Keindahan alam nusantara. Potensi sumber daya alam Indonesia hutan dan pemanfaatannya agar Indonesia menjadi negara maju.(KLHK)
NUKILAN.id | Banda Aceh – Akademisi Universitas Serambi Mekah, Banda Aceh, TM Zulfikar, menegaskan bahwa menjaga kualitas kawasan hutan menjadi langkah penting untuk mencegah bencana banjir di Provinsi Aceh.
Menurut Zulfikar, hutan yang terjaga memiliki kemampuan alami untuk menyerap air dan mengurangi risiko banjir.
“Akar pohon di hutan mampu menyerap air dan menyimpan air hujan, sehingga mengurangi aliran ke permukaan yang berpotensi menyebabkan banjir,” ujarnya di Banda Aceh, Senin (25/11/2024).
Mantan Direktur Eksekutif Daerah Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Aceh ini menyebutkan bahwa Aceh sedang memasuki musim hujan dengan intensitas yang bervariasi. Kondisi ini, lanjutnya, memerlukan kesiapsiagaan semua pihak, terutama masyarakat yang tinggal di sepanjang daerah aliran sungai (DAS).
“Hutan yang berkualitas juga berfungsi sebagai penyaring alami. Hal ini memperlambat aliran air hujan menuju sungai, sehingga mengurangi debit air yang berpotensi meluap,” kata Zulfikar.
Ia menambahkan bahwa beberapa wilayah di Aceh kini menjadi langganan banjir akibat berkurangnya kualitas kawasan hutan. Perambahan hutan yang masif dan alih fungsi lahan turut menjadi faktor utama kerusakan hutan.
“Hutan yang sehat menjaga ekosistem dan mengatur siklus hidrologi. Jika kerusakan hutan dibiarkan, risiko banjir akan semakin sulit dikendalikan,” tambahnya.
Zulfikar mengusulkan solusi jangka panjang berupa rehabilitasi atau reforestasi kawasan hutan yang rusak. Untuk solusi jangka pendek, langkah tegas diperlukan untuk menghentikan perambahan hutan serta praktik tambang ilegal di kawasan hutan lindung.
“Yang terpenting saat ini adalah memastikan tidak ada aktivitas penambangan dan alih fungsi lahan di kawasan hutan lindung. Jika hal ini dilakukan, kita bisa menjaga kualitas hutan yang tersisa dan mengurangi risiko banjir,” tegasnya.
Dalam menghadapi musim hujan, Zulfikar mengimbau masyarakat Aceh untuk berperan aktif meminimalkan risiko bencana. Ia juga mendorong pemerintah dan pemangku kepentingan untuk memperkuat pengawasan dan penegakan hukum terhadap perusakan hutan.
“Bencana banjir bukan hanya masalah alam, tetapi juga akibat ulah manusia. Jika kita tidak bertindak bersama-sama, ancaman ini akan terus berulang,” pungkasnya.
NUKILAN.id | Banda Aceh – Museum Aceh mengumumkan bahwa pihaknya akan menutup sementara pintu gerbangnya untuk pengunjung pada tanggal 27 November 2024. Penutupan ini dilakukan sebagai bagian dari persiapan dan pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Aceh.
“Sebagai bagian dari komitmen terhadap kelancaran Pilkada dan mengutamakan kenyamanan bersama, kami memutuskan untuk menutup sementara Museum Aceh pada tanggal 27 November,” dalam pengumuman yang disampaikan melalui akun resmi Instagram @museum.aceh dan Disbudpar Aceh.
Bagi pengunjung yang telah berencana mengunjungi, pihak museum mengimbau untuk menjadwalkan kunjungan mereka setelah tanggal 27 November. Museum Aceh akan kembali membuka pintunya pada 28 November 2024 dengan jam operasional normal.
Pengumuman ini diharapkan dapat memberi informasi yang jelas kepada masyarakat, sekaligus menghimbau untuk pengaturan kunjungan yang lebih lancar pasca-pelaksanaan Pilkada.
Bagi masyarakat yang ingin mengeksplorasi warisan sejarah dan budaya Aceh, Museum Aceh tetap menjadi salah satu destinasi penting yang menawarkan beragam koleksi yang mencerminkan kekayaan sejarah daerah ini.
NUKILAN.id | Jakarta – Program Beasiswa Fulbright 2025 kini resmi dibuka untuk jenjang S2 dan S3. Beasiswa bergengsi dari Pemerintah Amerika Serikat yang dikelola oleh AMINEF (American Indonesian Exchange Foundation) ini menawarkan berbagai kemudahan bagi pelamar, termasuk tanpa memerlukan Letter of Acceptance (LoA) dan esai. Tak hanya itu, program ini juga tidak memiliki batas usia.
Melalui beasiswa ini, penerima akan mendapatkan pendanaan penuh meliputi biaya kuliah, uang saku bulanan, hingga biaya perjalanan dan asuransi kesehatan. Pendaftaran untuk program ini akan berlangsung hingga 15 Februari 2025.
Persyaratan Umum Beasiswa Fulbright 2025
Calon pelamar harus memenuhi persyaratan berikut:
Merupakan warga negara Indonesia, bukan penduduk tetap atau warga negara Amerika Serikat, dan tidak sedang tinggal di Amerika Serikat.
Memiliki kualitas kepemimpinan serta pengalaman dalam pelayanan masyarakat.
Memiliki persiapan dan komitmen yang terbukti pada bidang studi yang dipilih.
Mahir berbahasa Inggris.
Memiliki performa akademik sangat baik.
Menunjukkan kemampuan untuk menyelesaikan studi penuh waktu di Amerika Serikat.
Berkomitmen untuk kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan studi.
Bersedia bekerja setidaknya lima tahun sebelum pensiun setelah menyelesaikan program beasiswa.
Persyaratan Khusus
Untuk S2:
Memiliki gelar S1 dengan IPK minimal 3,0 (skala 4,0).
Program ini memberikan peluang besar bagi warga Indonesia untuk menempuh pendidikan di universitas-universitas terkemuka di Amerika Serikat. Jangan lewatkan kesempatan ini!
Pengerajin di Mutiara Songket, Aceh Besar. (Foto: Dok. Pemkab Aceh Besar)
NUKILAN.id | Feature – Di sebuah sudut pedesaan Aceh, ketika matahari pagi mulai memanjakan bumi dengan cahayanya yang lembut, seorang perempuan tua bernama Mak Salma duduk di depan alat tenunnya. Tangan-tangannya yang keriput, namun cekatan, menari di antara benang-benang warna-warni, menciptakan pola-pola indah yang bercerita tentang tradisi, cinta, dan harapan.
Tenun songket Aceh bukan sekadar kain; ia adalah kanvas yang merekam sejarah dan keindahan alam. Setiap helai benangnya membawa kisah yang tak tertulis, sebuah warisan yang dirajut dengan dedikasi dan seni yang mendalam.
Kerajinan tenun songket Aceh berakar jauh ke masa lalu. Ia lahir dari persilangan budaya yang kaya, hasil pertemuan bangsa Melayu, Arab, dan India di jalur perdagangan yang melintasi Serambi Mekkah. Pola dan tekniknya mencerminkan harmoni dari pengaruh-pengaruh tersebut, tetapi tetap memancarkan identitas khas Aceh.
Mak Salma, seorang penenun yang telah mengabdikan dirinya selama lebih dari lima dekade, berkata, “Songket ini bukan hanya kain, tetapi juga kehidupan. Dalam setiap pola, ada doa. Dalam setiap warna, ada harapan.”
Songket Aceh biasanya terbuat dari benang sutra atau katun yang ditenun dengan tambahan benang emas atau perak. Pola-pola geometris dan motif flora, seperti pucuk rebung atau bunga melati, menjadi ciri khasnya. Tidak hanya indah, kain ini juga memiliki makna filosofis yang dalam, mencerminkan hubungan manusia dengan alam dan Sang Pencipta.
Proses yang Penuh Kesabaran
Menyaksikan proses pembuatan songket Aceh adalah seperti menyelami meditasi yang tenang namun penuh kesungguhan. Mak Salma mengundangku ke rumahnya, sebuah bangunan kayu sederhana yang dihiasi dengan alat tenun tradisional.
“Setiap kain membutuhkan waktu berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan untuk selesai,” katanya sambil mulai merangkai benang pada alat tenunnya.
Tahapan pertama adalah pemintalan benang, yang harus dilakukan dengan hati-hati agar hasilnya rata dan kuat. Setelah itu, benang diwarnai dengan pewarna alami yang diekstrak dari tumbuhan lokal, seperti daun nila untuk warna biru atau kulit kayu mahoni untuk warna cokelat.
“Aroma daun-daun ini mengingatkanku pada hutan di masa kecil,” ujar Mak Salma sambil tersenyum kecil.
Proses menenun dimulai setelah benang siap. Mak Salma menunjukkan bagaimana ia menyisipkan benang emas di antara dasar kain, menciptakan pola-pola indah yang menyerupai lukisan. Setiap sisipan membutuhkan perhatian penuh, karena satu kesalahan kecil bisa merusak seluruh desain.
Pesan di Balik Setiap Motif
Songket Aceh.
Setelah berjam-jam menenun, sebuah motif mulai terbentuk. Mak Salma menjelaskan bahwa motif itu adalah Pucuk Rebung, simbol pertumbuhan dan harapan.
“Motif ini sering digunakan dalam acara pernikahan,” katanya. “Ia melambangkan harapan agar pasangan baru selalu tumbuh bersama dalam cinta dan kebahagiaan.”
Ada pula motif bunga Jeumpa (Cempaka), bunga khas Aceh yang melambangkan kesucian dan keindahan. Songket dengan motif ini sering dipakai dalam upacara adat atau keagamaan, sebagai bentuk penghormatan kepada tradisi.
Setiap motif memiliki maknanya sendiri, dan para penenun seperti Mak Salma belajar memaknainya sejak kecil. Mereka percaya bahwa kain songket bukan hanya keindahan fisik, tetapi juga medium untuk menyampaikan doa dan harapan.
Songket dalam Kehidupan Masyarakat Aceh
Songket Aceh memainkan peran penting dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Ia sering digunakan dalam upacara adat, pernikahan, dan perayaan keagamaan. Kain ini melambangkan status sosial dan kehormatan, sehingga sering diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya sebagai benda pusaka.
Di sebuah acara adat yang aku hadiri di Aceh Besar, aku melihat bagaimana songket menjadi pusat perhatian. Para perempuan mengenakan kain ini dengan anggun, melilitkannya di pinggang atau menjadikannya selendang. Warnanya yang cerah dan pola yang rumit menambah keagungan setiap gerakan mereka.
Namun, tidak semua orang memiliki kesempatan untuk menggunakan songket. Di masa lalu, hanya kaum bangsawan yang bisa memesan kain ini, karena harga dan proses pembuatannya yang mahal. Kini, meskipun sudah lebih terjangkau, songket tetap dianggap sebagai barang mewah yang memancarkan prestise.
Tantangan di Era Modern
Meski indah dan penuh makna, kerajinan tenun songket Aceh menghadapi tantangan besar di era modern. Banyak generasi muda yang lebih tertarik pada pakaian siap pakai atau kain impor yang lebih murah.
“Kadang, saya merasa sedih,” kata Mak Salma dengan nada lirih. “Anak-anak sekarang tidak mau belajar menenun. Mereka bilang itu terlalu sulit dan memakan waktu.”
Selain itu, maraknya produksi massal juga mengancam keberlangsungan songket tradisional. Mesin modern mampu menghasilkan kain dengan motif serupa dalam waktu singkat, meskipun tanpa sentuhan seni dan makna yang mendalam.
Namun, di tengah tantangan ini, ada harapan. Beberapa komunitas dan pemerintah lokal mulai menggalakkan pelatihan menenun bagi generasi muda. Festival dan pameran juga sering diadakan untuk memperkenalkan keindahan songket Aceh kepada dunia.
Membawa Songket ke Dunia Internasional
Usaha melestarikan songket tidak hanya dilakukan di dalam negeri. Beberapa desainer muda Aceh mencoba membawa kain ini ke panggung mode internasional. Mereka menggabungkan pola tradisional dengan desain modern, menciptakan busana yang menarik perhatian global.
“Saya ingin dunia tahu bahwa songket Aceh adalah karya seni yang luar biasa,” kata Faisal, seorang desainer lokal yang telah memamerkan koleksi songketnya di luar negeri.
Upaya ini tidak hanya membantu mempromosikan songket, tetapi juga memberikan penghasilan tambahan bagi para penenun seperti Mak Salma.
Keindahan yang Abadi
Saat matahari mulai tenggelam di ufuk barat, Mak Salma menyelesaikan sesi menenunnya. Ia menunjukkan padaku selembar kain yang hampir selesai—songket berwarna merah marun dengan pola bunga Jeumpa.
“Ini adalah doa saya untuk cucu saya,” katanya. “Semoga ia tumbuh menjadi orang yang kuat dan penuh cinta.”
Kain itu bukan hanya selembar kain. Ia adalah karya seni, sebuah cerita, dan sebuah harapan yang dirajut dalam harmoni warna dan benang.
Dalam keheningan sore itu, aku menyadari bahwa tenun songket Aceh bukan sekadar tradisi yang indah. Ia adalah cerminan jiwa masyarakatnya—sederhana tetapi penuh makna, halus tetapi kuat, berakar pada masa lalu tetapi tetap relevan untuk masa depan.
Songket Aceh, dengan semua keindahannya, adalah pengingat bahwa di tengah dunia yang berubah cepat, ada nilai-nilai yang tetap abadi. Dan selama ada tangan-tangan seperti Mak Salma yang setia menenun, harmoni warna dalam setiap benang itu akan terus bercerita, menyampaikan pesan cinta dari tanah Aceh kepada dunia.
Kantor Panwaslih Aceh, Banda Aceh. (Foto: Nukilan/Rezi)
NUKILAN.id | Banda Aceh – Langkah Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslih) Aceh dinilai gegabah setelah menyatakan Ketua Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh memenuhi unsur pelanggaran pemilu. Panwaslih pun berencana meneruskan dugaan tersebut ke Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilihan Umum (DKPP) Republik Indonesia.
“Panwaslih harusnya memeriksa setiap pengaduan dengan cermat, termasuk melibatkan Gakkumdu. Tidak bisa jalan sendiri. Ini kesalahan prosedural yang fatal. Kami akan segera laporkan Panwaslih ke DKPP,” ujar Aryos Nivada dari JSI Pantau Pilkada 2024, Senin (25/11/2024).
Selain itu, Aryos menyoroti ketidakhadiran Panwaslih dalam debat ketiga Pilkada Aceh. Ia menyebut, absennya komisioner Panwaslih menjadi salah satu bukti kelalaian mereka dalam menjalankan tugas.
“Kalau mereka hadir, pasti tahu konteks kekisruhan yang terjadi. Panwaslih seharusnya bisa ambil bagian dalam mediasi sehingga memahami bahwa yang disampaikan Ketua KIP Aceh, Agusni, adalah poin-poin hasil mediasi agar debat dapat kembali berlangsung,” katanya.
JSI Pantau Pilkada 2024 bahkan mencurigai Panwaslih bekerja tidak profesional dan terkesan memihak. Menurut Aryos, Panwaslih terkesan menguntungkan salah satu pasangan calon sambil melepaskan tanggung jawab kepada DKPP.
“Jika Panwaslih bekerja sesuai prosedur, melibatkan para ahli, dan tidak meninggalkan Gakkumdu, potret keadaan yang utuh pasti dapat terwujud,” tambah Aryos.
Sebagai lembaga pemantau Pilkada 2024, JSI Pantau Pilkada menyatakan akan terus mengawal semua proses yang berpotensi mencederai demokrasi.
“Jangan coba-coba mencederai demokrasi dengan praktik tidak profesional,” tegas Aryos.
Potret sejumlah pemimpin dunia dalam KTT Iklim COP29 di Baku, Azerbaijan. (Foto: COP29 BAKU)
NUKILAN.id | Baku – Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Iklim COP29 di Baku, Azerbaijan, resmi berakhir pada Minggu (24/11/2024) dini hari. Setelah melalui perpanjangan waktu, negara-negara peserta akhirnya menyepakati pendanaan sebesar 300 miliar dolar AS per tahun mulai 2035 untuk membantu negara miskin dan berkembang mengatasi dampak perubahan iklim.
Namun, meski mendapat tepuk tangan dari sebagian delegasi, kesepakatan ini menuai kritik tajam. Banyak perwakilan negara miskin dan berkembang merasa jumlah tersebut jauh dari memadai untuk menghadapi krisis iklim global.
“Saya menyesal mengatakan bahwa dokumen ini tidak lebih dari sekadar ilusi,” ujar Chandni Raina, perwakilan delegasi India, dalam pidatonya di sesi penutupan KTT. Ia menambahkan, angka tersebut tidak akan cukup untuk mengatasi tantangan yang terus meningkat akibat perubahan iklim.
Negosiasi yang Sulit
Negosiasi COP29 awalnya berlangsung hampir dua pekan, dengan usulan awal negara-negara kaya menaikkan komitmen dari 100 miliar dolar AS menjadi 250 miliar dolar AS per tahun pada 2035. Namun, usulan itu ditolak oleh negara-negara berkembang yang menilai angka tersebut sangat kecil dibandingkan dengan kontribusi historis negara maju terhadap emisi global.
Menurut data United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), 23 negara maju dan Uni Eropa secara historis bertanggung jawab atas sebagian besar emisi yang memicu pemanasan global. Oleh karena itu, mereka diwajibkan berkontribusi lebih besar dalam pendanaan iklim.
Negosiasi sempat terhenti pada Sabtu (23/11/2024), setelah beberapa delegasi dari negara berkembang dan kepulauan melakukan walk out akibat frustrasi. AS dan Uni Eropa juga mendorong agar negara berkembang kaya, seperti China dan negara-negara Teluk, ikut berkontribusi dalam pendanaan ini.
Pada akhirnya, kesepakatan dicapai dengan komitmen pendanaan sebesar 300 miliar dolar AS per tahun. Namun, kesepakatan ini tidak diiringi langkah konkret untuk mempercepat transisi energi dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan, sebagaimana dijanjikan dalam KTT sebelumnya.
Gelombang Kekecewaan
Menteri Iklim Sierra Leone, Jiwoh Abdulai, menyebut hasil COP29 menunjukkan minimnya niat baik dari negara-negara kaya untuk mendukung negara termiskin menghadapi krisis iklim.
“Kami merasa ditinggalkan,” ujar Abdulai.
Utusan Nigeria, Nkiruka Maduekwe, bahkan menilai kesepakatan tersebut sebagai bentuk penghinaan. Hal senada diungkapkan Utusan Kepulauan Marshall, Tina Stege, yang menyebut hasil COP29 hanya membawa sedikit dari yang diperjuangkan negaranya.
“Ini tidak cukup, tetapi setidaknya ini adalah awal,” tutur Stege.
Dengan berakhirnya COP29, tekanan kini meningkat bagi negara-negara kaya untuk memenuhi komitmen tersebut secara penuh dan tepat waktu, sebagaimana diingatkan Simon Stiell, Sekretaris Eksekutif UNFCCC.
“Kesepakatan ini akan terus mengembangkan ledakan energi bersih dan melindungi miliaran jiwa,” tegas Stiell.
Namun, bagi banyak negara miskin dan berkembang, perjalanan menuju keadilan iklim masih panjang dan penuh tantangan.
NUKILAN.id | Jakarta – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kini menyediakan beasiswa Program Degree By Research (DBR) untuk jenjang S2 dan S3. Program ini terbuka bagi aparatur sipil negara (ASN) maupun non-ASN.
Berbeda dengan beasiswa lainnya, seperti LPDP, program DBR dirancang untuk mendukung penerimanya tetap bekerja dan berkontribusi di Indonesia selama masa studi.
“Negara ini harus memberikan opsi bahwa putra-putri terbaik Indonesia memiliki kesempatan untuk berkiprah sesuai bidang, kepakaran, dan passion-nya,” ujar Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko, dalam acara Anugerah Talenta Unggul Habibie Prize 2024 yang disiarkan di YouTube BRIN Indonesia pada Senin (11/11/2024).
Perbedaan Filosofi dengan LPDP
Beasiswa LPDP non-ASN sebelumnya dikenal tidak mengharuskan penerimanya kembali ke Indonesia usai menyelesaikan studi. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Satryo Soemantri Brodjonegoro, menjelaskan bahwa pemerintah memahami tantangan dalam menyediakan lapangan kerja bagi lulusan bergelar tinggi di dalam negeri.
“Kami kasih waktu untuk terusin di sana cari pengalaman, perdalam lagi ilmunya. Kasihan dia nanti, ilmunya tinggi, di sini tidak ada wadahnya. Yang penting Merah Putih. Suatu hari siapa tahu ada peraih Nobel orang Indonesia,” ungkap Satryo.
Sebaliknya, program DBR BRIN memberi perhatian lebih pada potensi karier penerima beasiswa di Indonesia. Program ini diharapkan dapat membantu lulusan memanfaatkan kepakaran mereka untuk kemajuan dalam negeri.
Masa Studi dan Proses Pendaftaran
Masa studi program DBR jenjang S2 maksimal empat semester, sedangkan jenjang S3 hingga enam semester. Program ini juga menawarkan fleksibilitas karena dilaksanakan secara daring, sehingga penerima dapat mengatur studi dan pekerjaan secara bersamaan.
Calon peserta dapat mendaftar melalui situs byresearch.brin.go.id dengan melampirkan surat pengantar dari kepala satuan kerja masing-masing.
Program ini menjadi peluang besar bagi talenta Indonesia untuk mengembangkan diri sekaligus berkontribusi pada pembangunan bangsa.
UIN Jakarta Buka Pendaftaran S2 dan S3 untuk Semester Genap 2024/2025. (Foto: KOMPAS.COM)
NUKILAN.id | Jakarta – Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta kembali membuka pendaftaran mahasiswa baru untuk program Magister (S2) dan Doktor (S3) pada semester genap tahun akademik 2024/2025. Proses pendaftaran yang dimulai sejak 10 September 2024 ini akan berlangsung hingga 30 Desember 2024 mendatang.
Pendaftaran dilakukan secara daring melalui laman resmi universitas di spmb.uinjkt.ac.id. Perkuliahan dijadwalkan dimulai pada 17 Februari 2025.
Pilihan Program Studi
UIN Jakarta menawarkan beragam program studi yang mencakup berbagai bidang keilmuan, baik keislaman maupun ilmu pengetahuan umum. Pada jenjang Magister (S2), pilihan program studi meliputi:
Pendidikan Agama Islam
Pendidikan Bahasa Arab
Manajemen Pendidikan Islam
Pendidikan Bahasa Inggris
Bahasa dan Sastra Arab
Sejarah dan Kebudayaan Islam
Studi Agama-Agama
Aqidah dan Filsafat Islam
Ilmu Alqur’an dan Tafsir
Hukum Keluarga (Ahwal Syakhshiyyah)
Hukum Ekonomi Syariah
Perbankan Syariah
Ekonomi Syariah
Komunikasi dan Penyiaran Islam
Manajemen Dakwah
Sosiologi
Ilmu Politik
Pengkajian Islam
Teknologi Informasi
Psikologi
Agribisnis
Untuk jenjang Doktor (S3), tersedia tiga program unggulan, yaitu:
Doktor Pendidikan Agama Islam
Doktor Perbankan Syariah
Doktor Pengkajian Islam
Komitmen Pendidikan Berkualitas
Kepala Pusat Informasi dan Humas UIN Jakarta, Zaenal Muttaqin, menjelaskan bahwa pendaftaran ini merupakan upaya universitas untuk terus menyediakan akses pendidikan tinggi yang berkualitas.
“Dengan banyaknya program yang kami tawarkan, calon mahasiswa memiliki banyak pilihan untuk menyesuaikan dengan minat dan kebutuhan mereka,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik UIN Jakarta, Prof. Dr. Ahmad Tholabi Kharlie, menyebutkan adanya penambahan program baru, seperti Magister Teknologi Informasi di Fakultas Sains dan Teknologi (FST), untuk memenuhi kebutuhan zaman.
“Pada semester lalu, kami juga membuka Program Magister Ilmu Politik dan Magister Ilmu Sosiologi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP),” ungkap Prof. Ahmad.
Calon mahasiswa yang berminat dapat mengakses informasi lebih lanjut melalui laman resmi UIN Jakarta atau kanal informasi yang tersedia.
NUKILAN.id | Banda Aceh – Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Aceh mengingatkan seluruh lembaga penyiaran televisi dan radio di Provinsi Aceh untuk mematuhi aturan terkait siaran selama masa tenang Pilkada Serentak 2024 yang berlangsung pada 24-26 November 2024.
Hal tersebut disampaikan oleh Ketua KPI Aceh, Muhammad Harun, S.HI, melalui Koordinator Bidang Pengawasan Isi Siaran, Murdeli, SH, pada Jumat (22/11/2024). Ia menjelaskan bahwa aturan tersebut tertuang dalam Surat Edaran KPI Pusat Nomor 6 Tahun 2024 dan Surat Edaran KPI Aceh Nomor 001 Tahun 2024.
“Supaya pelaksanaan pilkada berjalan jujur dan adil, lembaga penyiaran harus mematuhi aturan yang ditetapkan terkait siaran yang berkaitan dengan pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota di Aceh,” tegas Murdeli.
Larangan Siaran Kampanye
Menurut Murdeli, selama masa tenang, lembaga penyiaran dilarang menayangkan liputan jurnalistik mengenai kegiatan kampanye atau aktivitas peserta pemilu, termasuk narasi yang mendukung, memojokkan, menghasut, atau memfitnah para peserta pilkada.
“Tidak diperbolehkan memproduksi program acara bertema pandangan politik, visi misi, rekam jejak, atau aktivitas peserta pemilu,” ujarnya.
Selain itu, iklan atau siaran yang menampilkan rekam jejak partai, pasangan calon, atau tim kampanye juga dilarang, termasuk tayangan ulang debat publik atau jajak pendapat.
Pengaturan Hitung Cepat
Murdeli menambahkan, lembaga penyiaran hanya diperbolehkan menayangkan hasil hitung cepat dua jam setelah pemungutan suara selesai di wilayah Indonesia bagian barat. Hasil survei atau hitung cepat yang disiarkan harus mencantumkan bahwa data tersebut bukan merupakan hasil resmi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) atau Komisi Independen Pemilihan (KIP).
“Lembaga survei yang hasilnya ditayangkan juga harus terdaftar di KPU sesuai cakupan wilayah,” jelasnya.
Pengawasan Bersama
KPI Aceh berharap lembaga penyiaran di Aceh dapat mematuhi aturan tersebut demi mendukung pelaksanaan pilkada yang jujur dan adil. Masyarakat juga diimbau untuk turut mengawasi dan melaporkan apabila terjadi pelanggaran.
“Kami mengajak masyarakat dan semua pihak untuk melaporkan jika ada pelanggaran oleh lembaga penyiaran,” tutup Murdeli.
Pilkada Serentak 2024 menjadi momen penting bagi masyarakat Aceh untuk memilih pemimpin terbaik, dengan harapan seluruh pihak mematuhi aturan yang berlaku demi terciptanya pemilu yang damai dan transparan.
NUKILAN.id | Banda Aceh – Proses distribusi logistik Pilkada 2024 di Aceh telah berjalan sejak 25 November 2024. Namun, hingga kini, Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh masih menunggu 1.810 surat suara untuk pemilihan gubernur dan wakil gubernur yang sedang dalam perjalanan dari Cikarang, Jawa Barat.
“Semua jenis logistik untuk seluruh tempat pemungutan suara (TPS) sudah dalam proses distribusi sejak 25 November,” ujar Ketua KIP Aceh, Agusni AH, saat ditemui di kantornya, Senin (25/11/2024).
Agusni memastikan surat suara tersebut akan tiba di titik distribusi Aceh Timur pada Selasa, 26 November 2024.
“Insya Allah Selasa besok sudah tiba di Aceh Timur,” katanya.
Meski masih ada kekurangan surat suara, KIP Aceh optimistis hal tersebut tidak akan mengganggu jadwal pemungutan suara.
“Paling telat H-1 pemilihan, semua logistik Pilkada 2024 sudah berada di TPS,” tegas Agusni.
Pilkada Aceh 2024 akan berlangsung serentak pada 27 November, bersamaan dengan Pilkada di berbagai daerah Indonesia. Provinsi berstatus otonomi khusus ini akan memilih gubernur dan wakil gubernur untuk periode 2024-2029.
Sementara itu, Panitia Pengawas Pemilihan (Panwaslih) Aceh telah mencatat 25 indikator kerawanan di 9.704 TPS yang tersebar di 23 kabupaten/kota. Salah satu potensi kerawanan adalah kendala distribusi logistik ke TPS di wilayah terpencil.
Untuk mengantisipasi hal ini, KIP Aceh berkoordinasi dengan aparat keamanan guna memastikan kelancaran distribusi, terutama di daerah rawan.
“Kami upayakan distribusi berjalan aman dan tepat waktu,” tutup Agusni.