Beranda blog Halaman 481

Jemaah Haji Aceh 2025 Terbagi dalam 12 Kloter, Ini Daftarnya

0
Jemaah haji Indonesia. (Foto: Detik.com)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Aceh resmi menetapkan kelompok terbang (kloter) jemaah haji Embarkasi Aceh untuk tahun 1446 H/2025 M. Sebanyak 12 kloter telah terbentuk setelah melalui sistem qur’ah (undian) dalam rapat konsultasi yang berlangsung pada 24-25 Maret lalu.

Rapat tersebut dihadiri oleh kepala kantor Kemenag kabupaten/kota serta Kepala Seksi Penyelenggaraan Haji dan Umrah se-Provinsi Aceh. Kepala Kanwil Kemenag Aceh, Azhari, menegaskan bahwa penetapan kloter dilakukan secara adil demi kelancaran perjalanan ibadah haji.

“Alhamdulillah, proses qur’ah kloter jamaah haji Aceh telah selesai beberapa waktu lalu. Penetapannya dilakukan berdasarkan undian demi keadilan. Kita bersyukur, seluruh kloter jemaah haji Aceh sudah terbentuk dengan total 12 kloter,” ujar Azhari dalam keterangannya, Minggu (30/3/2025).

Koordinasi dan Pelayanan Ditingkatkan

Dengan terbentuknya kloter ini, Azhari berharap koordinasi dan pelayanan bagi jemaah haji Aceh dapat berjalan lebih baik. Tahun ini, Aceh mendapat kuota sebanyak 4.378 orang, termasuk 36 petugas daerah dan 13 dari Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU).

Menurut Azhari, jemaah akan diberangkatkan menggunakan maskapai Garuda Indonesia dengan kapasitas 393 orang per penerbangan. Kloter-kloter dari Aceh akan diberangkatkan pada gelombang kedua, yang dijadwalkan mulai terbang sekitar pertengahan Mei.

Imbauan bagi Jemaah

Azhari juga mengingatkan para jemaah yang memenuhi kriteria pelunasan tahap II dan telah memenuhi persyaratan istitha’ah kesehatan untuk segera melakukan pelunasan. Periode pelunasan tahap II berlangsung dari 24 Maret hingga 17 April.

Selain itu, Azhari meminta Kepala Kantor Kemenag kabupaten/kota untuk segera berkoordinasi dengan pemerintah daerah masing-masing guna membahas mekanisme pemberangkatan dan pemulangan jemaah. Hal ini sesuai dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2019 tentang penyelenggaraan ibadah haji dan umrah.

Daftar Kloter Jemaah Haji Aceh 2025

Berikut pembagian kloter jemaah haji Aceh tahun ini:

  • Kloter Aceh (BTJ) 01: Banda Aceh.
  • Kloter 02: Aceh Jaya, Aceh Timur, Aceh Utara, Banda Aceh, Pidie.
  • Kloter 03: Aceh Tengah, Banda Aceh, Bener Meriah.
  • Kloter 04: Aceh Barat, Gayo Lues, Lhokseumawe.
  • Kloter 05: Aceh Barat Daya, Aceh Besar, Nagan Raya, Pidie Jaya.
  • Kloter 06: Aceh Selatan, Aceh Singkil, Aceh Tenggara, Simeulue, Subulussalam.
  • Kloter 07: Aceh Tamiang, Langsa, Sabang.
  • Kloter 08: Pidie.
  • Kloter 09: Bireuen.
  • Kloter 10: Aceh Utara.
  • Kloter 11: Aceh Besar.
  • Kloter 12: Banda Aceh.

Dengan pembagian ini, jemaah haji dari seluruh Aceh diharapkan dapat menjalani ibadah dengan lebih nyaman dan terorganisir. Semua pihak terkait diminta terus berkoordinasi demi kelancaran pemberangkatan dan kepulangan jemaah haji tahun ini.

Editor: Akil

Gempa Darat Guncang Aceh Besar, Terasa hingga Banda Aceh

0
Ilustrasi Gempa. (Foto: Antara)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 3,8 mengguncang Kabupaten Aceh Besar, Nanggroe Aceh Darussalam, Rabu (2/4/2025) pagi. Guncangan ini terasa hingga Banda Aceh dan beberapa wilayah di sekitarnya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan gempa terjadi pada pukul 07.29 WIB. “Pusat gempa berada di darat 38 kilometer barat laut Jantho,” demikian informasi yang dibagikan melalui akun X resmi @infoBMKG. Gempa ini terjadi pada kedalaman lima kilometer.

BMKG juga mengungkapkan bahwa pusat gempa terletak pada koordinat 5,55 derajat Lintang Utara (LU) dan 95,46 derajat Bujur Timur (BT). Getaran dirasakan cukup jelas di Banda Aceh dan Aceh Besar, bahkan mencapai Aceh Selatan.

Berdasarkan data BMKG, guncangan terbesar dirasakan nyata di dalam rumah, menyerupai getaran saat truk besar melintas. “Dirasakan (MMI) II-III Banda Aceh, II-III Aceh Besar, III Aceh Selatan,” tulis BMKG.

Hingga saat ini, belum ada laporan mengenai kerusakan atau dampak signifikan akibat gempa tersebut. Namun, BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi gempa susulan.

Aceh termasuk wilayah yang rawan aktivitas seismik karena berada di zona pertemuan lempeng tektonik. Oleh karena itu, BMKG terus memantau perkembangan dan memberikan informasi terkini kepada masyarakat.

Editor: Akil

Revisi UU TNI dan Bayang-Bayang Politik Komando

0
Ilustrasi Dwifungsi TNI. (Foto: Tempo/Kuswoyo)

NUKILAN.id | Opini – Revisi Undang-Undang Tentara Nasional Indonesia (UU TNI) semakin memperkuat dugaan bahwa Presiden Prabowo Subianto tengah membangun sistem politik berbasis komando dalam pemerintahannya. Dalam struktur militer, loyalitas tanpa syarat dan kepatuhan mutlak menjadi prinsip utama. Namun, ketika prinsip ini diterapkan dalam birokrasi sipil, potensi penyimpangan terhadap nilai-nilai demokrasi menjadi tak terhindarkan.

Revisi UU TNI membuka jalan bagi peningkatan peran prajurit aktif dalam birokrasi sipil. Jika sebelumnya hanya 10 instansi yang bisa diisi oleh prajurit aktif, kini jumlahnya bertambah menjadi 15. Ini bukan sekadar upaya menyalurkan para perwira tanpa jabatan, melainkan langkah strategis dalam membangun sistem pemerintahan yang tunduk pada pola komando. Dalam birokrasi sipil, kebebasan berpikir dan fleksibilitas kebijakan adalah kunci keberhasilan. Namun, dengan dominasi perwira aktif, risiko penyeragaman kebijakan yang kaku dan minimnya ruang perdebatan semakin besar.

Prabowo bukan sekadar mencari posisi bagi para juniornya di TNI. Ia tengah merancang cita-cita besar: membangun pemerintahan terpimpin ala Cina. Dalam bukunya Paradoks Indonesia dan Solusinya (2022), Prabowo menyampaikan gagasan tentang kapitalisme negara dan politik komando sebagai resep Indonesia maju. Salah satu implementasinya adalah pembentukan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara), yang menggabungkan perusahaan-perusahaan negara dalam satu wadah dengan kendali langsung dari pemerintah. Revisi UU TNI menjadi elemen tambahan dalam upaya mewujudkan birokrasi yang lebih terpusat dan tunduk pada kepemimpinan komando.

Tidak sulit melihat siapa saja yang berada di balik dorongan revisi ini. Menteri Pertahanan Yudo Margono, yang memiliki kedekatan dengan Prabowo, menjadi pendorong utama revisi ini. Wakil Ketua DPR, Sufmi Dasco Ahmad dari Partai Gerindra, turut mengawal pembahasannya di parlemen. Bahkan, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), yang sebelumnya berada di luar koalisi Prabowo, kini menjadi motor pembahasan. Hal ini tak lepas dari dinamika politik yang berkembang, terutama terkait tekanan hukum terhadap sejumlah kader PDIP, termasuk Sekretaris Jenderal Hasto Kristiyanto yang menjadi tersangka dalam kasus korupsi. Alih-alih mengambil sikap oposisi, PDIP memilih berdamai dengan pemerintah demi kepentingan politik yang lebih besar.

Yang menjadi pertanyaan besar, mengapa revisi UU TNI melaju mulus di DPR meskipun menyalahi prosedur legislasi? Rancangan undang-undang ini tidak masuk dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas 2025 yang telah diputuskan DPR dalam rapat paripurna akhir tahun lalu. Selain itu, meskipun merupakan inisiatif pemerintah, DPR memperlakukannya seolah-olah mereka yang menggagasnya. Parlemen yang seharusnya menjadi benteng demokrasi justru berubah menjadi pelindung utama revisi yang mengancam prinsip-prinsip reformasi.

Revisi ini secara nyata menghidupkan kembali dwifungsi TNI yang telah dihapus dalam era reformasi. Dengan keterlibatan tentara dalam berbagai sektor dan perpanjangan masa dinas, Indonesia bergerak mundur ke era Orde Baru, ketika militer tidak hanya bertanggung jawab atas pertahanan, tetapi juga memainkan peran dominan dalam pemerintahan sipil.

Lebih jauh, revisi ini juga dapat dilihat sebagai upaya menjustifikasi kesalahan masa lalu. Di era Presiden Joko Widodo, setidaknya terdapat 2.500 tentara aktif yang bekerja di lembaga sipil, baik yang sesuai maupun di luar ruang lingkup UU TNI. Dengan revisi ini, Prabowo seolah-olah sedang melegitimasi praktik tersebut dan menyempurnakan sistem yang telah ada.

Namun, di balik semua itu, ada dimensi politik yang tak kalah menarik. Hubungan Prabowo dan Jokowi tidak bisa dipisahkan dari dinamika kekuasaan. Prabowo berutang budi kepada Jokowi yang telah menyelamatkannya dari keterpurukan politik setelah dua kali kalah dalam pemilihan presiden. Jokowi, di sisi lain, membutuhkan Prabowo untuk memastikan perlindungan politik pasca-kekuasaan. Dengan segala sumber daya negara yang kini dapat dikendalikan, Prabowo bukan sekadar presiden, tetapi juga pemimpin dengan kekuasaan yang tak terbatas.

Dalam situasi ini, suara kritik dari publik nyaris tak didengar. Prabowo tampak menutup telinga terhadap berbagai peringatan mengenai dampak negatif revisi UU TNI terhadap demokrasi. Padahal, jika revisi ini diteruskan, Indonesia berisiko kehilangan esensi reformasi yang telah diperjuangkan sejak 1998. Demokrasi yang diperoleh dengan perjuangan panjang bisa saja berubah menjadi sekadar ilusi di bawah kendali politik komando.

Revisi UU TNI bukan hanya tentang restrukturisasi peran militer dalam birokrasi, tetapi juga tentang arah masa depan demokrasi Indonesia. Jika revisi ini menjadi kenyataan, maka perjalanan Indonesia menuju pemerintahan yang lebih demokratis bisa saja berbalik arah, kembali ke pola lama yang pernah dikritik habis-habisan dalam sejarah reformasi. Pertanyaannya kini: akankah publik membiarkan hal ini terjadi? (XRQ)

Penulis: Akil

TTI Desak PPK Batalkan Pemenang Tender Aplikasi Platform TNI AL

0
TTI Desak PPK Batalkan Pemenang Tender Aplikasi Platform TNI AL. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.id | Jakarta – Transparansi Tender Indonesia (TTI) mendesak Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dalam pengadaan aplikasi Platform for Orchestrating Social Tasks untuk TNI Angkatan Laut agar membatalkan pemenang tender. Pemenang yang ditetapkan, PT Juwita Samudera Kencana, dinilai tidak memenuhi syarat kualifikasi pengalaman perusahaan dalam satu tahun terakhir untuk jenis pekerjaan yang sama.

Perusahaan tersebut memenangkan tender dengan nilai penawaran Rp 94,86 miliar dari Harga Perkiraan Sendiri (HPS) sebesar Rp 95 miliar, atau 98,94 persen dari total HPS. Namun, berdasarkan ketentuan yang berlaku, peserta tender harus memiliki pengalaman penyediaan barang dalam divisi yang sama minimal satu pekerjaan dalam satu tahun terakhir, baik di lingkungan pemerintah maupun swasta, termasuk pengalaman sebagai subkontraktor.

Selain itu, ada ketentuan bahwa penyedia barang harus memiliki pengalaman dalam kelompok/grup yang sama minimal satu pekerjaan dalam tiga tahun terakhir, serta memiliki nilai pekerjaan sejenis tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir sebesar paling kurang 50 persen dari nilai HPS/Pagu Anggaran.

“Dari data yang kami himpun, PT Juwita Samudera Kencana memiliki nol pengalaman dalam proyek sejenis, sehingga tidak layak ditetapkan sebagai pemenang tender,” ujar Nasruddin Bahar, Koordinator TTI.

TTI juga mencurigai adanya indikasi persekongkolan dalam proses tender ini. Dugaan ini muncul dari pola penawaran harga yang dinilai terlalu mendekati HPS. Menurut Nasruddin, indikasi persekongkolan bisa diperiksa melalui uji forensik terhadap dokumen penawaran seluruh peserta tender.

“Jika ditemukan adanya kesamaan IP address dalam proses pengunggahan dokumen, kesalahan kalimat yang identik dalam dokumen tender, atau nomor seri jaminan penawaran yang berurutan, maka dapat dipastikan telah terjadi pengaturan dalam proses tender ini,” tambahnya.

Untuk itu, TTI meminta Inspektorat melakukan investigasi menyeluruh guna memastikan transparansi dan akuntabilitas dalam proses pengadaan proyek ini.

Editor: AKil

Warkop dan Kafe di Aceh Selatan Diserbu Pengunjung Saat Lebaran

0
Suasana malam di Kafe Jasa Barata. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.idTapaktuan – Suasana Kota Fajar, Kabupaten Aceh Selatan, berubah drastis saat momen Lebaran. Jika pada hari-hari biasa kawasan ini cenderung lengang, kini warkop dan kafe dipenuhi ribuan pengunjung yang datang dari berbagai daerah. Suasana malam pun semakin meriah dengan tawa dan obrolan hangat di antara para pengunjung yang menikmati momen kebersamaan.

Salah satu tempat yang menjadi magnet bagi para pemuda adalah Kafe Jasa Barata di Kedai Runding. Kafe ini tak hanya menawarkan lokasi strategis dan desain yang Instagramable, tetapi juga beragam menu lezat yang menggugah selera.

Randy, salah seorang pengunjung, mengungkapkan kesannya saat menikmati suasana malam di kafe tersebut.

“Saya sangat senang bisa berkumpul bersama teman-teman di sini. Atmosfernya begitu hangat, ditambah lagi makanan dan minuman yang disajikan benar-benar menggugah selera,” ujarnya kepada Nukilan.id, Selasa (1/4/2025) malam.

Menurutnya, Jasa Barata tak hanya dipadati warga lokal, tetapi juga para perantau yang kembali ke kampung halaman untuk merayakan Lebaran.

“Saya sendiri biasanya tinggal di luar daerah untuk bekerja, tapi saat Lebaran seperti ini, rasanya lengkap jika bisa kembali ke kampung halaman dan menikmati momen bersama keluarga dan teman-teman,” tambahnya.

Tak hanya Jasa Barata, sejumlah warkop dan kafe lainnya di Kota Fajar juga mengalami lonjakan pengunjung selama perayaan Lebaran. Banyak warga yang memanfaatkan momen ini untuk bersantai sambil menikmati hidangan khas dan berbagi cerita dengan kerabat yang lama tak berjumpa.

Lebaran memang menjadi saat yang dinanti-nantikan, terutama bagi mereka yang merantau. Momen ini bukan sekadar perayaan, tetapi juga ajang mempererat kembali tali silaturahmi dan menikmati kebersamaan di kampung halaman. (XRQ)

Reporter: Akil

Delapan Nyawa Melayang dalam Lakalantas Arus Mudik di Aceh

0
Ilustrasi kecelakaan. (Foto: IDN Times)

NUKILAN.idBanda Aceh – Delapan orang dilaporkan meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas selama arus mudik Idul Fitri 1446 Hijriah di Aceh. Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Aceh mencatat, kecelakaan terjadi dalam rentang waktu 26 hingga 31 Maret 2025, dengan total 24 insiden yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota di wilayah hukum Polda Aceh.

“Selama arus mudik Idul Fitri 1446 Hijriah atau rentang waktu 26 hingga 31 Maret 2025, tercatat delapan orang meninggal dunia dalam kecelakaan lalu lintas di wilayah hukum Polda Aceh,” ujar Direktur Lalu Lintas Polda Aceh Kombes Pol M Iqbal Alqudusy di Banda Aceh, Selasa (1/4/2025).

Selain korban jiwa, sebanyak 35 orang mengalami luka ringan akibat kecelakaan yang terjadi di jalan raya. Sementara itu, di ruas Jalan Tol Sigli-Banda Aceh (Sibanceh), empat kecelakaan tercatat selama Operasi Ketupat Seulawah yang dimulai pada 26 Maret 2025. Dalam kejadian di tol tersebut, tiga orang mengalami luka ringan.

Kelelahan dan Mengantuk Jadi Pemicu Utama

Menurut Kombes Pol M Iqbal Alqudusy, sekitar 30 persen dari total kecelakaan lalu lintas pada arus mudik tahun ini disebabkan oleh pengemudi yang mengantuk dan kelelahan.

“Oleh karena itu, kami mengimbau para pengemudi kendaraan pribadi untuk beristirahat jika merasa lelah. Sedangkan untuk angkutan umum, penting untuk menggunakan sopir cadangan dalam perjalanan jarak jauh,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan para pengendara untuk memanfaatkan pos-pos Operasi Ketupat Seulawah 2025 yang tersedia di seluruh wilayah Aceh sebagai tempat beristirahat. Selain itu, ia mengingatkan agar para pengemudi tidak memacu kendaraan dalam kecepatan tinggi, terutama saat kondisi hujan.

“Jika merasa mengantuk di perjalanan, disarankan beristirahat di tempat yang tersedia seperti pos-pos Operasi Ketupat Seulawah 2025 di seluruh wilayah Aceh. Berhati-hatilah saat berkendara. Jangan mengemudi dalam kecepatan tinggi, terutama ketika hujan,” imbaunya.

Jalan Rusak dan Hewan Ternak Jadi Ancaman Tambahan

Selain faktor kelelahan, Ditlantas Polda Aceh sebelumnya telah memperingatkan masyarakat untuk mewaspadai 40 titik rawan kecelakaan lalu lintas akibat kondisi jalan yang rusak. Titik-titik berbahaya ini tersebar di 19 wilayah hukum polres jajaran Polda Aceh, mencakup jalur lintas pantai timur, tengah, serta pantai barat dan selatan Aceh.

Tak hanya itu, pengguna jalan juga diminta untuk berhati-hati terhadap hewan ternak yang berkeliaran di jalan raya.

“Pemerintah Aceh juga sudah mengimbau masyarakat tidak melepaskan hewan ternak ke jalan raya karena berpotensi menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Kecelakaan lalu lintas yang disebabkan hewan ternak sering terjadi,” kata M Iqbal Alqudusy.

Dengan meningkatnya volume kendaraan selama mudik, Ditlantas Polda Aceh terus mengingatkan masyarakat agar selalu berhati-hati, mematuhi rambu lalu lintas, dan mengutamakan keselamatan dalam perjalanan.

Editor: Akil

ASDP Banda Aceh Tambah Lima Trip per Hari untuk Antisipasi Lonjakan Pemudik

0
Kapal Aceh Hebat 2 angkut wisatawan yang berlibur ke pulau sabang di hari lebaran. (Foto: Republika)

NUKILAN.ID | Banda Aceh – PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Banda Aceh menambah lima trip per hari untuk rute penyeberangan Ulee Lheue, Banda Aceh–Balohan, Sabang, guna mengantisipasi lonjakan pemudik yang terus meningkat selama periode arus balik Lebaran 2025. Kebijakan ini berlaku mulai 1 April hingga 5 April atau H+6 Lebaran.

General Manager ASDP Cabang Banda Aceh, Rudy B Hanafiah, mengatakan bahwa peningkatan jadwal keberangkatan kapal roro dilakukan demi memberikan layanan optimal bagi masyarakat yang hendak kembali ke Sabang setelah libur Lebaran.

“Untuk peningkatan menjadi lima trip sementara ini dimulai dari hari ini sampai tanggal 5 April, selanjutnya kembali ke empat trip,” ujar Rudy di Banda Aceh, Selasa (1/4/2025).

Penambahan jadwal ini diberlakukan sejak 1 April atau H+2 Lebaran 1446 Hijriah, menyusul lonjakan penumpang di Pelabuhan Ulee Lheue. Berdasarkan perkiraan ASDP, jumlah penumpang pada H+2 Lebaran mencapai 1.500 orang per hari, meningkat drastis dibandingkan kondisi normal yang hanya sekitar 600 penumpang per hari.

“Karena itu, kami menambah trip untuk mengantisipasi lonjakan penumpang yang sudah mulai terlihat sejak hari ini sesuai dengan prediksi kami,” tambah Rudy.

Selama periode arus balik Lebaran 2025, ASDP mengoperasikan dua kapal utama, yakni KMP Aceh Hebat 2 dan KMP BRR. Adapun jadwal keberangkatan kapal yang berlaku selama penambahan trip ini adalah sebagai berikut:

  • Trip pertama: 08.00 WIB
  • Trip kedua: 11.00 WIB
  • Trip ketiga: 14.00 WIB
  • Trip keempat: 17.00 WIB
  • Trip kelima: 20.00 WIB

Kebijakan ini diharapkan dapat mengurangi kepadatan di pelabuhan serta memastikan kelancaran perjalanan pemudik yang kembali ke Sabang setelah merayakan Idulfitri di daratan Aceh. ASDP juga mengimbau masyarakat untuk memanfaatkan layanan pembelian tiket secara daring guna menghindari antrean panjang di pelabuhan.

Editor: Akil

Mendewakan Habib: Mentalitas Feodal yang Terwariskan

0
Ilustrasi Mendewakan Habib. (Foto: Tempo)

NUKILAN.id | Opini – Pengagungan terhadap seseorang berdasarkan garis keturunan merupakan salah satu bentuk feodalisme yang masih lestari di masyarakat kita. Salah satu contohnya adalah pemujaan berlebihan terhadap mereka yang menyandang gelar Habib—sebutan bagi keturunan Nabi Muhammad. Tidak jarang, mereka yang memiliki gelar ini dianggap memiliki kedudukan sosial lebih tinggi, bahkan dijadikan panutan tanpa mempertimbangkan rekam jejak moral maupun legalnya.

Fenomena ini mencerminkan dua karakter masyarakat Indonesia yang dikritik oleh sastrawan dan jurnalis Mukhtar Lubis dalam bukunya Manusia Indonesia, yakni berjiwa feodal dan bermental inferior. Feodalisme ini terus hidup dalam alam bawah sadar kita, diwariskan dari generasi ke generasi, dan bahkan semakin menguat di era modern. Feodalisme agama yang mengagungkan keturunan Nabi menjadi jalan pintas bagi sebagian orang untuk mendapatkan pengaruh dan kekuasaan, meskipun tidak memiliki kapasitas keilmuan atau akhlak yang baik.

Feodalisme Agama dan Kasus Habib Palsu

Kepercayaan membuta terhadap keturunan Nabi kerap dimanfaatkan oleh segelintir orang demi kepentingan pribadi. Kasus-kasus penipuan dengan kedok nasab mulia semakin marak terjadi. Misalnya, beberapa tahun terakhir di Kalimantan Selatan, sejumlah individu mengaku sebagai Habib dan mengumpulkan pengikut demi keuntungan pribadi. Salah satu kasus yang mencuat adalah perkara Ahmadan Asegab, yang dikenal dengan inisial JMW oleh pihak kepolisian. Ia menggunakan platform daring, termasuk WhatsApp dan blog pribadi, untuk mengklaim dirinya sebagai keturunan Nabi dan menawarkan jasa pencatatan nasab bagi orang-orang yang ingin menyandang status Habib. Tidak sedikit yang rela mengeluarkan uang demi gelar tersebut.

Fakta bahwa ada individu yang rela membayar demi gelar Habib menunjukkan bagaimana feodalisme agama masih mengakar kuat. Gelar tersebut dianggap sebagai modal sosial yang berharga, yang dapat membuka akses terhadap kedudukan religius, kehormatan, dan bahkan kekuasaan. Masyarakat yang masih terjebak dalam mentalitas inferior akhirnya menerima klaim-klaim ini tanpa kritis.

Warisan Kolonial yang Tak Kunjung Luntur

Mentalitas inferior yang melahirkan feodalisme ini sebenarnya bukan sesuatu yang muncul tiba-tiba. Sejarah mencatat bahwa sistem sosial kolonial turut membentuk pola pikir tersebut. Pada masa Hindia Belanda, masyarakat dibagi menjadi tiga kelas: Eropa sebagai kelas tertinggi, Timur Asing (termasuk keturunan Arab dan Cina) sebagai kelas menengah, dan Bumiputra di lapisan terbawah. Ketidaksetaraan ini lambat laun diterima sebagai sesuatu yang alami, hingga membentuk perasaan rendah diri yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Psikolog Alfred Adler pernah menjelaskan bahwa individu yang memiliki perasaan rendah diri cenderung mengkompensasi kekurangannya dengan cara berlebihan. Dalam konteks ini, masyarakat yang mengalami inferioritas secara historis cenderung mencari sesuatu untuk dipuja, dan salah satu bentuknya adalah mengagungkan keturunan Nabi secara tidak rasional. Feodalisme agama yang terbentuk akibat warisan kolonial ini membuat masyarakat menerima tanpa kritis segala klaim kemuliaan nasab, meskipun tidak ada bukti konkret yang mendukungnya.

Meruntuhkan Feodalisme Agama

Sudah saatnya masyarakat Indonesia mengikis warisan feodalisme agama ini. Menghormati keturunan Nabi tentu bukan sesuatu yang salah, tetapi mendewakan mereka tanpa mempertimbangkan kualitas pribadi, moral, dan intelektualitasnya adalah bentuk kepatuhan buta yang bisa merugikan. Agama mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh garis keturunan, tetapi oleh ketakwaan dan perbuatannya.

Buya Hamka pernah berkata bahwa mengistimewakan keturunan Nabi secara berlebihan justru bertentangan dengan ajaran Islam yang menekankan kesetaraan manusia. Sebab, tidak ada satu pun manusia yang lahir dengan keistimewaan absolut hanya karena garis keturunannya.

Menjadi tugas kita bersama untuk menumbuhkan sikap kritis terhadap figur-figur yang diagungkan atas dasar nasab semata. Feodalisme agama harus dikikis agar masyarakat bisa menilai seseorang berdasarkan integritas dan kompetensinya, bukan sekadar karena status turun-temurun. Jika mentalitas feodal ini terus dipertahankan, bukan tidak mungkin kita akan terus terjebak dalam lingkaran pemujaan tanpa alasan yang rasional. (XRQ)

Penulis: Akil

Oprit Jembatan Natam Aceh Tenggara Putus Dihantam Derasnya Sungai Lawe Alas

0
Oprit Jembatan Natam Aceh Tenggara Putus Dihantam Derasnya Sungai Lawe Alas. (Foto: RRI)

NUKILAN.id | Kuta Cane – Hujan deras yang mengguyur wilayah Aceh Tenggara menyebabkan debit air Sungai Lawe Alas meningkat drastis, hingga akhirnya menghantam oprit Jembatan Natam di Desa Simpang Empat Tanjung, Kecamatan Darul Hasanah, Selasa (1/4/2025) sekitar pukul 12.30 WIB. Akibatnya, akses jalan dari Desa Natam, Kecamatan Badar menuju Desa Simpang Empat Tanjung terputus total.

Kepala Pelaksana BPBD Aceh Tenggara, Mohd. Asbi, melalui laporan Pusdalops-PB membenarkan kejadian tersebut. Ia menyebut abrasi yang terjadi di sisi timur jembatan itu merupakan dampak langsung dari intensitas hujan yang tinggi sejak beberapa hari terakhir.

“Debit Sungai Lawe Alas meningkat akibat intensitas hujan sedang hingga tinggi yang mengguyur wilayah Aceh Tenggara sehingga menghantam oprit jembatan tersebut,” jelasnya.

Saat ini, jalur tersebut belum dapat dilalui. Warga yang hendak menuju Kecamatan Darul Hasanah dari Kota Kuta Cane disarankan untuk menggunakan jalur alternatif melalui Jembatan Mbarung.

Pihak pemerintah daerah telah turun ke lokasi untuk meninjau kondisi jembatan dan berkoordinasi dengan instansi terkait guna mencari solusi terbaik agar akses transportasi masyarakat dapat segera kembali normal.

Editor: AKil

Wali Kota Banda Aceh Gelar Open House Lebaran, Anak-Anak Dapat THR

0
Wali Kota Banda Aceh Gelar Open House Lebaran. (Foto: ANTARA)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Suasana hangat dan penuh kebersamaan menyelimuti Pendopo Wali Kota Banda Aceh pada hari pertama Idul Fitri 1446 Hijriah. Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, menggelar open house sebagai ajang silaturahmi dengan warga kota, Senin (31/3/2025). Acara ini disambut antusias oleh masyarakat yang datang untuk bersilaturahmi dan menikmati hidangan yang telah disediakan.

“Mudah-mudahan, insyaallah, di Idul Fitri semuanya mendapatkan keberkahan dari Allah, dan semuanya bisa lahir bersih, putih, sebagaimana ibadah yang sudah kita jalankan selama bulan Ramadan,” ungkap Illiza.

Masyarakat yang hadir tampak menikmati suasana lebaran dengan penuh suka cita. Tak hanya orang dewasa, anak-anak pun turut merasakan kebahagiaan. Dalam kesempatan tersebut, Illiza membagikan tunjangan hari raya (THR) kepada anak-anak yang datang ke open house. Wajah ceria anak-anak yang menerima THR menambah kehangatan suasana perayaan.

“Alhamdulillah, kita melihat masyarakat sangat antusias,” katanya.

Selain berbagi kebahagiaan, Illiza juga mengingatkan warga dan pendatang di Banda Aceh untuk tetap menjaga ketertiban dan kebersihan selama perayaan Idul Fitri.

“Siapapun yang datang ke Banda Aceh harus benar-benar juga menjaga ketertiban, tetap menjaga kebersihan lingkungan,” ujarnya.

Tak hanya itu, ia juga mengimbau masyarakat agar lebih waspada saat meninggalkan rumah untuk bersilaturahmi.

“Rumah-rumah ketika ditinggalkan harus betul-betul diperiksa dengan cukup baik, karena memang di bulan Syawal seperti ini banyak hal yang harus benar-benar dijaga. Terutama juga rawan kalau rumah ditinggal dalam keadaan tidak dikunci,” katanya.

Acara open house ini menjadi momentum bagi warga Banda Aceh untuk merayakan Idul Fitri bersama, mempererat silaturahmi, serta berbagi kebahagiaan dengan sesama.

Editor: AKil