat koordinasi dalam memantau perkembangan utang luar negeri guna menjaga stabilitas ekonomi. Pengelolaan ULN juga akan terus diarahkan untuk mendukung pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dengan tetap memperhatikan aspek kehati-hatian dan pengendalian risiko. []

Reporter: Sammy

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Read more

Local News