Beranda blog Halaman 383

Gubernur Aceh Ajak Jadikan Maulid Nabi Momentum Bangun Aceh Islami

0
Jamaah Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh saat mendengar ceramah agama dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah, di Banda Aceh, Kamis malam (4/9/2025). (Foto: ANTARA)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau yang akrab disapa Mualem mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai titik tolak memperbaiki diri sekaligus memperkuat tekad membangun Aceh yang Islami.

Amatan Nukilan.id hal itu disampaikan Mualem dalam sambutannya yang dibacakan Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Aceh, Zulkifli, di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, Kamis (4/9/2025) malam.

“Marilah, maulid Nabi Muhammad SAW ini kita jadikan titik tolak untuk memperbaiki diri, mempererat ukhuwah, dan bertekad membangun Aceh yang Islami, maju, bermartabat dan berkelanjutan,” kata Mualem.

Menurut Mualem, peringatan Maulid Nabi tidak hanya sekadar ritual tahunan, melainkan momen penting untuk meneladani akhlak Rasulullah yang menjadi cahaya kebenaran bagi umat.

“Beliau adalah teladan kejujuran, amanah, keadilan, dan kepedulian, yang harus kita hadirkan dalam kehidupan masyarakat dan pembangunan Aceh,” ujarnya.

Ia menekankan, Aceh memiliki khazanah sejarah panjang, nilai-nilai Islami yang kental, serta kekayaan alam yang melimpah. Namun, semua itu hanya akan bermakna apabila dikelola dengan akhlak mulia.

“Karena itu, pembangunan Aceh ke depannya harus seimbang, yaitu membangun infrastruktur dan ekonomi, sekaligus membentuk generasi yang berkarakter, berilmu, dan berakhlakul karimah,” tutur Mualem.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa Pemerintah Aceh berkomitmen menjalankan pembangunan yang menyeluruh, tidak hanya berfokus pada sektor ekonomi, tetapi juga sosial dan spiritual.

“Penguatan syariat Islam, pembinaan generasi Qurani, serta partisipasi masyarakat menjadi kunci agar pembangunan memberi manfaat luas,” ujarnya.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah yang berlangsung di Masjid Raya Baiturrahman itu dihadiri ribuan jamaah yang khidmat mendengarkan ceramah agama, menjadikannya momentum kebersamaan umat dalam memperkuat keimanan sekaligus persaudaraan. (XRQ)

Reporter: Akil

Tgk Umar Rafsanjani: Maulid Nabi Momentum Meneladani Rasulullah

0
Ulama muda Aceh yang juga Pimpinan Dayah Mini Banda Aceh, Tgk H Umar Rafsanjani, Lc, MA, tampil sebagai khatib Jumat di Masjid Al-Abrar, Gampong Lamdingin, Banda Aceh, Jumat (5/9/2025). (Foto: Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Ulama muda Aceh yang juga Pimpinan Dayah Mini Banda Aceh, Tgk H Umar Rafsanjani, Lc, MA, tampil sebagai khatib Jumat di Masjid Al-Abrar, Gampong Lamdingin, Banda Aceh, Jumat (5/9/2025). Pelaksanaan ibadah kali ini bertepatan dengan momentum peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Amatan Nukilan.id, dalam khutbahnya, Umar Rafsanjani menegaskan bahwa Maulid Nabi tidak dimaksudkan sebagai sebuah perayaan, melainkan peringatan untuk meneladani kehidupan Rasulullah.

“Dalam Islam, yang disebut hari raya hanyalah Idul Fitri dan Idul Adha. Maulid Nabi adalah bentuk memperingati hari lahir Rasulullah SAW, agar kita semakin dekat dengan ajarannya,” ujarnya.

Penegasan tersebut disampaikannya merespons perbedaan pandangan di kalangan umat Islam terkait pelaksanaan Maulid Nabi. Umar menilai, yang terpenting bukan pada bentuk seremonial, melainkan bagaimana umat meneladani akhlak Nabi Muhammad dalam kehidupan sehari-hari.

“Maulid itu momentum untuk mengingat, bukan merayakan. Kita diajak kembali menelusuri keteladanan Rasulullah dalam bersikap, berakhlak, dan bermasyarakat,” tambahnya.

Khutbah Jumat yang berlangsung khusyuk itu turut dihadiri ratusan jamaah dari sekitar Lamdingin. Suasana peringatan Maulid di Banda Aceh sendiri berlangsung semarak, ditandai dengan tradisi kenduri yang digelar masyarakat setelah salat Jumat. (XRQ)

Reporter: Akil

Bentrok Berdarah di Ibu Kota: Intelijen Gaptek atau Pembiaran Aparat?

0
Ilustrasi Affan meninggal setelah tertimpa kendaraan taktis (rantis) Brimob di tengah kerusuhan demonstrasi. (Foto: momox)

NUKILAN.ID | INDEPTH – Kerusuhan yang meletup dalam aksi demonstrasi pada 28 Agustus 2025 menjadi cermin rapuhnya kemampuan intelijen dalam membaca tanda-tanda awal gejolak. Ketidakmampuan mendeteksi eskalasi sejak dini membuat bentrokan antara aparat dan massa tak terhindarkan. Jakarta, sore itu, seolah berubah menjadi arena amarah terbuka. Jalan-jalan dipenuhi kobaran api, sementara sejumlah fasilitas umum hangus dilalap pembakaran.

Situasi kian memburuk ketika massa yang marah menyerang markas kepolisian, terutama satuan Brimob. Amarah itu tidak lahir begitu saja. Ia dipicu sebuah peristiwa tragis di kawasan rumah susun Bendungan Hilir (Benhil), Jakarta Pusat.

Di sana, Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online, meregang nyawa. Tubuhnya terhimpit roda besi kendaraan taktis (rantis) yang tengah melaju. Kabar kematiannya cepat menyebar dari mulut ke mulut, dari unggahan ke unggahan. Dalam sekejap, Affan bukan lagi sekadar warga biasa yang mencari nafkah di jalanan ibu kota. Ia menjelma simbol kemarahan massa, menjadi wajah luka kolektif yang memantik gelombang protes lebih besar.

Kematian Affan menjadi titik balik yang menyulut kemarahan. Gelombang aksi protes pun meluas, berujung pada kerusuhan dan pembakaran sejumlah fasilitas umum di berbagai wilayah pada hari berikutnya.

Namun, kepolisian tampak tidak mengambil pelajaran dari kejadian sebelumnya. Pada Senin (25/8/2025), demonstrasi di depan Gedung DPR juga berakhir ricuh setelah aparat membubarkan paksa massa karena melewati batas waktu yang ditentukan.

Bentrok kemudian kembali terjadi. Di kawasan Palmerah, Jakarta Barat, massa—yang mayoritas pelajar—melempari aparat dengan batu hingga menyalakan kembang api. Aparat yang kalah jumlah terpaksa mundur, sebelum kembali menghadang kelompok anarkis.

Situasi makin panas ketika massa bertambah banyak setelah polisi mengepung mereka dari Pejompongan menuju Benhil, Jakarta Pusat, seperti yang diberitakan oleh Kompas.com. Aparat akhirnya menembakkan gas air mata untuk membubarkan kerumunan. Alih-alih mereda, tindakan ini justru memicu kerusuhan lebih besar. Sejumlah fasilitas rusak, bahkan kendaraan pribadi yang melintas ikut jadi sasaran.

Dalam kondisi demikian, intelijen seharusnya memegang peran penting untuk mencegah eskalasi. Namun kenyataannya, aksi protes justru meluas dan berubah menjadi anarkis. Akibatnya, tujuh orang tewas, termasuk Affan Kurniawan. Selain itu, hasil penelusuran digital oleh Nukilan.id tercatat setidaknya ada 37 gedung DPRD di berbagai wilayah terbakar, disertai perusakan sejumlah fasilitas umum.

Intelijen Telat Antisipasi Penggalangan Massa di Medsos

Pengamat militer Ade Muhammad menilai pecahnya kerusuhan buntut aksi demonstrasi bukanlah bentuk kegagalan intelijen. Menurutnya, agen-agen intelijen negara telah bekerja secara optimal dalam mengantisipasi agar kericuhan tidak meluas.

Namun, ia mengakui adanya sejumlah faktor “x” di lapangan yang luput dari pengamatan. Salah satunya adalah penggalangan massa secara masif melalui media sosial (medsos).

“Eskalasi memang mendadak liar dan momentumnya terpelihara karena ada faktor eksternal seperti dugaan provokasi di medsos, sebagaimana ditindaklanjuti Polri melalui penahanan beberapa aktor medsos,” kata Ade dikutip dari inilah.com.

Ia menambahkan, intelijen negara terlambat merespons penggalangan di medsos sehingga gelombang massa semakin membesar pada hari berikutnya.

Masih dari sumber yang sama, Dosen Kajian Stratejik Intelijen Universitas Indonesia (UI), Stanislaus Riyanta, menilai intelijen negara sebenarnya sudah memprediksi potensi terjadinya unjuk rasa lanjutan. Namun, keterbatasan kewenangan membuat mereka tidak dapat melakukan penindakan.

“Saya yakin intelijen sudah memberikan informasi terkait rencana unjuk rasa ini kepada usernya masing-masing,” ujarnya.

Stanislaus mengakui, situasi di lapangan berkembang begitu cepat sehingga laporan intelijen yang diteruskan ke user kemungkinan terlambat dieksekusi.

Selain itu, menurutnya, agen-agen intelijen juga tidak menduga bahwa provokasi akan terjadi secara masif di medsos. Kondisi inilah yang membuat situasi lapangan cepat berubah dan aparat penegak hukum terlambat melakukan antisipasi.

“Saya melihat memang ada keterlambatan penanganan, terutama terkait isu yang menjadi pemicu unjuk rasa. Seandainya isu tersebut ditangani sejak dini, unjuk rasa bisa diredam,” katanya.

Ia menambahkan, dinamika aksi di lapangan yang berubah dengan cepat juga mengganggu koordinasi antara agen intelijen dan aparat.

Hal ini terlihat dari adanya penangkapan sejumlah intel dari berbagai lembaga, seperti Bais dan Polri, oleh petugas di lapangan. Namun, ia meyakini, intel yang ditangkap bukanlah provokator sebagaimana ditudingkan sejumlah pihak.

Menurut Stanislaus, jika intel tertangkap saat berada di barisan massa, itu bukan untuk memprovokasi melainkan demi mengumpulkan informasi mengenai rencana-rencana aksi berikutnya.

“Semua intel, sekalipun menyusup di kelompok lawan, tujuannya tetap untuk kepentingan negara, bukan membantu kelompok tersebut,” tegasnya.

Ada Pihak yang Bermain dalam Aksi Demo

Seperti disampaikan sejumlah narasumber dalam berbagai talkshow di televisi, masih banyak fakta yang menunjukkan bahwa agen intelijen negara hingga kini belum mahir, bahkan terkesan “gagap teknologi” dalam memanfaatkan perkembangan digital, terutama media sosial. Kondisi ini membuat mereka sering terlambat mengantisipasi berbagai gerakan yang muncul di platform tersebut.

Kerusuhan yang meletus dalam aksi demonstrasi pada 28 Agustus 2025 menjadi cermin rapuhnya peran intelijen negara dalam membaca situasi. Alih-alih mampu melakukan deteksi dini, bentrokan justru tak terelakkan. Aparat dan massa saling berhadapan, hingga api membakar sejumlah fasilitas umum di tengah kota.

Gelombang amarah itu tidak lahir tiba-tiba. Ia disulut oleh penggalangan isu di media sosial yang berkembang tanpa kendali. Sejumlah pihak dengan sengaja meramu narasi provokatif—mulai dari sorotan pada gaya hidup mewah anggota DPR, hingga kritik tajam terhadap kinerja Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit—untuk memancing bara kemarahan publik.

Di dunia maya, isu-isu itu berkelindan, lalu menjelma menjadi ajakan turun ke jalan. Temuan kepolisian bahkan mempertegas bahwa kericuhan bukan digerakkan sepenuhnya oleh warga ibu kota. Mayoritas pelaku anarkis justru datang dari luar Jakarta, terutama dari Jawa Barat.

“Perlu kami sampaikan bahwa untuk saat ini Polda Metro Jaya dari mulai awal kejadian sampai saat ini sudah menangkap sekitar 1.240 ya yang mana mereka berasal dari wilayah luar Jakarta, ada yang dari Jawa Barat ada yang dari Jawa dari Banten,” ungkap Kapolda Metro Jaya Irjen Asep Edi Suheri di Balai Kota Jakarta, Senin (1/9/2025), dikutip dari detik.com.

Kericuhan itu meninggalkan jejak luka: jalanan penuh sisa asap, wajah publik diselimuti amarah, dan negara kembali dipertanyakan kemampuannya menjaga kewaspadaan. Sebab dalam pusaran demonstrasi yang sengit itu, yang kalah bukan hanya fasilitas umum—melainkan juga kepercayaan rakyat pada mereka yang seharusnya lebih dulu membaca tanda-tanda. (XRQ)

Penulis: Akil

Kenapa Aceh Perlu Knowledge Hub? Begini Penjelasan Peneliti

0
Knowledge Hub
British Library merupakan salah satu Knowledge Hub di dunia. (Foto: blogs.bl.uk)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Saddam Rassanjani, peneliti Jaringan Survey Inisiatif, menilai Aceh perlu membentuk knowledge hub atau pusat pengetahuan sebagai strategi agar hasil riset tidak berhenti pada tumpukan laporan semata, melainkan bisa diimplementasikan dalam kebijakan daerah.

Hal itu ia sampaikan dalam wawancara dengan Nukilan.id pada Senin (1/9/2025), menanggapi dorongan Fraksi Partai Golkar DPR Aceh beberapa waktu lalu yang mengusulkan agar Dana Otonomi Khusus (Otsus) dialokasikan minimal 1 persen untuk kegiatan penelitian dan pengembangan (litbang).

Menurut Saddam, ada dua strategi utama agar riset benar-benar memberi dampak. Pertama, setiap hasil penelitian wajib dilengkapi ringkasan eksekutif dan rekomendasi kebijakan yang mudah dipahami pembuat keputusan.

“Dan yang kedua, pemerintah dapat membentuk sebuah knowledge hub atau pusat pengetahuan daerah untuk menjembatani peneliti dan pembuat kebijakan,” kata Saddam.

Apa itu Knowledge Hub?

Hasil penelusuran Nukilan.id, secara sederhana knowledge hub adalah wadah, baik fisik maupun digital, untuk mengumpulkan, menyimpan, mengelola, dan menyebarkan pengetahuan. Tujuannya agar individu maupun organisasi bisa belajar, berkolaborasi, serta mengambil keputusan lebih baik.

Bentuknya bisa berupa perpustakaan, portal data, pusat penelitian, hingga jejaring ahli. Adapun fungsi utamanya meliputi repositori (menyimpan dokumen, data, dan best practice), kurasi (memilah informasi agar relevan), akses dan distribusi pengetahuan, kolaborasi melalui forum atau diskusi, hingga peningkatan kapasitas lewat pelatihan dan e-learning.

Selain itu, knowledge hub juga berperan dalam mendukung kebijakan dengan menyediakan bukti dan hasil riset bagi para pengambil keputusan.

Tiga Jenis Knowledge Hub

Secara umum, knowledge hub terbagi ke dalam tiga jenis:

  • Fisik: seperti perpustakaan, pusat dokumentasi, atau pusat studi universitas.

  • Digital: berupa portal data terbuka, repositori dokumen, dan platform kursus daring.

  • Jejaring/komunitas: forum pakar atau think tank yang berbagi riset.

Contoh di Indonesia dan Dunia

Di Indonesia, beberapa contoh knowledge hub yang sudah ada antara lain Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), inisiatif Satu Data Indonesia, repositori perguruan tinggi, hingga portal pengetahuan dari program internasional yang beroperasi di Indonesia.

Sementara di luar negeri, model serupa dapat dilihat pada Library of Congress di Amerika Serikat, British Library di Inggris, World Bank Open Knowledge Repository, MIT OpenCourseWare, hingga OECD iLibrary yang menyediakan publikasi data dan analisis kebijakan internasional. (XRQ)

Reporter: AKil

Kejari Aceh Besar Periksa 40 Saksi Kasus Dugaan Korupsi SPPD di Inspektorat

0
Ilustrasi. (Foto: Detik)

NUKILAN.ID | JANTHO – Penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Aceh Besar terus menyelidiki dugaan tindak pidana korupsi penyalahgunaan anggaran Surat Perintah Perjalanan Dinas (SPPD) di lingkungan Inspektorat Aceh Besar. Kasus ini disebut terjadi dalam kurun waktu 2020 hingga 2025.

Sebagai bagian dari penyidikan, sebanyak 40 orang saksi telah diperiksa. Mereka merupakan staf dan pegawai aktif di Inspektorat Aceh Besar.

Kepala Seksi Intelijen Kejari Aceh Besar, Filman Ramadhan, membenarkan adanya pemeriksaan tersebut.

“Iya benar, mereka kita mintai keterangannya. Ini malah sedang kita perdalam lagi,” ujar Filman saat dikonfirmasi Nukilan, Kamis (4/9/2025).

Menurut Filman, pemanggilan saksi dilakukan untuk menggali lebih jauh informasi terkait alur dugaan penyimpangan anggaran SPPD. Saat ini, penyidik masih mengumpulkan bukti dan menghitung potensi kerugian negara.

“Untuk saat ini, penyidik masih mendalami dan menganalisis bukti-bukti guna menentukan pihak-pihak yang berpotensi menjadi tersangka di lingkungan Inspektorat Aceh Besar dan dinas-dinas terkait,” kata Filman.

Sebelumnya, pada Senin (4/8/2025), tim Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Aceh Besar telah menggeledah Kantor Inspektorat Aceh Besar. Penggeledahan berlangsung hampir sembilan jam dan berujung pada penyitaan sejumlah dokumen penting.

Dokumen-dokumen tersebut kini sedang dianalisis untuk memastikan keterkaitannya dengan dugaan penyalahgunaan anggaran SPPD. Hingga kini, proses penyidikan masih berlanjut. []

Reporter: Sammy

Tiga Bidang Prioritas Jika 1 Persen Dana Otsus Dialokasikan untuk Riset

0
dana otsus riset
Ilsutrasi riset. (Foto: Detik.com)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Wacana pengalokasian minimal 1 persen Dana Otonomi Khusus (Otsus) Aceh untuk kegiatan penelitian dan pengembangan (litbang) menuai respons dari kalangan peneliti. Usulan tersebut dinilai berpotensi membuka jalan bagi penguatan basis pengetahuan dalam pembangunan daerah.

Menanggapi hal itu, Nukilan.id menghubungi Saddam Rassanjani, peneliti di Jaringan Survei Inisiatif, pada Senin (1/9/2025). Saddam menilai, bila usulan pengalokasian 1 persen Dana Otsus benar-benar terealisasi, maka banyak hal penting dapat dikembangkan. Namun, ia menekankan tiga bidang yang sebaiknya diprioritaskan.

“Pertama, pengentasan kemiskinan dan perlindungan sosial, mengingat angka statistik masih di atas rata-rata nasional dan status Aceh termiskin di Sumatera,” katanya.

Menurut Saddam, fokus ini menjadi sangat krusial mengingat Dana Otsus sejak awal digelontorkan untuk mengatasi kesenjangan pembangunan. Tanpa strategi berbasis riset, program pengentasan kemiskinan berpotensi hanya menjadi rutinitas administratif tanpa memberikan dampak signifikan.

“Kedua, manajemen sumber daya alam, kita punya banyak potensi kekayaan alam yang belum tereksplorasi dan pemanfaatannya belum berkelanjutan,” lanjutnya.

Ia menilai, pengelolaan sumber daya alam secara ilmiah dapat menjadi kunci keberlanjutan ekonomi Aceh. Dengan pendekatan berbasis riset, kekayaan alam tidak sekadar dieksploitasi, tetapi juga diarahkan agar memberi nilai tambah jangka panjang bagi masyarakat.

“Ketiga, tata kelola pemerintahan, dana Otsus ditambah kekayaan alam yang berlimpah namun belum mampu menjadikan Aceh top-tier nasional di bidang kesejahteraan,” tegas Saddam.

Dalam pandangannya, masalah tata kelola adalah akar dari stagnasi pembangunan. Tanpa perbaikan manajemen pemerintahan yang berbasis data, Dana Otsus berisiko tidak optimal dan bahkan berputar dalam siklus kebijakan yang tidak efektif.

Selain memetakan bidang prioritas, Saddam juga menekankan pentingnya strategi agar hasil riset benar-benar bisa diimplementasikan dalam kebijakan daerah. Ia menyebut, riset tak boleh berhenti pada tumpukan laporan akademik yang jarang disentuh para pengambil keputusan.

“Ada dua strategi utama yang bisa ditempuh. Pertama, setiap hasil penelitian wajib dilengkapi ringkasan eksekutif dan rekomendasi kebijakan yang mudah dipahami oleh para pembuat keputusan,” jelasnya.

Dengan begitu, kata Saddam, penelitian akan lebih mudah masuk ke ruang kebijakan dan diterjemahkan menjadi program nyata.

“Dan yang kedua, pemerintah dapat membentuk sebuah knowledge hub atau pusat pengetahuan daerah untuk menjembatani peneliti dan pembuat kebijakan,” tambahnya.

Menurutnya, kehadiran knowledge hub bisa menjadi wadah sinergi antara akademisi, peneliti, dan pemerintah. Sehingga, riset tidak hanya berhenti sebagai catatan ilmiah, melainkan benar-benar menjadi fondasi pembangunan Aceh yang berbasis pengetahuan. (XRQ)

Reporter: Akil

Jemaah Haji Asal Aceh Tamiang Wafat di Madinah

0
Ilustrasi. (Thinkstock)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Seorang jemaah haji asal Aceh Tamiang, Basyariah Muhammad Yunan (76), meninggal dunia di Madinah, Arab Saudi, pada Selasa (2/9/2025), pukul 12.00 waktu setempat.

“Iya, betul,” ujar Ketua Tim Humas Kementerian Agama (Kemenag) Aceh, Ahsan Khairuna saat dikonfirmasi Nukilan, Kamis (4/9/2025).

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Aceh, Azhari mengatakan, laporan diterima dari Kepala Kankemenag Aceh Tamiang, Anwar Padli, yang memperoleh keterangan melalui tim Kantor Urusan Haji (KUH) di Madinah.

Basyariah diketahui merupakan satu-satunya jemaah haji asal Aceh yang masih berada di Arab Saudi karena menjalani perawatan di rumah sakit. Ia berangkat bersama kelompok terbang (kloter) 07 pada 24 Mei 2025 bersama 392 jemaah lain dari Aceh Tamiang, Aceh Barat, Kota Langsa, dan Sabang. Sementara rombongan kloter 07 telah kembali ke Tanah Air pada 4 Juli 2025.

Sebelum wafat, Basyariah dirawat di RS Mouwasat Madinah sejak 3 Juli 2025. Ia sempat dirujuk dari Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz (MED) setelah didiagnosis menderita pneumonia komunitas (Community-Acquired Pneumonia) serta gagal jantung kongestif (Congestive Heart Failure).

Kepala Kankemenag Aceh Tamiang, Anwar Padli, mengatakan keluarga sempat berkomunikasi dengan almarhumah melalui videocall yang difasilitasi perawat di Madinah. “Keluarga merasa puas dengan pelayanan yang diberikan oleh petugas haji maupun tenaga medis yang merawat almarhumah,” jelasnya.

Padli menambahkan, Basyariah sebenarnya sempat dijadwalkan pulang pada 10 Agustus 2025 setelah kondisinya dinyatakan membaik. Tiket penerbangan dengan maskapai Garuda Indonesia bahkan sudah disiapkan dari Madinah menuju Jakarta, lalu dilanjutkan ke Kualanamu untuk kembali ke kampung halaman. Namun, hanya beberapa jam sebelum jadwal penerbangan, kondisi Basyariah kembali memburuk sehingga harus dirawat intensif di ICCU rumah sakit di Madinah. []

Reporter: Sammy

Harga Cabai Merah Tembus Rp 65 Ribu per Kilogram Jelang Maulid 

0
Cabai merah di Pasar Al-Mahirah Lamdingin, Banda Aceh. (Foto: Nukilan/Rezi)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Harga cabai merah di Pasar Al Mahirah, Banda Aceh mengalami lonjakan drastis menjelang peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. 

Pantauan Nukilan di lokasi pada Kamis (4/9/), harga cabai merah mencapai Rp65.000 per kilogram, naik tajam dari Rp58.000 beberapa hari sebelumnya.

Kenaikan harga ini bahkan lebih mencengangkan jika dibandingkan dengan minggu lalu, ketika cabai merah masih dijual seharga Rp30.000 per kilogram. 

Bulqaini, pedagang sayur di pasar tersebut, menyebut kenaikan harga dipicu oleh tingginya permintaan masyarakat untuk persiapan Maulid, sementara musim panen cabai belum tiba.

“Belum masuknya musim panen cabai, sementara permintaan masyarakat meningkat tajam karena kebutuhan persiapan Maulid,” ujarnya kepada Nukilan.

Tidak hanya cabai merah, berbagai komoditas sayuran lainnya turut mengalami kenaikan harga. Cabai hijau kini dijual seharga Rp50.000 per kilogram, naik dari harga sebelumnya Rp35.000 per kilogram.

“Cabai rawit naik menjadi Rp45.000 per kilogram dari Rp43.000. Tomat Medan juga tak ketinggalan, harganya naik ke Rp15.000 per kilogram dari Rp12.000-13.000,” kata Bulqaini.

Kenaikan juga terjadi pada telur ayam. Sepapan telur kini Rp52 ribu, naik sekitar Rp2 ribu. Sedangkan telur asin, yang banyak dicari menjelang Maulid, dijual Rp4 ribu per butir atau Rp95 ribu sepapan dari sebelumnya Rp90 ribu.

Meski demikian, beberapa harga bahan pokok justru turun. Kacang panjang misalnya, kini Rp8 ribu per kilogram dari Rp10 ribu. Bawang merah turun ke Rp45 ribu dari Rp50 ribu, dan bawang Peking menjadi Rp35 ribu dari Rp40 ribu.

Harga beras juga mengalami penurunan. Untuk beras premium ukuran 15 kilogram turun dari Rp245 ribu menjadi Rp240 ribu, ukuran 10 kilogram dari Rp165 ribu menjadi Rp160 ribu, dan ukuran 5 kilogram dari Rp85 ribu menjadi Rp83 ribu.

Sementara itu, sejumlah komoditas masih stabil, seperti wortel Rp8 ribu, terong Rp8 ribu, garam Rp8 ribu, minyak goreng Rp17 ribu per liter, tomat Gayo Rp10 ribu, bawang putih Rp35 ribu, dan kentang Rp13 ribu per kilogram.

Reporter: Rezi

DKPP Copot Ketua KIP Banda Aceh, Beri Peringatan Keras ke Anggota

0
Sidang Putusan DKPP, Rabu (3/9/2025). (Foto: tangkapan layar)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Ketua Komisi Independen Pemilihan (KIP) Kota Banda Aceh, Yusri Razali, resmi diberhentikan dari jabatannya setelah Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) menjatuhkan vonis dalam sidang putusan perkara Nomor 158-PKE-DKPP/VI/2025, Rabu (3/9/2025).

Putusan itu dibacakan langsung oleh Ketua DKPP, Heddy Lugito, bersama anggota majelis Ratna Dewi Pettalolo dan I Dewa Kade Wiarsa Raka Sandi.

“Menjatuhkan sanksi peringatan keras dan pemberhentian dari jabatan ketua kepada teradu I Yusri Razali selaku ketua merangkap anggota KIP Kota Banda Aceh,” tegas Heddy dalam Sidang Putusan DKPP yang disiarkan secara langsung di akun DKPP RI, dikutip Nukilan, Kamis (4/9/2025).

Selain Yusri, anggota KIP Banda Aceh, Saiful Haris, juga dikenai sanksi peringatan keras. Sementara dua anggota lain, Muhammad Zar dan Rachmat Hidayat, dinyatakan tidak terbukti melanggar kode etik dan direhabilitasi nama baiknya.

Kasus ini mencuat setelah adanya laporan dari masyarakat bernama Fakhrul Rizal. Ia memberi kuasa kepada tiga orang, yaitu Teuku Alfiansyah, Zahrul, dan Zulfiansyah, untuk mengadukan dugaan pelanggaran etik ke DKPP.

Dalam laporannya, Yusri Razali dituding memerintahkan Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Syiah Kuala dan Kuta Raja untuk menggelembungkan suara calon legislatif DPR RI Dapil Aceh I dari PDIP, Sofyan Dawood. Ia juga disebut-sebut memindahkan 493 suara Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ke calon nomor urut 1 atas nama Ghufran.

“Teradu I meminta agar suara tidak sah di setiap TPS di Kecamatan Syiah Kuala dialihkan ke Sofyan Dawood, caleg PDIP nomor urut 1. Selain itu, suara PKS DPR RI sebanyak 493 suara dipindahkan ke nomor urut 1 atas nama Ghufran,” jelas kuasa pengadu, Zahrul, saat sidang pemeriksaan.

Sidang pemeriksaan atas perkara ini sebelumnya telah digelar di Kantor KIP Provinsi Aceh, Banda Aceh, pada 18 Juli 2025. Dari hasil itu, DKPP kemudian menjatuhkan sanksi tegas kepada penyelenggara yang terbukti bersalah, sekaligus memulihkan nama baik anggota yang dinyatakan tidak melanggar. []

Reporter: Sammy

Kemenag dan Pemda di Aceh Bersinergi Tingkatkan Layanan Pendidikan Inklusif

0
Kemenag dan Pemda di Aceh Bersinergi Tingkatkan Layanan Pendidikan Inklusif. (Foto: Kemenag Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Kementerian Agama menjalin kerja sama dengan tiga pemerintah kabupaten di Aceh dalam upaya meningkatkan layanan pendidikan inklusif. Tiga daerah tersebut adalah Kabupaten Pidie Jaya, Aceh Tengah, dan Aceh Utara.

Kerja sama ini dibahas dalam Forum Group Discussion (FGD) bertajuk “Koordinasi Penyelenggaraan Pengembangan Madrasah Inklusif” yang digelar Direktorat Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah pada 1–3 September 2025.

Kasubdit Pendidikan Vokasi dan Inklusi, Anis Masykhur, menegaskan bahwa kegiatan ini bertujuan memperkuat komitmen penyelenggaraan pendidikan inklusif di madrasah dengan melibatkan pemerintah daerah.

Berdasarkan data dari aplikasi Profil Belajar Siswa (PBS) penyandang disabilitas, tercatat jumlah Peserta Didik Penyandang Disabilitas (PDPD) di Pidie Jaya mencapai 476 siswa, di Aceh Tengah 456 siswa, dan di Aceh Utara 504 siswa.

“Mereka adalah putra daerah yang sekolah di madrasah. Barangkali kita bisa melupakan sejenak kategorisasi struktur pemerintahan yang konkuren dan absolut. Lalu apa yang akan kita lakukan adalah target dari pertemuan ini?,” ujar Anis Masykhur di Aceh, Rabu (3/9/2025).

Sekretaris Daerah Pidie Jaya, Munawir Ibrahim, menyambut baik langkah Kemenag. Menurutnya, pemerintah daerah mendukung penuh pelaksanaan madrasah inklusif dan memastikan koordinasi berjalan sejak tahap perencanaan, penganggaran, hingga pelaksanaan program.

Munawir juga menekankan pentingnya pemahaman masyarakat terhadap pendidikan inklusif. “Bagi kita ini adalah sesuatu yang baru, dan lepas dari perhatian,” katanya.

Sementara itu, Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, menilai data siswa inklusif akan menjadi rujukan penting dalam menyiapkan program pendidikan di daerahnya.

“Data siswa inklusif riil di lapangan akan menjadi refrensi kami dalam menyiapkan perencanaan dan penganggaran untuk peningkatan mutu pendidikan,” tegas Yoga.

Ia bahkan langsung memberi instruksi kepada jajarannya. “Saya memerintahkan Bappeda Aceh Tengah untuk berkoordinasi lebih lanjut dengan Kemenag tentang data-data detail yang telah disampaikah tadi,” ujarnya.

FGD ini juga dihadiri oleh sejumlah perwakilan lembaga strategis, mulai dari Kanwil Kemenag Aceh, bupati dan sekda, Kantor Kemenag kabupaten, rektor PTKIN, Bappeda, MPU, Lembaga Baitul Mal, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, Forum Peduli Disabilitas, hingga organisasi guru madrasah.

Melalui model kolaborasi ini, beberapa kabupaten di Aceh diproyeksikan menjadi pelopor madrasah inklusif yang dapat memberi dampak di tingkat nasional.