Beranda blog Halaman 528

Keluarga Temukan Jasad Remaja yang Hilang Terseret Arus di Pantai Riting

0
Proses evakuasi jenazah korban yang tenggelam di Pantai Riting, Aceh Besar. (Foto: Dok. BPBD Aceh Besar)

NUKILAN.id | Aceh Besar – Jasad M. Ikhsan Saputra (16), pelajar yang terseret arus di Pantai Riting, Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar, ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada Jum’at (28/2/2025) dini hari.

Jenazah korban ditemukan oleh Hamdani (38), pihak keluarga korban, sekitar pukul 03.00 WIB saat melakukan penyisiran di bibir pantai. 

“Korban ditemukan oleh pihak keliarga dalam kondisi sudah tidak bernyawa di area bibir pantai,” kata Maswani dari Pusdalops BPBD Aceh Besar dalam laporannya yang diterima Nukilan.

Jenazah Ikhsan, warga Meunasah Papeun, Kecamatan Krueng Barona Jaya, Kabupaten Aceh Besar, langsung dievakuasi dan dibawa ke rumah duka menggunakan mobil ambulans Puskesmas Leupung.

Sebelumnya diberitakan, M. Ikhsan Saputra 16 tahun dilaporkan hilang dan tenggelam saat berenang di Pantai Riting, Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar.

Menurut keterangan saksi, korban datang ke lokasi wisata bersama rombongan dari balai pengajian tempat ia mengaji. Saat sedang mandi di pantai, korban tiba-tiba terseret arus laut dan langsung tenggelam.

“Korban bersama teman-teman seusianya pergi ke Pantai Riting. Setiba di pantai, mereka mandi bersama. Seketika teman korban melihat korban terseret oleh arus laut dan langsung tenggelam,” kata Maswani, Pusdalops BPBD Aceh Besar.

Reporter: Rezi

Meugang: Antara Tradisi dan Harga Diri

0
Penjual daging di kawasan Beurawe. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Di Aceh, tradisi Meugang dirayakan tiga kali dalam setahun, yaitu menjelang bulan Ramadhan, Idulfitri, dan Iduladha. Tradisi ini sudah berlangsung sejak masa Kesultanan Iskandar Muda dan bahkan diatur dalam Qanun atau Peraturan Daerah pada masa itu. Kala itu, Sultan memerintahkan jajarannya untuk menyembelih hewan, seperti sapi dan kambing, lalu membagikannya kepada masyarakat kurang mampu, termasuk anak yatim, janda, serta fakir miskin.

Seiring waktu, tradisi Meugang tetap lestari dan menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya masyarakat Aceh. Perayaan ini berlangsung meriah di berbagai daerah, termasuk di ibu kota provinsi, Banda Aceh.

Dalam penelusuran pada Jumat, 28 Februari 2025, di salah satu pusat penjualan daging di kawasan Beurawe, harga daging berkisar antara Rp170 ribu hingga Rp180 ribu per kilogram. Masyarakat terlihat berbondong-bondong membeli daging untuk diolah dan dinikmati bersama keluarga dalam suasana kebersamaan.

Di tengah hiruk-pikuk pasar, ada kisah menarik dari seorang tukang parkir bernama Samsul yang sehari-hari bekerja di kawasan tersebut. Ia meminta izin kepada pelanggan agar uang parkir yang biasanya bertarif Rp1 ribu bisa dinaikkan menjadi Rp2 ribu.

“Bang, mohon izin ya, kembalian-nya Rp3 ribu, saya lagi kumpulin uang untuk beli daging Meugang. Sudah tiga hari ini saya melakukan seperti itu, dan rata-rata mengizinkannya, bang. Bagaimanapun anak saya harus bisa merasakan Meugang, walaupun cuma 1 kg daging,” ujarnya lirih.

Mengetahui hal itu, saya pun menawarkan agar Samsul mengambil seluruh uang pecahan Rp5 ribu yang saya berikan. Raut wajahnya seketika berubah sumringah.

Saat ini, Meugang bukan sekadar tradisi, tetapi juga menjadi simbol harga diri bagi seorang kepala keluarga yang merasa wajib membawa pulang daging untuk keluarganya. Dalam bahasa Aceh, ada ungkapan yang mencerminkan kondisi ini: “Na jeut, hana hanjeut”—kalau ada, boleh; kalau tidak ada, harus ada.

Di tengah tingginya harga daging dan sulitnya perekonomian, sejumlah gampong di Banda Aceh dan Aceh Besar memiliki inisiatif untuk membantu warganya. Melalui Badan Usaha Milik Gampong (BUMG), mereka mengumpulkan dana sepanjang tahun untuk menyediakan daging Meugang bagi masyarakat. Setiap warga yang terdaftar mendapatkan kupon daging, sehingga tidak ada yang terlewat merasakan kebahagiaan Meugang.

Ketika berita ini ditulis, suasana Meugang hampir usai. Malam ini, umat Islam di Aceh akan melaksanakan salat Tarawih pertama, dan esok hari memasuki bulan suci Ramadhan. Semoga perekonomian semakin membaik ke depan, sehingga setiap kepala keluarga tidak lagi merasa cemas ketika Meugang tiba.

Editor: Akil

Harga Daging Sapi di Darussalam Rp170-180 ribu per kg, Kerbau Rp200 ribu

0
Aktivitas penjualan daging sapi dan kerbau meugang di seputaran Simpang Galon, Kopelma Darussalam, Jumat (28/2/2025). (Foto: Nukilan/Sammy)

Nukilan.id – Harga daging sapi meugang menyambut Ramadan 1446 H yang dijual di seputaran Simpang Galon, Kopelma Darussalam, Banda Aceh, Jumat (28/2/2025) dibanderol dengan harga Rp170 ribu hingga Rp180 ribu per kilogram. Sementara daging kerbau dijual dengan harga Rp200 ribu per kilogram.

Salah seorang pedagang, Rusdi mengatakan ia menjual daging sapinya seharga Rp180 ribu per kilogram, sedangkan daging kerbau dijual Rp200 per kilogram. Sapi dan kerbau ini dibawa dari Lambaro Angan, Aceh Besar.

“Untuk penjualan hari ini sudah lumayanlah. Kemarin sudah terjual dua ekor sapi,” sebutnya kepada Nukilan, Jumat (28/2/2025).

Sementara pedagang lainnya, Basri menyebutkan ada perbedaan harga untuk daging sapi yang dijualnya. Untuk paha belakang dijual seharga Rp180 ribu per kilogram, sementara daging paha depan dijual lebih murah sedikit, yaitu Rp170 ribu per kilogram.

“Untuk penjualan bagi saya masih sama dengan tahun kemarin. Selama dua hari ini sudah terjual empat ekor sapi,” katanya. []

Reporter: Sammy

Aceh Besar Dorong Pengembangan Wisata Pulau Terluar

0
Mercusuar Wiliam Toren yang menjadi ikon pariwisata Pulau Aceh, Kabupaten Aceh Besar. (Foto: ANTARA)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Kabupaten Aceh Besar terus mendorong pengembangan sektor pariwisata, terutama di kawasan pulau terluar yang menyimpan potensi besar. Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) Aceh Besar mengajak para pelaku usaha pariwisata untuk berinvestasi dan mengembangkan destinasi di wilayah tersebut.

Ketua Dewan Pengawas ASPPI Aceh Besar, Kisswoyo, menegaskan bahwa pulau-pulau terluar di kabupaten ini memiliki daya tarik luar biasa, khususnya wisata bahari yang belum banyak dieksplorasi.

“Pariwisata pulau terluar di Aceh Besar yang bisa dikembangkan, antara lain, Pulau Beras dan Pulau Nasi di Kecamatan Pulo Aceh serta Pulau Bunta dan Pulau Tuangku di Kecamatan Peukan Bada,” ujarnya di Banda Aceh, Kamis (27/2/2025).

Salah satu destinasi unggulan adalah Pulau Beras atau Pulau Breuh. Selain panorama laut yang memukau, pulau ini menyimpan sejarah dengan keberadaan Mercusuar William Toren, peninggalan kolonial Belanda yang telah berusia 145 tahun.

Mercusuar ini bukan sekadar bangunan bersejarah, tetapi juga menjadi daya tarik wisata karena keunikan arsitekturnya.

“Mercusuar tersebut bernama William Toren. Mercusuar itu sudah berusia 145 tahun. Bangunan mercusuar William Toren hanya ada tiga di dunia. Selain di Pulau Beras, mercusuar William Toren dibangun di Belanda dan Kepulauan Karabia,” kata Kisswoyo.

Potensi wisata pulau terluar di Aceh Besar diharapkan bisa menarik minat wisatawan lokal maupun mancanegara. Dengan pengelolaan yang tepat, kawasan ini tidak hanya menjadi destinasi unggulan, tetapi juga berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi daerah.

Editor: AKIL

Satpol PP Banda Aceh Tegaskan PKL Harus Ikuti Aturan 

0
Plt Kasatpol PP dan WH Kota Banda Aceh, Muhammad Rizal. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Setelah dilakukan penertiban pada 8 Januari 2025 lalu, pedagang kaki lima (PKL) kembali marak berjualan di sepanjang Jalan Syiah Kuala, Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh.

Menanggapi hal ini, Pelaksana Tugas (Plt) Kasatpol PP dan WH Banda Aceh, Muhammad Rizal, menegaskan bahwa pihaknya akan terus melakukan imbauan serta tindakan sesuai aturan yang berlaku.

“Kami terus mengimbau kepada PKL untuk berjualan di lokasi yang telah ditentukan atau memiliki izin resmi. Dalam pelaksanaannya kami akan mengambil kebijakan,” kata Muhammad Rizal saat diwawancarai Nukilan, Jum’at (28/2/2025).

Ia juga mengingatkan para pedagang agar tidak menunggu sampai ada tindakan langsung dari Satpol PP. “Jangan sampai nanti kami sudah turun ke jalan mengambil kebijakan, karena tentu akan merugikan para pedagang sendiri,” ujarnya.

Terkait pedagang takjil, Muhammad Rizal menjelaskan lokasi penjualan sudah ditentukan dalam rapat bersama Dinas Koperasi, UKM, dan Perdagangan (Diskopukmdag) Kota Banda Aceh.

“Kemarin telah dilakukan rapat mengenai lapak bagi pedagang takjil, sehingga mereka memiliki tempat yang jelas dan tertib,” katanya.

Selain itu, Satpol PP dan WH Banda Aceh juga menegaskan terkait penjualan nasi pada siang hari selama bulan Ramadan akan mendapatkan tindakan tegas. 

“Ini bukan hanya berbicara sebagai petugas, tetapi juga sebagai masyarakat Aceh. Siapa pun yang menjual nasi di siang hari selama Ramadan akan kami tindak dan angkut,” tegasnya.

Ia berharap agar selama bulan Ramadan, penegakan syariat Islam semakin ditingkatkan dan masyarakat dapat menjalankan ibadah dengan lebih khusyuk. “Kami mohon dukungan dari seluruh masyarakat agar bulan Ramadan dapat menunaikan ibadah dengan lancar,” tutupnya.

Reporter: Rezi

MPU Aceh: Tradisi Meugang Harus Dijaga dan Dimaknai dengan Bijak

0
Suasana meugang di Pasar Kampong Ateuk, Banda Aceh. (Foto: Nukilan/Reji)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Tradisi Meugang, ritual makan daging bersama yang telah menjadi bagian dari budaya masyarakat Aceh, harus terus dilestarikan dan dimaknai dengan bijak. Hal ini disampaikan oleh anggota Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Komisi B, Tgk. H. Abdul Gani Isa, dalam dialog interaktif bersama RRI Banda Aceh, Kamis (27/2/2025).

“Tradisi yang telah menjadi bagian dari budaya masyarakat Aceh ini harus terus berjalan. Karena melalui kegiatan ini dapat memberikan manfaat yang lebih besar,” ujarnya.

Menurutnya, Meugang bukan sekadar perayaan, tetapi juga memiliki nilai sosial dan religius yang mendalam. Ia menegaskan bahwa Meugang seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai ajang hura-hura semata. Lebih dari itu, tradisi ini merupakan momentum untuk berbagi kebahagiaan dengan mereka yang kurang mampu.

“Meugang bisa menjadi kesempatan untuk berbagi dengan masyarakat yang kurang mampu, terutama oleh mereka yang diberikan karunia lebih oleh Allah SWT. Dengan Meugang, orang-orang yang mampu dapat berbagi kepada sesama, sehingga tradisi ini tidak hanya menjadi ritual semata, tetapi juga sebagai bentuk kepedulian sosial,” katanya.

Tgk. H. Abdul Gani Isa juga menekankan pentingnya peran pemerintah daerah dan masyarakat dalam menjaga kelangsungan Meugang. Dukungan dari berbagai pihak diperlukan agar tradisi ini tetap berlangsung dengan manfaat yang maksimal bagi seluruh lapisan masyarakat.

Ia berharap adanya mekanisme yang lebih baik dalam pelaksanaan Meugang, sehingga esensi dan manfaat dari tradisi ini tetap terjaga. Baginya, Meugang tidak hanya soal menikmati hidangan daging, tetapi juga sebagai simbol kebersamaan dan ukhuwah di antara masyarakat Aceh.

“Mari kita teruskan tradisi ini dengan penuh makna dan manfaat,” ajaknya.

Dengan semangat kebersamaan dan kepedulian sosial, Meugang dapat terus menjadi tradisi yang tidak hanya bertahan, tetapi juga semakin memberikan manfaat bagi masyarakat Aceh di masa mendatang.

Editor: AKil

Seorang Remaja Hilang Terseret Arus di Pantai Riting Aceh Besar

0
Upaya pencarian korban tenggelam di Pantai Riting, Aceh Besar, pada Kamis 27 Februari 2025. (Foto: Dok. BPBD Aceh Besar)

NUKILAN.id | Aceh Besar – Seorang remaja berusia 16 tahun dilaporkan hilang dan tenggelam saat berenang di Pantai Riting, Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar pada Kamis (27/2/2025).

Informasi yang diterima Nukilan, korban bernama M Ikhsan Saputra, warga Meunasah Papeun, Kecamatan Krueng Barona Jaya, Kabupaten Aceh Besar, diketahui tenggelam sekitar pukul 13.10 WIB saat sedang berenang bersama teman-temannya.

Menurut keterangan saksi, korban datang ke lokasi wisata bersama rombongan dari balai pengajian tempat ia mengaji. Saat sedang mandi di pantai, korban tiba-tiba terseret arus laut dan langsung tenggelam.

“Korban bersama teman-teman seusianya pergi ke Pantai Riting. Setiba di pantai, mereka mandi bersama. Seketika teman korban melihat korban terseret oleh arus laut dan langsung tenggelam,” kata Maswani, Pusdalops BPBD Aceh Besar.

Setelah menerima laporan kejadian, petugas Pusdalops BPBD Aceh Besar segera meneruskan informasi ke petugas piket Pos SAR Banda Aceh. Tim SAR yang tiba di lokasi langsung melakukan pencarian dengan menggunakan Rubber Boat, sementara sebagian personil gabungan lainnya menyisir bibir pantai.

“Hingga pukul 18.10 WIB, korban masih belum ditemukan. Operasi pencarian untuk hari ini dihentikan karena hari sudah gelap dan akan dilanjutkan kembali pada esok hari.

Reporter: Rezi

Pemkab Aceh Timur Pastikan Harga Bahan Pokok Stabil Jelang Ramadhan

0
Ilustrasi Sembako. (Foto: MC Aceh)

NUKILAN.id | Idi Rayeuk Menjelang bulan suci Ramadhan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Timur memastikan harga bahan pokok di wilayahnya tetap stabil meskipun permintaan meningkat. Melalui Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UKM, pemerintah daerah aktif memantau pergerakan harga untuk mencegah lonjakan yang dapat membebani masyarakat.

Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kabupaten Aceh Timur, Muhammad Oriza, menyatakan bahwa hingga saat ini harga kebutuhan pokok masih terkendali.

“Harga bahan pokok masih stabil sampai saat ini meskipun daya beli mengalami peningkatan menjelang Ramadhan hingga lebaran nanti,” ujarnya, Rabu (26/2/2025).

Sejumlah komoditas utama yang harganya tetap stabil di antaranya beras premium yang dibanderol Rp210 ribu per sak isi 15 kilogram, cabai hijau Rp40 ribu per kilogram, cabai merah Rp50 ribu per kilogram, serta bawang merah Rp35 ribu per kilogram. Selain itu, harga gula dan minyak goreng curah masing-masing tetap di angka Rp19 ribu per kilogram, tepung terigu Rp12 ribu per kilogram, serta daging ayam Rp24 ribu per kilogram.

Untuk kebutuhan protein lain seperti telur ayam, harga per papannya berada di kisaran Rp26 ribu, sementara harga ikan bandeng Rp23 ribu per kilogram, kembung dan tongkol Rp30 ribu per kilogram, serta ikan teri Rp140 ribu per kilogram.

Namun, beberapa komoditas mengalami kenaikan harga, seperti cabai kecil yang naik dari Rp35 ribu menjadi Rp40 ribu per kilogram, serta daging sapi yang sebelumnya Rp150 ribu kini mencapai Rp170 hingga Rp180 ribu per kilogram. Sebaliknya, harga tomat justru mengalami penurunan dari Rp8 ribu menjadi Rp10 ribu per kilogram.

“Kebutuhan pokok yang mengalami kenaikan harga seperti saat ini merupakan hal yang biasa menjelang bulan suci Ramadhan. Apalagi seperti harga daging sapi naik karena daya beli masyarakat meningkat pada saat tradisi meugang,” tambah Muhammad Oriza.

Untuk mengantisipasi lonjakan harga lebih lanjut, Pemkab Aceh Timur telah menyiapkan langkah-langkah strategis, termasuk program pasar murah guna membantu masyarakat mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga terjangkau.

“Kami mengingatkan pedagang tidak menaikkan harga di luar batas kewajaran. Kami mengawasi ketat agar tidak sampai terjadi lonjakan harga pada saat bulan Suci Ramadhan,” tegasnya.

Dengan pasokan yang masih lancar, masyarakat diharapkan dapat menjalani persiapan Ramadhan dengan tenang tanpa khawatir terhadap lonjakan harga yang drastis.

Editor: Akil

Tim Kesehatan Hewan Disnak Aceh Periksa Hewan Ternak untuk Meugang

0
Tim Kesehatan Hewan Disnak Aceh Periksa Hewan Ternak untuk Meugang. (Foto: MC Aceh)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Menjelang tradisi meugang Ramadan 1446 Hijriah, Dinas Peternakan (Disnak) Provinsi Aceh menurunkan tim kesehatan hewan untuk memastikan kondisi ternak yang akan disembelih dalam keadaan sehat dan layak dikonsumsi. Pemeriksaan dilakukan terutama terhadap hewan yang disembelih di luar rumah potong hewan.

Kepala Dinas Peternakan Aceh, Zalsufran, menyatakan bahwa tim kesehatan hewan melakukan pemeriksaan secara kasat mata, mencermati kondisi fisik ternak, kesehatan mulut, serta tanda-tanda penyakit lainnya. Pemeriksaan ini berlangsung di berbagai peternakan masyarakat, salah satunya di kawasan Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar.

“Pemeriksaan kesehatan untuk memastikan hewan ternak yang disembelih pada saat tradisi meugang dalam kondisi baik dan aman dikonsumsi. Pemeriksaan kesehatan ternak tersebut sudah berlangsung sejak beberapa hari terakhir,” ujar Zalsufran, Kamis (27/2/2025).

Ia menambahkan, apabila ditemukan hewan ternak yang sakit, maka penyembelihan tidak diperbolehkan demi menjaga keamanan pangan. Hewan yang sakit akan ditangani lebih lanjut oleh petugas kesehatan hewan.

“Sedangkan, hewan ternak yang disembelih di rumah potong hewan sudah diperiksa oleh petugas kesehatan hewan setempat. Secara umum, hewan ternak untuk tradisi meugang di Aceh dalam kondisi sehat,” lanjutnya.

Berdasarkan data dari Dinas Peternakan Provinsi Aceh, jumlah hewan ternak yang disiapkan untuk tradisi meugang tahun ini mencapai 33.992 ekor sapi dan kerbau, 18.453 ekor kambing, 7.905 ekor domba, serta 1.720 ekor ayam.

Pemeriksaan kesehatan ini menjadi langkah penting untuk memastikan daging yang dikonsumsi masyarakat dalam keadaan layak dan berkualitas, sejalan dengan tradisi meugang yang selalu dinantikan oleh warga Aceh menjelang Ramadan.

Editor: AKil

Kapolda Aceh Serahkan 3.450 Paket Sembako dan Daging Meugang dalam Baksos Polri Presisi

0
NUKILAN.id | Banda Aceh – Kapolda Aceh Irjen Achmad Kartiko menyerahkan secara simbolis 3.450 paket sembako dan daging meugang dalam rangka bakti sosial (baksos) Polri Presisi di Aula Meuligo Polda Aceh, Kamis, 27 Februari 2025. Kegiatan ini melibatkan mahasiswa, aliansi BEM, organisasi kepemudaan (OKP), masyarakat, dan insan pers.
“Menjelang bulan suci Ramadan, Polda Aceh bersama 23 Polres/ta jajaran membagikan secara serentak 3.450 paket sembako dan daging kepada masyarakat. Rinciannya, 2.450 paket sembako dan 1.000 paket daging meugang,” kata Achmad Kartiko.
Ia menambahkan, Ramadan adalah bulan penuh berkah yang mengajarkan pentingnya berbagi, saling membantu, serta mempererat persaudaraan dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu, Polda Aceh bersama berbagai elemen masyarakat menggelar baksos ini sebagai bentuk kepedulian dan pengabdian kepada sesama, khususnya bagi yang membutuhkan.
“Tradisi meugang merupakan warisan budaya khas Aceh yang tidak ditemukan di daerah lain. Meugang bukan sekadar menikmati hidangan daging, tetapi juga melambangkan kebersamaan, keikhlasan, dan kepedulian sosial. Melalui pembagian daging ini, kami berharap saudara-saudara kita yang kurang mampu tetap dapat merasakan tradisi ini dalam menyambut Ramadan,” ujarnya.
Kapolda Aceh yang merupakan abituren Akabri 1991 itu juga mengapresiasi keterlibatan mahasiswa, organisasi kemahasiswaan, insan pers, serta berbagai pihak dalam kegiatan baksos ini. Menurutnya, partisipasi aktif generasi muda menunjukkan bahwa mahasiswa dan pemuda Aceh memiliki kepedulian tinggi terhadap sesama.
“Inilah harapan kita bersama, agar generasi muda terus menanamkan nilai-nilai sosial, kebersamaan, dan empati terhadap lingkungan sekitar,” katanya.
Selain itu, ia mengajak seluruh masyarakat menjadikan Ramadan sebagai momentum untuk mempererat persatuan dan kesatuan, menjaga situasi kamtibmas yang kondusif, serta menebar kebaikan kepada sesama.
“Polda Aceh siap mendukung dan bekerja sama dengan seluruh elemen masyarakat demi menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan damai bagi kita semua,” tuturnya.
Kapolda berharap, melalui kegiatan baksos ini, kesadaran akan pentingnya berbagi semakin meningkat. Apa yang dilakukan hari ini mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi penerima manfaat, bantuan ini sangat berarti.
“Semoga kebaikan yang kita tanam hari ini menjadi ladang amal ibadah yang dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT. Terima kasih kepada panitia dan seluruh pihak yang telah mendukung kegiatan ini. Semoga niat baik ini membawa keberkahan bagi kita semua,” demikian, tutupnya.
Kegiatan tersebut juga terhubung secara virtual dengan baksos Polri Presisi yang dilaksanakan Mabes Polri. Kapolda Aceh juga melakukan interaktif secara vidcon dengan Polres/ta jajaran.