Beranda blog Halaman 792

Hari Keempat Rekapitulasi, Muzakir Manaf-Fadhlullah Masih Memimpin Pilgub Aceh

0
Hasil rekapitulasi sementara Pilgub Aceh 2024. (Foto: Tangkapan Layar)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Aceh nomor urut 2, Muzakir Manaf-Fadhlullah, terus menunjukkan keunggulan dalam pemilihan gubernur Aceh 2024. Hingga Minggu (1/12/2024) pukul 18.41 WIB, rekapitulasi suara menunjukkan pasangan ini memimpin dengan perolehan 53,01 persen suara, unggul dari pasangan nomor urut 1, Bustami Hamzah-Fadhil Rahmi.

Data yang dirilis oleh JagaSuara 2024 mencatat bahwa 9.395 tempat pemungutan suara (TPS) dari total 9.704 TPS atau 96,82 persen sudah selesai direkapitulasi. Hasil sementara menempatkan Muzakir-Fadhlullah unggul di 15 dari 23 kabupaten/kota di Aceh.

Hasil pantauan Nukilan.id, pasangan ini menang di wilayah strategis seperti Kabupaten Aceh Utara, Kabupaten Aceh Barat, dan Kota Lhokseumawe. Kabupaten Gayo Lues dan Kabupaten Aceh Barat Daya juga menjadi basis dukungan yang signifikan dengan masing-masing menyumbangkan 26.051 dan 29.175 suara.

Keunggulan pasangan Muzakir-Fadhlullah tampak mencolok di kawasan barat dan tengah Aceh. Kabupaten Aceh Selatan, Simeulue, dan Aceh Jaya juga memberikan kontribusi suara yang kuat. Sementara itu, mereka berhasil merebut kemenangan di Kabupaten Aceh Tengah dan Aceh Tenggara, yang dikenal sebagai wilayah dengan jumlah pemilih besar.

Kota Subulussalam dan Kota Lhokseumawe juga menjadi wilayah kunci yang dimenangkan oleh pasangan ini, menunjukkan bahwa dukungan mereka tidak hanya kuat di pedesaan tetapi juga di kawasan perkotaan.

Proses rekapitulasi suara Pilgub Aceh 2024 hampir mencapai tahap akhir. Dengan tersisa sekitar 3,18 persen TPS yang belum melaporkan hasilnya, masyarakat Aceh menantikan kepastian hasil resmi dari Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh.

Hasil sementara ini mencerminkan dinamika politik Aceh yang tetap menarik perhatian berbagai kalangan. Jika tren ini berlanjut hingga penghitungan akhir, Muzakir Manaf-Fadhlullah berpotensi menjadi pemimpin baru Aceh dengan mandat yang kuat. (XRQ)

Reporter: Akil Rahmatillah

Tim Paslon 01 Sebut Ada Kecurangan Pilkada, Jubir Mualem-Dek Fadh: Hargai Kerja Keras Penyelenggara dan Aparat

0
Juru Bicara Badan Pemenangan Mualem - Dek Fadh, Firdaus Noezula, S.T., M.Si. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Perhitungan suara pada Pilkada Aceh 2024 telah sampai pada tingkat kecamatan dan kabupaten se Aceh. Tetapi kini ada protes yang di sampaikan oleh tim pemenangan Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur nomor urut 01 terkait permintaan dilakukannya Perhitungan Suara Ulang (PSU) di semua TPS di Aceh Utara, Minggu (1/12/2024).

Berdasarkan laporan, baik dari KIP, Panwaslih atau Pihak Keamanan Pilkada (Gakkumdu) serta TNI yang semua ikut bertugas sejak dimulainya tahapan Pilkada dari Proses pancalonan sampai dengan Tahapan Pencoblosan di TPS seluruh Aceh, tidak terdengar situasi kritis, bahkan sudah disampaikan bahwa proses Pilkada Aceh berjalan lancar dan tertib.

Menanggapi hal tersebut, Juru Bicara Badan Pemenangan Mualem – Dek Fadh, Firdaus Noezula, S.T., M.Si menyampaikan bahwa setiap proses telah di lalui sebagaimana mestinya, Ia berharap semua pihak dapat menerima apapun hasil yang telah di peroleh serta mengapresiasi kinerja penyelenggara dan aparat penegak hukum atas kesuksesan terselenggaranya pesta demokrasi secara aman dan damai.

“Kita patut mengapresiasi kinerja dari penyelenggara; KIP dan Panwaslih serta aparat penegak hukum dan pemerintah di semua tingkatan di Aceh atas terselenggaranya Pilkada yang aman dan damai,” ujar Politisi Muda Partai Demokrat ini.

Lanjutnya, “Masyarakat Aceh dan semua tim yang terlibat dalam Pilkada telah memberikan bukti nyata bahwa Aceh adalah daerah yang aman dan bukan daerah rawan seperti beberapa pernyataan tempo hari.”

Firdaus mengatakan terkait proses Perhitungan Suara Ulang (PSU) silahkan diajukan melalui mekanisme yang berlaku dengan tidak menafikan kinerja penyelenggara.

“Terkait permintaan PSU di seluruh TPS di Aceh Utara, silahkan di ajukan melalui mekanisme yang ada. Namun, kita menghimbau untuk tidak menafikan kinerja dari penyelenggara dan aparat yang telah berjibaku menjaga agar Pilkada berjalan aman dan damai,” ujarnya.

Kemudian Firdaus turut menyampaikan rasa terima kasih dan bangga atas kerja keras semua pihak yang terlibat dalam Pilkada Aceh 2024 ini sehingga semua tahapan dapat berjalan dengan lancar tanpa terkendala apapun.

“Kami dari pihak Mualem – Dek Fadh calon gubernur dan wakil gubernur nomor urut 02 menyampaikan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada penyelenggara di semua tingkatan, aparat penegak hukum, pemerintah Aceh, serta kepada seluruh rakyat Aceh atas terselenggaranya Pilkada yang aman, damai dan lancar,” tutup Putra Pasee ini.

Editor: Akil

Dendang Syair dan Sejarah: Menghidupkan Tradisi Musik Khas Aceh

0
Rapa'i Debus. (Foto: Dok. Diskominfo Banda Aceh)

NUKILAN.id | Feature – Di bawah langit senja yang menggelap di Aceh, suara tabuhan rapa’i menggema, memecah keheningan desa. Alunan itu menyelusup lembut ke sela-sela pepohonan, memantul di dinding-dinding rumah kayu, dan menyentuh hati siapa pun yang mendengarnya. Di tengah lingkaran itu, para seniman memainkan musik yang bukan hanya bunyi, tetapi juga cerita—cerita tentang Aceh, tentang perjuangan, dan tentang keimanan.

Musik khas Aceh adalah warisan yang menyatu dengan denyut nadi masyarakatnya. Ia bukan sekadar hiburan, tetapi penghubung dengan masa lalu, cermin nilai-nilai yang hidup, dan doa yang berwujud bunyi. Dari rapa’i hingga seudati, dari dabus hingga hikam, tradisi ini menyimpan riwayat panjang yang terus bergema meski zaman berubah.

Musik Aceh berakar pada hikayat-hikayat yang telah dilantunkan sejak masa kesultanan. Di masa itu, syair-syair penuh makna menjadi medium untuk menyampaikan kisah epik, nilai moral, dan dakwah Islam.

“Musik Aceh lahir dari hati,” kata Teungku Ibrahim, seorang pelestari tradisi musik yang kutemui di Banda Aceh. “Ia adalah cara kami berbicara kepada Tuhan, berbagi dengan sesama, dan menghormati leluhur.”

Salah satu bentuk tertua adalah hikayat, yang sering dinyanyikan dengan iringan alat musik tradisional seperti rapa’i atau serune kalee. Dalam Hikayat Perang Sabil, misalnya, bait-bait syair memuat semangat jihad dan keimanan, membakar jiwa rakyat Aceh saat melawan penjajah Belanda.

“Syair-syair itu tidak hanya indah,” lanjut Teungku Ibrahim, “tetapi juga mengandung pelajaran tentang bagaimana menjadi manusia yang beriman dan berani.”

Rapa’i: Suara yang Menghidupkan Tradisi

Jika musik Aceh adalah sebuah tubuh, maka rapa’i adalah jantungnya. Alat musik ini berbentuk rebana besar yang terbuat dari kayu dan kulit kambing. Tabuhannya ritmis, dalam, dan menggugah.

“Setiap pukulan rapa’i adalah doa,” ujar Mak Syamsul, seorang pemain rapa’i yang sudah berpuluh tahun mengabdikan diri pada alat musik ini.

Mak Syamsul menunjukkan kepadaku sebuah rapa’i pasee, jenis rapa’i yang digunakan dalam pertunjukan adat. Ia menjelaskan bahwa cara memukul rapa’i tidak sembarangan. Ada pola-pola khusus yang diwariskan secara turun-temurun, mencerminkan keahlian sekaligus rasa hormat kepada tradisi.

Di sebuah pertunjukan yang kuhadiri di Aceh Besar, delapan pria duduk melingkar, masing-masing dengan rapa’i di tangan. Tabuhan mereka berpadu dengan suara lantang seorang penyanyi yang melantunkan syair tentang keagungan Tuhan. Di sekitar mereka, para penonton mendengarkan dalam diam, hanyut dalam keindahan dan makna yang dibawakan.

Seudati: Menari dalam Doa

Jika rapa’i adalah musiknya, maka seudati adalah tariannya. Seudati berasal dari kata Arab syahadatain, yang berarti dua kalimat syahadat. Tarian ini bukan sekadar gerakan tubuh, tetapi juga pengakuan iman.

Tari Seudati asal Aceh (portal-sejarah.com)

Aku menyaksikan pertunjukan seudati di sebuah desa di Pidie. Delapan pria berdiri dalam formasi lingkaran, mengenakan pakaian serba putih yang kontras dengan ikat kepala berwarna merah. Gerakan mereka tegas, serempak, penuh semangat, sementara suara mereka melantunkan syair yang sarat dengan pesan moral.

“Setiap gerakan seudati punya makna,” kata Pak Yusuf, pemimpin grup tari tersebut. “Ada gerakan yang melambangkan keberanian, ada yang melambangkan rasa syukur kepada Allah.”

Dahulu, seudati sering ditampilkan dalam upacara keagamaan atau perayaan adat. Namun, kini tarian ini juga dipentaskan di berbagai festival, menjadi kebanggaan Aceh di kancah nasional maupun internasional.

Dabus: Seni, Keimanan, dan Keberanian

Di Aceh, musik dan tarian sering kali berpadu dengan seni lainnya. Salah satunya adalah dabus, pertunjukan yang menggabungkan musik, tari, dan atraksi ketangkasan fisik.

Dalam sebuah pertunjukan dabus yang kuhadiri di Lhokseumawe, para pemain menunjukkan kekuatan luar biasa dengan menusukkan benda tajam ke tubuh mereka tanpa terluka. Diiringi tabuhan rapa’i dan syair zikir, aksi itu bukan sekadar unjuk keberanian, tetapi juga bukti keimanan mereka.

“Ini adalah bentuk tawakal,” kata Pak Ahmad, seorang pemain dabus. “Kami percaya bahwa Allah melindungi kami selama niat kami tulus.”

Pertunjukan dabus sering kali memukau, tetapi ia juga mengandung pesan spiritual yang dalam. Di balik aksi yang tampak ekstrem itu, ada pelajaran tentang kesabaran, keikhlasan, dan keyakinan pada kuasa Ilahi.

Menghidupkan Tradisi di Tengah Modernitas

Meski kaya akan nilai budaya dan spiritual, tradisi musik Aceh menghadapi tantangan besar di era modern. Generasi muda cenderung lebih tertarik pada musik populer, sementara teknologi dan globalisasi semakin mendominasi ruang budaya.

“Anak-anak sekarang tidak banyak yang mau belajar rapa’i atau seudati,” kata Teungku Ibrahim dengan nada sedih. “Mereka bilang itu kuno dan terlalu sulit.”

Namun, harapan belum sepenuhnya sirna. Beberapa komunitas dan seniman muda mulai bergerak untuk melestarikan tradisi ini. Mereka mengadakan pelatihan, festival, dan pertunjukan yang menggabungkan elemen tradisional dengan sentuhan modern.

“Saya ingin musik Aceh tetap hidup,” kata Faisal, seorang musisi muda yang mencoba memasukkan elemen rapa’i ke dalam lagu-lagu pop. “Karena di sana, saya menemukan jati diri saya sebagai orang Aceh.”

Selain usaha individu, pemerintah dan organisasi budaya juga mulai memberi perhatian lebih pada pelestarian musik tradisional Aceh. Festival seni seperti Pekan Kebudayaan Aceh menjadi ajang untuk memperkenalkan kekayaan budaya ini kepada generasi muda dan wisatawan.

Aku menghadiri salah satu festival tersebut di Banda Aceh, di mana musik rapa’i, tarian seudati, dan atraksi dabus ditampilkan secara megah. Suasana malam itu penuh dengan kebanggaan dan rasa haru, mengingatkan semua orang akan pentingnya menjaga warisan ini.

 

Sebuah Warisan yang Harus Dijaga

Ketika malam semakin larut, suara rapa’i yang kudengar di awal hari perlahan mereda. Namun, gema syair dan musik itu masih terasa, bergetar di dalam hati. Aku sadar bahwa musik khas Aceh adalah sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar seni. Ia adalah cara masyarakatnya merawat ingatan, menjaga iman, dan menyatukan jiwa.

Di tengah dunia yang terus berubah, tradisi ini membutuhkan penjaga. Ia membutuhkan tangan-tangan yang bersedia memukul rapa’i, kaki-kaki yang menari dalam irama seudati, dan suara-suara yang melantunkan syair penuh makna.

Karena selama ada yang mendengarkan, dendang syair Aceh tidak akan pernah benar-benar hilang. Ia akan terus hidup, mengalir seperti sungai yang abadi, membawa sejarah dan keindahan tanah Rencong ke masa depan.

Ribuan Warga Aceh Ramaikan Fun Walk for Palestina di Banda Aceh

0
Ribuan Warga Aceh Ramaikan Fun Walk for Palestina di Banda Aceh. (Foto: RRI)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Ribuan masyarakat Aceh memadati Taman Bustanussalatin, Banda Aceh, Minggu (1/12/2024), dalam kegiatan Fun Walk for Palestina.  Acara yang diinisiasi oleh Aliansi Rakyat Aceh Bela Palestina (ARA-BP) ini merupakan aksi solidaritas untuk mendukung perjuangan rakyat Palestina.

Dengan tema “Langkah Kecil Bersama untuk Bebaskan Palestina”, kegiatan ini menjadi ajang kolaborasi berbagai elemen masyarakat, termasuk pemerintah, lembaga sosial, komunitas, dan tokoh masyarakat.

Kepala Dinas Sosial Aceh, Dr. Muslem Yacob, S.Ag, M.Pd, yang mewakili Penjabat (Pj) Gubernur Aceh membuka acara tersebut. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya solidaritas masyarakat Aceh untuk Palestina.

“Kegiatan ini tidak hanya menjadi momentum mempererat kebersamaan masyarakat Aceh, tetapi juga mencerminkan kepedulian dan komitmen kita terhadap rakyat Palestina yang tengah menghadapi genosida. Melalui aksi seperti ini, kita memberikan dukungan moral dan bantuan nyata melalui penggalangan dana,” ujarnya.

Rangkaian Acara

Acara yang diikuti lebih dari 2.000 peserta ini tidak hanya diisi dengan jalan santai, tetapi juga berbagai kegiatan lain. Di antaranya, orasi bela Palestina oleh tokoh masyarakat, penggalangan dana, penampilan nasyid, pemeriksaan kesehatan gratis, dan bazar UMKM.

Ketua Panitia Fun Walk for Palestina, Fachrurrazi, menjelaskan bahwa kegiatan ini diselenggarakan untuk memperingati Aksi Solidaritas Internasional untuk Rakyat Palestina yang jatuh pada 29 November.

“Kegiatan ini bertujuan mengingatkan kita bahwa rakyat Palestina hingga hari ini masih terus digempur dengan serangan rudal dan pembantaian oleh Zionis Israel,” kata Fachrurrazi.

Ia menambahkan, serangan brutal Israel, khususnya di Gaza, belum menunjukkan tanda-tanda berhenti sejak dimulai pada 7 Oktober 2023.

“Mudah-mudahan upaya kecil seperti penggalangan dana ini, insya Allah, dapat membantu mereka bertahan hidup dan memperjuangkan tanah air mereka,” ujar Fachrurrazi.

Fachrurrazi berharap kegiatan ini dapat membangkitkan kembali rasa kepedulian masyarakat Aceh terhadap perjuangan rakyat Palestina.

“Kami ingin masyarakat Aceh semakin sadar dan aktif berkontribusi untuk membantu rakyat Palestina mempertahankan hak-hak mereka yang telah lama dirampas dan ditindas,” tuturnya.

Aksi Fun Walk for Palestina menjadi simbol bahwa masyarakat Aceh tidak hanya memberikan dukungan moral, tetapi juga berusaha menghadirkan bantuan nyata untuk rakyat Palestina yang tengah menghadapi situasi sulit.

Editor: Akil

Tanggapi Pernyataan Tim Om Bus-Fadil, Fadjri: Tim Paslon 1 Jangan Politisir Pilkada Damai Aceh

0
Ketua Divisi Hukum dan Advokasi BPA, Fadjri SH. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Ketua Divisi Hukum dan Advokasi Badan Pemenangan Aceh (BPA) pasangan calon (paslon) Muzakir Manaf-Fadhullah, Fadjri SH, menuding tim paslon nomor urut 1, Bustami Hamzah-Fadil Rahmi, telah mempolitisasi situasi Pilkada Aceh. Fadjri menyebut tim Paslon 1 menggiring opini bahwa situasi Aceh tidak damai melalui narasi kekerasan.

“Pernyataan mereka menggeneralisir peristiwa kasuistik, seolah-olah kondisi Aceh penuh kekerasan. Padahal, Pilkada Aceh secara keseluruhan berlangsung kondusif, dengan stabilitas keamanan yang terjaga,” kata Fadjri dalam keterangan tertulis, Minggu (1/12/2024).

Ia menambahkan bahwa dinamika yang terjadi selama Pilkada merupakan bagian dari demokrasi. “Jika dibandingkan dengan kasus di Sampang, Madura, Jawa Timur, yang bahkan menyebabkan hilangnya nyawa, Aceh jauh lebih baik,” ujar Fadjri.

Fadjri memuji peran Polri dan TNI yang menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) selama Pilkada berlangsung. Ia juga menyoroti upaya Pemerintah Aceh serta pemerintah kabupaten/kota dalam mendukung kelancaran Pilkada melalui Desk Pilkada.

“Netralitas penyelenggara Pilkada patut diapresiasi. Mereka telah bekerja keras menjaga agar proses demokrasi berjalan sesuai aturan,” tegasnya.

Meski demikian, Fadjri mengungkapkan pihaknya telah menyampaikan beberapa laporan terkait dugaan pelanggaran. Laporan tersebut mencakup dugaan keterlibatan aparatur sipil negara (ASN) serta kampanye terselubung yang dilakukan tim Paslon 1 di institusi pendidikan dan kesehatan.

“Hasilnya, terjadi pergantian pimpinan Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh sebagai bentuk penegakan aturan,” ungkap Fadjri.

Menanggapi pernyataan Ketua Tim Pemenangan Paslon 1 yang menyebut Pilkada di Aceh diciderai intimidasi, teror, dan pelanggaran masif, Fadjri menyebut klaim itu sebagai bentuk pengabaian terhadap kinerja aparat keamanan dan Panwaslih.

“Panwaslih telah menjalankan fungsi pengawasan mulai dari tingkat TPS hingga kabupaten dan kota. Klaim adanya pelanggaran masif dan intimidasi hanya menggiring opini bahwa situasi Aceh tidak damai,” ujarnya.

Fadjri juga menyebut tudingan tersebut mengingatkan pada pola pikir elit politik masa konflik Aceh, yang kerap memperkeruh suasana dengan narasi kekerasan.

Fadjri meminta Paslon 1 untuk menggunakan mekanisme yang ada jika merasa tidak puas. Ia menegaskan bahwa menyampaikan kabar bohong dan menghasut merupakan tindak pidana.

“Kami mempertimbangkan langkah hukum terhadap Ketua dan Tim Pemenangan Paslon 1 jika mereka terus menyampaikan narasi provokatif,” tegasnya.

Fadjri berharap penyelenggara Pilkada, Pemerintah Aceh, serta aparat penegak hukum tetap menjaga netralitas agar proses demokrasi berjalan kondusif.

“Kami menghormati seluruh proses yang sedang berlangsung dan terus mendukung upaya menciptakan Pilkada yang damai,” tutup Fadjri.

Editor: Akil

Kemenag Aceh Raih Anugerah dari BI Berkat Kampanye Cinta Rupiah

0

NUKILAN.id | Banda Aceh – Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Aceh menerima penghargaan sebagai Mitra Edukasi Cinta Bangga Paham (CBP) Rupiah Terbaik tahun 2024 dari Bank Indonesia (BI) Perwakilan Aceh. Penghargaan ini diberikan dalam acara Anugerah BI Aceh yang berlangsung di Ballroom The Pade Hotel, Jumat (29/11/2024) malam, bertepatan dengan Pertemuan Tahunan BI 2024.

Penghargaan tersebut diraih berkat keberhasilan Kemenag Aceh mengkampanyekan program CBP Rupiah kepada siswa madrasah di seluruh provinsi. Program ini bertujuan menumbuhkan rasa cinta, kebanggaan, dan pemahaman terhadap mata uang rupiah, sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas ekonomi nasional.

“Kami sangat mengapresiasi penghargaan ini. Kampanye CBP Rupiah adalah salah satu langkah strategis untuk membangun semangat patriotisme melalui penguatan literasi keuangan sejak dini,” ujar Kepala Kanwil Kemenag Aceh, Azhari.

Kanwil Kemenag Aceh menjadi pelopor dalam penerapan modul ajar CBP Rupiah di jenjang pendidikan madrasah. Modul ini mulai disusun pada Desember 2023 dan telah diterapkan di 611 madrasah negeri, mulai dari tingkat madrasah ibtidaiyah (MI) hingga madrasah aliyah (MA).

“Ini adalah tanggung jawab moral kami untuk memberikan pemahaman kepada peserta didik mengenai pentingnya mencintai dan memahami rupiah. Hal ini juga menjadi bagian dari penguatan rasa kebangsaan,” kata Azhari.

Atas inisiatif tersebut, Kemenag Aceh bersama BI Aceh juga meraih penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai instansi pertama yang mengimplementasikan modul CBP Rupiah pada pendidikan madrasah. Penghargaan ini diberikan dalam acara Pekan Edukasi Cinta Bangga Paham Rupiah Sigom Nanggroe (PEUCARONG) yang digelar di Gedung AAC Dayan Dawood, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, pada 20 Juli 2024.

Dalam rangkaian road to Festival Rupiah Berdaulat Indonesia (FERBI) 2024, Kemenag Aceh menyelenggarakan berbagai kegiatan edukasi, termasuk melibatkan 1.000 siswa dan guru dari berbagai jenjang pendidikan. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap pentingnya rupiah sebagai simbol kedaulatan negara.

“Pencapaian ini menjadi bukti nyata kerja keras jajaran Kemenag Aceh dalam mendukung program literasi keuangan yang dicanangkan oleh Bank Indonesia,” tambah Azhari.

Melalui kampanye ini, diharapkan generasi muda Aceh dapat memahami nilai strategis mata uang nasional dan berkontribusi dalam menjaga stabilitas ekonomi.

Editor: Akil

Warga Babahrot Minta Mualem Selesaikan Sengkta Lahan dengan PT DPL

0

NUKILAN.id | Blangpidie – Warga Kecamatan Babahrot, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) meminta kepada Calon Gubernur (Cagub) Muzakir Manaf untuk membantu mereka selesaikan sengketa lahan dengan perusahaan sawit PT Due Perkasa Lestari (PT PDPL). Saat ini 28 kelompok usaha perkebunan sedang melayangkan gugatan terhadap izin perusahaan tersebut ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Banda Aceh.

Warga yang tergabung dalam 28 kelompok tersebut dengan jumlah sekitar 250 orang lebih berharap, Cagub yang mendapatkan suara terbanyak sementara agar tutun tangan untuk menyelesaikan sengketa tersebut. Tak hanya itu, mereka juga meminta kepada Calon Bupati (Cabup) Abdya, Safaruddin yang mendapat suara terbanyak agar setelah dilantik nantinya memprioritaskan menyelesaikan sengketa lahan tersebut.

“Kami meminta kepada Mualem dan Safaruddin agar membantu kami untuk menyelesaikan sengketa lahan dengan PT DPL, kami ini semua pendukung Mualem dan Safaruddin dalam pemilu, jadi mohon bantu kami,” pinta Koordinator Kelompok, Rusli Ali, Sabtu (30/11/2024).

Sebelumnya warga bersama Forum Bangun Investasi Aceh (Forbina) dan MRM & Associates Law Firm selaku kuasa hukum telah mendaftarkan gugatan pada Jumat 22 November 2024 dengan nomor perkara No.45/G/2024/PTUN.BNA. Kata Yahwa, sapaan akrap Rusli A menyebutkan, gugatan ini dilakukan sebagai langkah untuk mendapatkan keadilan untuk mendapatkan kembali hak tanah mereka yang diduga diambil oleh PT DPL.

“Ini kami mencari keadilan agar tanah kami bisa dikembalikan, kami hanya menuntut tanah kami sekitar 800 hektar dari 2.600 hektar yang dikuasai oleh PT DPL,” ungkap Yahwa.

Yahwa mengatakan, warga sudah berjuang sejak 2012 lalu untuk mendapatkan kembali lahan yang diduga diserobot oleh PT DPL. Karena warga memiliki bukti kepemilikan surat tanah – bahwa sekitar 800 hektar lebih itu milik warga yang diambil oleh PT DPL. Melalui gugatan ini, pemilik lahan berharap bisa mendapatkan kembali tanah mereka yang sudah digarap sejak lama sebelum lahan itu dikuasai oleh PT DPL.

“Kami punya bukti kuat dengan surat-surat tanah masa lalu, sekarang bukti itu sudah kami kumpulkan untuk menghadapi gugatan di PTUN Banda Aceh,” tegasnya.

Karena lahan PT DPL tersebut sedang dalam proses sengketa di PTUN Banda Aceh, puluhan warga terdampak memasang spanduk di 10 titik lokasi. Bunyi spanduk tersebut “Lahan Ini dalam Sengketa Hukum Nomor Perkara 45/G/2024/PTUN.BNA. Masyarakat Bersama Forbina Menggugat Gubernur Aceh Atas Izin Usaha Perkebunan No.P2TSP.525/4828/2007 PT Due Perkasa Lestari.

Pemasangan spanduk tersebut dilakukan pada Sabtu 30 November 2024 didampingi langsung oleh kuasa hukum sekaligus Direktur Eksekutif Forbina Muhammad Nur, SH. Selama pemasangan spanduk berjalan lancer. Puluhan warga menggunakan sepeda motor dan dua mobil pick-up masuk ke lokasi lahan sengketa tersebut dan memasang spanduk serta berfoto bersama.

Direktur Eksekutif Forbina, Muhammad Nur, SH mengatakan, pada tahun 2007, Gubernur Aceh memberikan izin kepada PT. DPL melalui keputusan nomor P2TSP.525/4828/2007 tanggal 27 Desember 2007 tentang Izin Usaha Perkebunan Budidaya, seluas 2.600 hektar. Berdasarkan fakta dilapangan, bahwa izin tersebut berada di lahan yang dimiliki, dikuasai, dan dimanfaatkan oleh masyarakat melalui 28 kelompok tani.

“Dampak dari izin tersebut, kelompok tani hilang wilayah kelola, dan tidak dapat diusahakan atau dimanfaatkan lagi untuk sumber perekonomian, karena pihak perusahaan terus memperluas lahan untuk penanaman kelapa sawit,” kata Muhammad Nur.

Padahal kelompok tani tersebut sebelumnya menjadi subjek dari program pemerintah pusat memberdayakan ekonomi mantan kombatan GAM dan korban konflik, melalui pembagian 63.000 bibit dilahan 2.600 Ha. Kemudian pada lahan tersebut diterbitkan izin oleh Gubernur Aceh kepada PT. DPL, sehingga apa yang diprogramkan oleh Presiden SBY ketika itu tidak berjalan maksimal.

Selain persoalan lahan, hasil kajian Forbina juga menemukan bahwa izin yang diberikan cacat prosedural dan cacat hukum, karena lokasi yang ditetapkan tidak sesuai dengan objek di lapangan. Selain dua persoalan tersebut, masih banyak temuan lain yang menjadi dalil memperkuat gugatan ini.

“Nanti kita akan bongkar semua di pengadilan atas cacat procedural dan cacat hukum tersebut, terlebih warga memiliki bukti kuat dengan surat tanah yang warga miliki,” jelas Muhammad Nur.

Kata Muhammad Nur, apa yang dilakukan oleh Gubernur Aceh melalui pemberian izin kepada PT. DPL yang cacat hukum dapat dianggap sebagai perbuatan perampasan tanah rakyat demi kepentingan investasi. Seharusnya, ditengah krisis lapangan pekerjaan, kemiskinan, paska konflik dan bencana, Gubernur Aceh melindungi hak – hak masyarakat, bukan justru dengan kebijakan ambisiusnya menghilangkan wilayah kelola masyarakat.

Forbina bersama tim pengacara berharap kepada pihak PT. DPL untuk menghormati proses hukum dan menghentikan segala aktifitas di lapangan selama proses hukum ini berlangsung. Begitu juga halnya Gubernur Aceh untuk mempertanggungjawabkan di muka hukum atas penerbitan kebijakan yang dapat merugikan masyarakat banyak.

Editor: Akil

Edukasi Keselamatan Lalu Lintas di Banda Aceh: Bangun Kesadaran Generasi Muda

0
Dinas Perhubungan Aceh, bekerja sama dengan Capella Honda dan PT Jasa Raharja Cabang Aceh, menggelar kegiatan edukasi keselamatan lalu lintas di Banda Aceh. (Foto: Dishub Aceh)

NUKILAN.id | Banda Aceh — Dinas Perhubungan Aceh bersama Capella Honda dan PT Jasa Raharja Cabang Aceh menggelar edukasi keselamatan lalu lintas untuk pelajar di Banda Aceh, Jumat (29/11/2024). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran generasi muda akan pentingnya mematuhi peraturan lalu lintas demi keselamatan di jalan.

Kepala Bidang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) Dinas Perhubungan Aceh, Deddy Lesmana, menegaskan pentingnya acara ini untuk membangun kesadaran sejak dini. Ia berharap para peserta dapat menerapkan materi yang disampaikan, terutama terkait kepatuhan terhadap aturan seperti melengkapi dokumen berkendara.

“Mematuhi peraturan lalu lintas, memiliki SIM, dan selalu waspada di jalan adalah kunci keselamatan. Kami ingin materi ini bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari mereka,” ujar Deddy.

Sebanyak 40 pelajar SMA/SMK berpartisipasi dalam kegiatan ini, melanjutkan program serupa, Safety Riding, yang digelar awal pekan lalu.

Kepala Bagian Operasional PT Jasa Raharja Cabang Aceh, Lumalo Marajuang Harahap, turut menjadi pemateri. Ia menyampaikan materi dengan cara interaktif, membuat peserta lebih mudah memahami konsep keselamatan lalu lintas.

Lumalo juga menjelaskan peran Jasa Raharja dalam memberikan santunan kepada korban kecelakaan lalu lintas.

“Santunan ini berasal dari biaya yang dibayarkan saat menggunakan angkutan umum, bukan iuran bulanan,” katanya.

Selain itu, Lumalo memberikan tips sederhana kepada pelajar yang sering menggunakan angkutan umum. Ia mengingatkan pentingnya memeriksa kelayakan kendaraan, masa aktif STNK, serta sertifikasi uji KIR.

Kegiatan ini juga melibatkan pelajar dari Komunitas Pelajar Pelopor Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, binaan Dinas Perhubungan Aceh. Mereka memaparkan materi tentang “blind spot” atau titik buta kendaraan yang menjadi salah satu penyebab kecelakaan.

Para pelajar menjelaskan berbagai jenis blind spot, termasuk di bagian depan, samping, dan belakang kendaraan. Mereka memberikan tips praktis untuk mengurangi risiko, seperti mengatur posisi kaca spion dengan benar dan memanfaatkan teknologi pemantau blind spot.

“Kami ingin generasi muda lebih peduli terhadap keselamatan di jalan. Waspada terhadap blind spot adalah langkah kecil yang bisa menyelamatkan nyawa,” ujar salah satu anggota komunitas.

Edukasi ini diharapkan menjadi langkah awal untuk membangun budaya keselamatan lalu lintas di kalangan pelajar. Dengan meningkatnya kesadaran, generasi muda diharapkan mampu menjadi pelopor keselamatan di jalan raya.

Editor: Akil

Nyak Dhien Gajah: Stop Provokasi, Hormati Proses Hukum dan Demokrasi di Aceh

0
Nasruddin alias Nyak Dhien Gajah. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Nasruddin alias Nyak Dhien Gajah, mantan tahanan politik dan narapidana politik Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sekaligus mantan Wakil Bendahara Dewan Pengurus Pusat (DPP) KNPI periode 2020 serta Wakil Sekjen DPP KNPI periode 2018, menyampaikan keberatan terhadap tindakan Ketua DPD KNPI Aceh, Aulia Rahman, yang terlihat dalam video beredar di grup WhatsApp melakukan provokasi terkait hasil pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh 2025-2029.

Dalam video tersebut, Aulia Rahman dinilai menuduh bahwa kemenangan pasangan Muzakir Manaf (Mualem) dan Fadlullah (Dek Fadh) merupakan hasil dari premanisme. Pernyataan ini memicu reaksi keras dari Nyak Dhien Gajah yang menyerukan pentingnya menjaga perdamaian dan stabilitas politik di Aceh.

“Kita sebagai warga negara yang menjunjung tinggi hukum harus menyerahkan segala bentuk dugaan pelanggaran kepada penegak hukum. Jangan memprovokasi masyarakat dengan narasi yang dapat memecah belah,” ujar Nyak Dhien.

Ia menegaskan bahwa sebagai pemimpin organisasi pemuda, Aulia Rahman seharusnya menjadi teladan dalam menjaga suasana kondusif di tengah masyarakat Aceh. Tindakan provokasi hanya akan mencederai semangat demokrasi dan perdamaian yang telah dibangun dengan susah payah.

“Jika ada pelanggaran atau ketidakpuasan terhadap proses pemilu, sebaiknya ditempuh melalui jalur hukum. Jangan menggunakan ancaman atau provokasi yang berpotensi menimbulkan konflik,” tambahnya.

Nyak Dhien juga mengingatkan bahwa KNPI Aceh harus bersikap dewasa dan menghormati hasil pemilu yang telah berlangsung secara demokratis. Ia berharap semua pihak, termasuk Aulia Rahman, dapat menerima kemenangan pasangan Muzakir Manaf dan Fadlullah sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh 2025-2029.

“Semestinya kita fokus membangun Aceh yang damai dan sejahtera, bukan memperkeruh suasana. Pemuda Aceh harus bersatu mendukung pemimpin terpilih demi masa depan yang lebih baik,” tutupnya.

Editor: Akil Rahmatillah

Rafly Kande Turut Meriahkan Festival Pemenuhan Hak dan Perlindungan Perempuan & Anak Aceh

0
Penampilan Muaisi Legendaris Aceh, Rafly Kande. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Suasana Car Free Day (CFD) Banda Aceh, Minggu (1/12/2024), berbeda dari biasanya. Ribuan warga memadati kawasan ini untuk menghadiri Festival Pemenuhan Hak dan Perlindungan Perempuan & Anak Aceh yang diselenggarakan dalam rangka Perayaan Hari Ibu dan Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (16 HKTP) 2024.

Kehebohan semakin terasa dengan hadirnya musisi legendaris Aceh, Rafly Kande, sebagai bintang tamu utama. Penampilannya sukses memukau pengunjung, membawa pesan-pesan moral yang sarat makna melalui lantunan lagu-lagu etnik khas Aceh.

Di atas panggung, Rafly Kande membawakan sejumlah lagu populernya, seperti Seulanga dan Tanoh Lon Sayang. Melalui lirik dan nada syahdu, ia mengajak masyarakat untuk memperkuat kesadaran akan pentingnya pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.

Penyanyi yang dikenal dengan suara khasnya ini juga menyisipkan pesan tentang pentingnya menghentikan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak, sejalan dengan tema acara, Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi, Aceh Mulia.

Para pengunjung tampak antusias menikmati setiap momen dalam festival ini. Selain penampilan Rafly Kande, acara ini juga diisi dengan berbagai kegiatan edukatif, seperti diskusi, workshop, dan kampanye kesadaran akan hak-hak perempuan dan anak.

“Saya sangat antusias ya, terutama ada bang Rafly, musisi favorit saya. Pesan-pesan dalam lagunya sangat menyentuh hati,” ujar Anita, salah seorang pengunjung kepada Nukilan.id, Minggu (1/12/2024).

Festival ini merupakan bagian dari program Emancipatory Mobilisation through Participation, Ownership, Women’s Engagement and Resilience (EMPOWER), yang bertujuan mendorong partisipasi masyarakat dalam mewujudkan kesetaraan gender dan keadilan sosial.

Acara ini menjadi pengingat bahwa perlindungan terhadap perempuan dan anak bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga masyarakat. (XRQ)

Reporter: Akil Rahmatillah