Beranda blog Halaman 352

Peneliti P2LH: Pelestarian Hutan Jadi Kunci Cegah Kekeringan di Aceh

0
Peneliti dari Perkumpulan Pembela Lingkungan Hidup (P2LH), Muhammad Resqi. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Aceh kini tengah menghadapi kondisi kritis yang mengancam sektor pertaniannya. Cuaca panas ekstrem yang berkepanjangan, diperparah dengan krisis air bersih, telah menyebabkan pertumbuhan padi terganggu.

Situasi ini menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya puso atau gagal panen secara massal di sejumlah wilayah sentra pertanian seperti Pidie, Pidie Jaya, dan Aceh Selatan.

Melihat bencana ekologis yang kian mengkhawatirkan ini, Muhammad Resqi, peneliti dari Perkumpulan Pembela Lingkungan Hidup (P2LH), memebrikan pandangan kritisnya terhadap peran pemerintah dalam mengatasi dan mencegah krisis serupa di masa mendatang.

Menurut Resqi, respons pemerintah tidak boleh berhenti pada upaya mitigasi setelah bencana terjadi. Ia menekankan pentingnya melihat persoalan ini dari akar permasalahan.

“Pemerintah seharusnya melihat bencana ini bukan dari mitigasi pasca terjadi. Melainkan juga harus melihat akar dari masalah,” tegasnya kepada Nukilan.id, Minggu (6/7/2025).

Lebih lanjut, Resqi menyebutkan bahwa pelestarian lingkungan, khususnya hutan, merupakan kunci utama dalam upaya pencegahan kekeringan yang kian sering terjadi di Aceh. Penyorobotan dan alih fungsi hutan, kata dia, menjadi salah satu faktor utama yang mempercepat krisis ekologis di Aceh.

“Pelestarian dan penghentian segala bentuk penyorobotan hutan menjadi langkah taktis dalam mencegah bencana kekeringan,” lanjutnya.

Tak hanya itu, Resqi juga mendorong pemerintah untuk merumuskan solusi ekologis jangka panjang yang mampu melindungi sektor pertanian dari ancaman cuaca ekstrem yang semakin tidak menentu akibat krisis iklim.

“Salah satu upaya penyelamatan ekologis untuk menyelamatkan pertanian Aceh adalah dengan mereduksi ulang aspek ini mulai dari akar, tata kelola serta mekanisme pasar,” ujarnya.

Ia berharap, dengan pembenahan menyeluruh dari hulu ke hilir, berbagai tragedi ekologis yang terus berulang tidak lagi berdampak fatal terhadap ketahanan pangan dan keberlanjutan hidup petani di Aceh.

“Sehingga, berbagai tragedi bencana alam tidak berdampak signifikan dalam permasalahan pertanian Aceh,” pungkasnya.

Pernyataan Resqi menjadi pengingat keras bahwa bencana ekologis bukan sekadar persoalan cuaca, melainkan cermin dari pengelolaan lingkungan dan kebijakan tata ruang yang perlu dibenahi secara serius dan berkelanjutan. (XRQ)

Reporter: Akil

Tak Hanya Cuaca, P2LH Sebut Deforestasi Jadi Pemicu Kekeringan Sawah di Aceh

0
Lahan sawah kekeringan di Aceh. (Foto: MI)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Musim kemarau yang telah berlangsung selama dua bulan menyebabkan ribuan hektare lahan sawah musim tanam gadu di berbagai wilayah di Provinsi Aceh mengalami kekeringan parah. Tanaman padi yang baru berusia antara satu pekan hingga dua bulan kini berada dalam kondisi kritis dan terancam puso atau gagal panen.

Laporan metrotvnews.com menyebutkan bahwa Kabupaten Pidie, Pidie Jaya, dan Aceh Selatan menjadi wilayah yang paling terdampak. Cuaca panas ekstrem dan krisis air yang melanda ketiga daerah tersebut makin memperparah kondisi tanaman padi yang sedang tumbuh.

Kondisi ini dikhawatirkan akan menimbulkan dampak yang lebih luas, tidak hanya terhadap kehidupan ekonomi para petani, namun juga terhadap ketahanan pangan masyarakat Aceh. Jika tidak segera ditangani, ancaman ini dapat menggagalkan program swasembada pangan yang selama ini digalakkan oleh pemerintah.

Menanggapi situasi tersebut, Muhammad Resqi, peneliti dari Perkumpulan Pembela Lingkungan Hidup (P2LH), dalam wawancara dengan redaksi Nukilan.id pada Minggu (6/7/2025), menyoroti akar permasalahan kekeringan yang kini melanda sektor pertanian di Aceh.

Resqi menjelaskan bahwa fenomena kekeringan yang terjadi saat ini tidak bisa dilihat hanya dari satu sisi. Menurutnya, diperlukan pendekatan multidimensi dalam memahami bencana ekologis seperti ini.

“Pastinya dalam melihat suatu bencana ekologis seperti halnya kekeringan kami melihat dari berbagai paradigma faktor yg melatar belakangi bencana tersebut,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa kekeringan yang menyebabkan ancaman gagal panen pada musim tanam gadu tahun ini tak hanya disebabkan oleh faktor meteorologis, tetapi juga dipicu oleh kerusakan lingkungan yang kian meluas.

“Dalam hal kekeringan kami melihat adanya faktor lain yg menunjang dari kekeringan yg mengakibatkan gagal panen,” katanya.

Salah satu faktor penting yang turut memperparah krisis ini, menurut Resqi, adalah dampak dari pembangunan industri yang semakin mendekat ke lahan-lahan pertanian. Selain itu, krisis iklim global dan aktivitas deforestasi yang masif ikut berkontribusi besar dalam memperparah kondisi ekologis di Aceh.

“Disamping adanya industrialisasi di sekitar tanah persawahan, krisis iklim yg ditunjang oleh emisi gas rumah kaca dan penyerobotan hutan besar-besaran menjadi pengaruh kuat dari bencana ini,” terang Resqi.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa degradasi lingkungan, khususnya deforestasi dan kerusakan daerah aliran sungai (DAS), telah memicu krisis air yang serius. Menurutnya, fenomena ini bukan hal baru dan telah lama menjadi perhatian dalam berbagai kajian ilmiah.

“Banyak penelitian yang memberikan penjelasan terkait penggundulan hutan dan akibatnya pada intensitas bencana yg besar,” tambahnya.

Resqi mengungkapkan bahwa dari berbagai temuan dan analisis, dapat disimpulkan bahwa deforestasi tidak hanya merusak fungsi ekologis hutan sebagai penyimpan air dan penyeimbang iklim, namun juga meninggalkan konsekuensi jangka panjang berupa bencana ekologis yang semakin sering terjadi.

“Persoalan ini kemudian mengarah pada satu kesimpulan besar bahwa kerusakan yg terjadi akibat deforestasi memiliki konsekuensi bencana yg sangat besar dengan segala perbendaharaan jenis dan kerusakan,” pungkasnya.

Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa krisis kekeringan yang melanda Aceh saat ini adalah hasil dari akumulasi kebijakan yang abai terhadap lingkungan. Penanganan darurat mungkin perlu dilakukan segera, tetapi tanpa upaya serius memperbaiki tata kelola hutan, air, dan ruang hidup, bencana serupa bisa terus berulang. (XRQ)

Reporter: Akil

3.126 Jemaah Haji Asal Aceh Telah Tiba di Tanah Air, Sisanya Masih di Madinah

0
3.126 Jemaah Haji Asal Aceh Telah Tiba di Tanah Air. (Foto: Kemenag Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Sebanyak 3.126 jemaah haji asal Aceh telah kembali ke tanah air. Sementara itu, sisanya masih berada di Madinah dan dijadwalkan pulang secara bertahap.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Debarkasi Aceh, Drs. Azhari M.Si, kepada wartawan di Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM), Sabtu (5/7/2025).

“Jemaah haji Aceh yang sudah berada di tanah air itu ada 3.126 orang. Alhamdulillah pemulangan belum ada kendala yang berarti,” ujar Azhari.

Menurutnya, delapan kloter telah tiba di Bandara SIM Blang Bintang, Kabupaten Aceh Besar. Sementara empat kloter lainnya masih menunggu jadwal kepulangan dari Arab Saudi.

“Sudah 8 Kloter yang mendarat di Bandara SIM Blang Bintang. Sisanya 4 Kloter menunggu pemulangan secara bertahap,” lanjut Azhari.

Ia juga menyampaikan harapan agar seluruh jemaah yang masih berada di Tanah Suci dalam keadaan sehat hingga tiba kembali ke Aceh.

“Kita doakan para jemaah kita yang masih berada di tanah suci dalam keadaan sehat sehingga bisa segera kembali berkumpul dengan keluarga di Aceh,” ucapnya.

Pada Sabtu pagi (5/7/2025), sebanyak 389 jemaah yang tergabung dalam Kloter 8 mendarat di Bandara SIM pukul 09.10 WIB menggunakan pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan BTJ-08.

Jemaah dalam kloter ini berasal dari Kabupaten Pidie sebanyak 380 orang dan dari Aceh Timur sebanyak dua orang. Kloter 8 sebelumnya berangkat ke Arab Saudi dengan total 392 jemaah.

Namun, hanya 389 orang yang kembali ke tanah air. Tiga jemaah tidak ikut dalam pemulangan kali ini, dua di antaranya dilaporkan wafat di Tanah Suci, sedangkan satu lainnya dialihkan ke kloter berbeda.

Dua jemaah yang meninggal dunia di Makkah adalah Rusli Sulaiman (62) dan Nurhayati Mahmud (66), keduanya berasal dari Pidie. Rusli wafat pada Senin (26/5/2025), sementara Nurhayati meninggal pada Rabu (11/6/2025).

Sementara itu, satu jemaah atas nama Maryam binti Teungku Nanggroe dari Pidie, dipindahkan ke Kloter 3.

“Kita berharap proses pemulangan Jemaah haji kita ini berjalan dengan baik hingga selesai,” tutup Azhari.

Editor: Akil

PSG Lolos ke Semifinal Piala Dunia Antarklub Usai Kalahkan Bayern dengan 9 Pemain

0
PSG lolos ke semifinal Piala Dunia Antarklub 2025. (Foto; REUTERS/Kai Pfaffenbach)

NUKILAN.ID | Atlanta — Paris Saint-Germain (PSG) sukses melangkah ke babak semifinal Piala Dunia Antarklub 2025 setelah menaklukkan Bayern Munchen dengan skor 2-0, Minggu (6/7/2025) dini hari WIB. Laga dramatis di Mercedes-Benz Stadium ini diwarnai duel ketat, dua kartu merah untuk PSG, hingga momen krusial di ujung pertandingan.

Amatan Nukilan.id melalui siaran langsung, pertandingan berlangsung sengit sejak menit awal. Kedua tim yang bertabur bintang tampil menyerang, namun rapatnya lini pertahanan membuat babak pertama berakhir imbang tanpa gol.

Bayern Munchen mencoba mengubah arah permainan dengan memasukkan Serge Gnabry di awal babak kedua, sementara PSG baru menurunkan Ousmane Dembele di menit ke-71. Masuknya pemain-pemain segar membawa dampak besar bagi laga.

Gol pertama PSG lahir di menit ke-78. Desire Doue memecah kebuntuan setelah menerima umpan dari Joao Neves. Dengan sepakan kaki kiri terarah, Doue berhasil menaklukkan Manuel Neuer yang mati langkah.

Namun drama belum berakhir. PSG harus kehilangan Willian Pacho di menit ke-82 setelah bek asal Ekuador itu menerima kartu merah langsung akibat pelanggaran keras terhadap Leon Goretzka. Petaka berlanjut di masa injury time, saat Lucas Hernandez juga diusir wasit karena dianggap menyikut Raphael Guerreiro. PSG pun terpaksa bermain hanya dengan sembilan pemain.

Meski dalam tekanan, PSG justru mampu menambah keunggulan. Serangan balik cepat mereka sempat menghasilkan tembakan Dembele yang membentur tiang. Bola pantul masih menjadi milik PSG, dan dalam situasi tersebut, Dembele berhasil menyelesaikannya dengan sempurna.

Bayern nyaris memperkecil ketertinggalan di menit ke-90+9 ketika mereka mendapat hadiah penalti akibat pelanggaran Nuno Mendes terhadap Thomas Muller. Namun setelah ditinjau lewat VAR, wasit menganulir keputusan tersebut.

Hingga peluit panjang dibunyikan, skor 2-0 bertahan untuk kemenangan PSG yang tampil heroik meski dengan sembilan pemain.

Susunan Pemain:

Paris Saint-Germain (4-1-2-3):
Gianluigi Donnarumma; Achraf Hakimi, Willian Pacho, Nuno Mendes; Vitinha; Joao Neves, Fabian Ruiz (Warren Zaire-Emery 80); Bradley Barcola (Ousmane Dembele 71), Desire Doue (Lucas Hernandez 80), Khvicha Kvaratskhelia (Lucas Beraldo 84)

Bayern Munchen (4-2-3-1):
Manuel Neuer; Konrad Laimer, Dayot Upamecano, Jonathan Tah, Josip Stanisic (Sacha Boey 34) (Raphael Guerreiro 88); Joshua Kimmich, Aleksandar Pavlovic (Leon Goretzka 80); Michael Olise, Jamal Musiala (Serge Gnabry 46), Kingsley Coman (Thomas Muller 80); Harry Kane

Dengan kemenangan ini, PSG memastikan satu tempat di semifinal Piala Dunia Antarklub 2025 dan tinggal menanti lawan berikutnya dalam perebutan tiket final. (XRQ)

Reporter: Akil

Real Madrid Singkirkan Dortmund, Xabi Alonso Akui 10 Menit Terakhir Jadi Catatan

0
Pemain Real Madrid, Kylian Mbappe melakukan salto. (Foto: Reuters/Vincent Carchietta)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Real Madrid memastikan langkah ke babak semifinal Piala Dunia Antarklub 2025 usai menyingkirkan Borussia Dortmund dalam duel dramatis yang berlangsung pada Sabtu (5/7/2025) waktu setempat. Meski meraih kemenangan 3-2, pelatih Xabi Alonso mengaku tidak sepenuhnya puas dengan performa timnya, terutama pada menit-menit akhir pertandingan.

Amatan Nukilan.id, bertanding di babak perempat final, Madrid sempat tampil meyakinkan dengan keunggulan cepat 2-0 hanya dalam 20 menit pertama. Skor ini seakan memberi sinyal bahwa Los Blancos bakal menang mudah atas wakil Jerman tersebut.

Namun, ketegangan justru terjadi di penghujung laga. Pada masa injury time babak kedua, Dortmund memperkecil ketertinggalan melalui gol Maximilian Beier pada menit ke-92. Madrid merespons dengan cepat lewat gol indah Kylian Mbappe, namun drama belum berakhir.

Dortmund kembali mencetak gol melalui titik putih lewat Serhou Guirassy di menit ke-98, membuat skor menjadi 3-2. Situasi semakin pelik bagi Madrid setelah Dean Huijsen diganjar kartu merah, membuat mereka harus menutup laga dengan 10 pemain.

Meski menang, Xabi Alonso mengungkapkan ada aspek yang perlu diperbaiki. “Semuanya terkendali, dengan hasilnya dan tidak kebobolan. Sepuluh menit terakhir agak gila. Kami kehilangan bentuk dan intensitas,” ujar Alonso, dikutip dari Football Espana.

Ia menambahkan, “Secara keseluruhan, 80 menit berjalan baik, tetapi 10 menit terakhir perlu kami tingkatkan.”

Kemenangan ini membuat Real Madrid berhak melaju ke babak semifinal dan akan menghadapi jawara Prancis, Paris Saint-Germain (PSG), pada 9 Juli mendatang. Laga tersebut dipastikan menjadi ujian sesungguhnya bagi Federico Valverde dan rekan-rekannya, terutama dalam menjaga konsistensi permainan hingga menit akhir. (XRQ)

Reporter: Akil

Masjid Oman Banda Aceh Gelar Buka Puasa Tasu’a

0
Masjid Oman Al-Makmur Banda Aceh menggelar kegiatan buka puasa sunnah Tasua bersama jemaah pada Sabtu (5/7/2025) sore. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Dalam rangka menyambut datangnya bulan Muharram 1447 Hijriah, Masjid Oman Al-Makmur Banda Aceh menggelar kegiatan buka puasa sunnah Tasua bersama jemaah pada Sabtu (5/7/2025) sore. Kegiatan ini berlangsung khidmat di serambi masjid dengan hidangan sederhana namun penuh berkah.

Puasa Tasua yang jatuh pada 9 Muharram merupakan salah satu puasa sunnah yang dianjurkan dalam Islam. Puasa ini dilakukan sehari sebelum puasa Asyura yang jatuh pada 10 Muharram, sebagai bentuk menyelisihi kebiasaan kaum Yahudi yang hanya berpuasa di hari Asyura, sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Muslim dan Ahmad.

Pantauan Nukilan.id, suasana hangat terasa sejak sore menjelang azan Magrib. Jemaah dari berbagai kalangan mulai berdatangan ke masjid yang terletak di jantung Kota Banda Aceh ini.

Di serambi masjid, para relawan BKM Masjid Oman telah menyiapkan hidangan berbuka berupa kanji rumbi, kue-kue tradisional, snack ringan, serta aneka minuman yang semuanya berasal dari sumbangan para dermawan. Kegiatan serupa juga akan dilanjutkan pada Minggu (6/7/2025) untuk berbuka puasa Asyura.

Salah satu jemaah, Mahdi, yang datang bersama keluarganya, mengaku senang dengan kegiatan ini. Menurutnya, selain menunaikan ibadah puasa, ia juga bisa menjalin silaturahmi dengan sesama warga.

“Suasananya adem dan penuh kehangatan. Saya rasa ini bukan sekadar buka puasa, tapi juga momen kebersamaan dan kepedulian. Terutama saat menikmati kanji rumbi,” ungkapnya sambil tersenyum.

Mahdi berharap kegiatan serupa dapat terus digelar pada momen-momen penting dalam kalender hijriah, karena menurutnya masjid bukan hanya tempat ibadah, tapi juga pusat kehidupan sosial umat.

Hari Asyura sendiri memiliki makna historis dan spiritual penting bagi umat Islam. Selain kisah diselamatkannya Nabi Musa AS dari kejaran Fir’aun, berbagai peristiwa besar lainnya juga diyakini terjadi pada tanggal 10 Muharram. Karena itu, puasa Asyura termasuk salah satu amalan yang sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Kegiatan buka puasa bersama ini bukan hanya menciptakan ruang kebersamaan, tapi juga menjadi bentuk nyata pengamalan nilai-nilai Islam yang menekankan kepedulian sosial dan persaudaraan antarsesama. (XRQ)

Reporter: Akil

Terkait Pemekaran Kabupaten/Kota, Akademisi USK Sarankan Dikaji Dulu Secara Mendalam

0
Ilustrasi pemekaran daerah. (Foto: Antara)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Akademisi dan Dosen Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Syiah Kuala (USK), Mukhrijal mengatakan terkait dengan pemekaran enam kabupaten/kota baru di Aceh, maka harus dikaji terlebih dahulu potensi lokal, sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD), sumber daya manusia (SDM) dan sumber daya alam (SDA) dari daerah tersebut.

“Karena ini menyangkut pelaksanaan dan penyelenggaraan pemerintah. Jadi harus mempertimbangkan banyak faktor, seperti aspek potensi lokal dan geografis. Sebenarnya pemerintah pusat melalui desentralisasi itu tidak menjadi masalah, karena itu kan pelimpahan wewenang dari pusat ke daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri asalkan memenuhi syarat yang ditentukan oleh pemerintah,” ujar Mukhrijal kepada Nukilan, Kamis (5//7/2025).

Dia menambahkan jika pemenuhan syarat itu terpenuhi, maka pemekaran daerah itu tidak masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika nanti sudah diberikan izin pemekaran kabupaten/kota baru justru menimbulkan masalah sosial baru lagi.

“Itu yang harus dilihat sebenarnya. Potensi konflik kepentingan misalnya pasti ada, perebutan kekuasaan atau perebutan batas wilayah daerah masing-masing masuk kemana, ibu kota kabupaten baru mau ditempatkan di mana, itu kan semua ada unsur kepentingan, pastilah muncul konflik-konflik baru lagi,” kata Mukhrijal.

Karena itu, kata Mukhrijal, pertimbangan untuk pemekaran kabupaten ini harus dikaji secara mendalam untuk terciptanya kabupaten/kota baru sehingga benar-benar siap sehingga tidak terjadi ketimpangan sosial. Mukhrijal mencontohkan kasus Kabupaten Aceh Singkil yang saat ini menjadi kabupaten termiskin di Aceh setelah sebelumnya melakukan pemekaran dari Kabupaten Aceh Selatan.

Sebelumnya diberitakan, Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI memasukkan enam Calon Daerah Otonomi Baru (CDOB) dari Aceh ke dalam daftar usulan pembentukan DOB tingkat nasional. Dari Aceh diusulkan enam kabupaten baru, yaitu Kabupaten Aceh Selatan Jaya pemekaran dari Kabupaten Aceh Selatan, Kabupaten Kepulauan Selaut Besar pemekaran dari Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Raya pemekaran dari Aceh Besar, Kota Meulaboh pemekaran dari Kabupaten Aceh Barat, dan Kota Panton Labu dan Kabupaten Aceh Malaka hasil pemekaran dari Kabupaten Aceh Utara. []

Reporter: Sammy

Wakajati Aceh Dipromosikan jadi Direktur Pelanggaran HAM Berat Kejagung

0
Kejaksaan Agung melakukan sejumlah rotasi pejabat di lingkungan Kejagung, Kejati, dan Kejari. (Foto: Sindonews)

Nukilan | Banda Aceh – Jaksa Agung ST Burhanuddin melakukan rotasi dan mutasi di lingkungan Kejaksaan Agung (Kejagung), Kejaksaan Tinggi (Kejati) dan Kejaksaan Negeri (Kejari). Rotasi dan mutasi ini tertuang dalam Surat Keputusan Jaksa Agung Nomor 352 Tahun 2025 tanggal 4 Juli 2005 yang mengatur pemberhentian dan pengangkatan dari dan dalam jabatan struktural pegawai negeri sipil Kejaksaan Agung.

Dilansir Nukilan dari surat tersebut, Jaksa Agung melakukan mutasi terhadap 81 pejabat, termasuk 13 Direktur dan 4 Kepala Pusat. Rotasi ini ini bertujuan untuk penyegaran organisasi serta mendorong peningkatan kinerja institusi kejaksaan secara nasional.

Di antara pejabat yang dirotasi yaitu Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi (Wakajati) Aceh, Muhibbudin. Dia dipromosikan menjadi Direktur Pelanggaran HAM Berat pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung RI.

Jaksa Agung juga memutasi Kardono dari jabatannya sebagai Kepala Seksi III Intelijen Kejati Aceh menjadi Kepala Bagian Tata Usaha pada Kejati Aceh. Selain itu, Jaksa Agung menunjuk Efan Apturedi menjabat sebagai Koordinator pada Kejati Aceh, menggantikan jabatannya sebelumnya sebagai Kepala Seksi II Intelijen Kejati Sumatra Utara. []

Reporter: Sammy

Skandal Integritas Riset: Delapan Kampus Ternama Indonesia Masuk Daftar Risiko Tinggi Versi RI²

0
Ilustrasi riset. (Foto: hercodigital.id)

NUKILAN.IDJAKARTA — Delapan universitas besar di Indonesia tengah menjadi sorotan usai masuk dalam daftar berisiko tinggi versi Research Integrity Risk Index (RI²), sistem pemeringkatan global yang mengukur potensi pelanggaran etika dalam dunia penelitian. Dari delapan kampus tersebut, lima bahkan dikategorikan sebagai “Red Flag”, alias peringatan serius adanya kemungkinan pelanggaran sistemik.

Berdasarkan hasil evaluasi RI², lima kampus yang masuk dalam kategori Red Flag dengan skor di atas 0,251 adalah:

  1. Universitas Bina Nusantara – skor: 0,609

  2. Universitas Airlangga – skor: 0,414

  3. Universitas Sumatera Utara (USU) – skor: 0,400

  4. Universitas Hasanuddin – skor: 0,349

  5. Universitas Sebelas Maret – skor: 0,317

Sementara itu, tiga kampus lain menempati kategori High Risk (skor antara 0,176 hingga kurang dari 0,251), yang berarti ditemukan penyimpangan serius dari standar riset global, yakni:

  1. Universitas Diponegoro – skor: 0,220

  2. Universitas Brawijaya – skor: 0,219

  3. Universitas Padjadjaran – skor: 0,198

Apa Itu RI²?

RI² merupakan sistem pemeringkatan pertama di dunia yang secara khusus dirancang untuk mengukur risiko terhadap integritas akademik di tingkat institusi. Dikutip dari situs resmi American University of Beirut (sites.aub.edu.lb), sistem ini dikembangkan oleh Profesor Lokman Meho.

RI² hadir sebagai respons terhadap kekhawatiran bahwa sistem pemeringkatan universitas global selama ini terlalu menekankan kuantitas publikasi dan kutipan, dan kerap mengabaikan aspek kualitas serta kejujuran ilmiah.

Dua Indikator Penilaian RI²

Penilaian dalam RI² dilakukan berdasarkan dua indikator utama:

  1. R Rate – Jumlah artikel yang ditarik kembali (retracted) per 1.000 publikasi. Ini mencerminkan potensi pelanggaran dalam metodologi, etika, atau penulisan.

  2. D Rate – Persentase publikasi dari suatu institusi yang dimuat di jurnal yang telah dikeluarkan dari Scopus atau Web of Science karena dinilai tidak memenuhi standar kualitas.

Kedua indikator tersebut kemudian digabungkan untuk menghasilkan skor antara 0 hingga 1. Semakin tinggi skor, semakin besar pula risiko pelanggaran integritas. Dalam sistem ini, institusi dibagi ke dalam lima kategori: Red Flag, High Risk, Watch List, Normal Variation, dan Low Risk.

Bukan Untuk Menjatuhkan, Tapi Peringatan Dini

RI² bukan bertujuan menjatuhkan nama baik institusi pendidikan, melainkan berfungsi sebagai sistem peringatan dini. Seperti disebutkan dalam penjelasan resmi, “Semakin tinggi skor RI², semakin tinggi pula risiko pelanggaran integritas.” Sistem ini mendorong kampus-kampus untuk melakukan evaluasi dan pembenahan tata kelola riset.

Mengapa RI² Relevan?

Sistem ini menyoroti praktik-praktik tak sehat yang kerap terjadi demi mengejar peringkat atau produktivitas semu, seperti:

– Publikasi di jurnal predator atau meragukan
– Manipulasi kutipan dan afiliasi
– Ketergantungan pada penulis luar negeri demi meningkatkan angka produktivitas

RI² berusaha mengalihkan fokus dari sekadar angka menuju integritas dan akuntabilitas. Oleh karenanya, sistem ini relevan digunakan oleh berbagai pemangku kepentingan:

Universitas, untuk pembenahan internal
Lembaga pemeringkat, agar mempertimbangkan integritas
Pemberi dana dan regulator, untuk menilai kelayakan institusi
Jurnalis dan akademisi, sebagai alat pemantauan dunia riset

Temuan RI² ini sejatinya menjadi alarm penting bagi dunia pendidikan tinggi di Indonesia. Jika tidak segera ditindaklanjuti, krisis integritas riset ini bisa berdampak serius pada reputasi ilmiah, kepercayaan masyarakat, dan kualitas akademik secara keseluruhan.

Editor: Akil

Pakar Pertanian USK Desak Pemerintah Bentuk Brigade Darurat untuk Selamatkan Sawah Petani

0
akademisi usk
Akademisi Fakultas Pertanian USK, Mujiburrahmad, SP.,M.Si. (Foto: Pribadi)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Musim kemarau yang telah berlangsung lebih dari dua bulan di Provinsi Aceh berdampak serius terhadap sektor pertanian, khususnya tanaman padi. Ribuan hektare sawah di berbagai kabupaten kini terancam puso atau gagal panen karena minimnya pasokan air.

Laporan Metrotvnews.com menyebutkan bahwa daerah yang paling terdampak di antaranya adalah Kabupaten Pidie, Pidie Jaya, dan Aceh Selatan. Di wilayah tersebut, cuaca panas ekstrem yang terus berlanjut disertai krisis air telah memperburuk pertumbuhan tanaman padi, terutama yang baru berusia antara satu pekan hingga dua bulan.

Kondisi ini tidak hanya merugikan petani, tetapi juga dapat menggagalkan target swasembada pangan yang sedang digencarkan pemerintah.

Menanggapi situasi ini, Nukilan.id pada Jumat (5/7/2025) menghubungi Mujiburrahmad, dosen Agroteknologi dari Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (USK), untuk meminta pandangannya terkait langkah konkret yang seharusnya diambil pemerintah dalam merespons kekeringan yang berkepanjangan ini.

Menurut Mujiburrahmad, respons cepat pemerintah sangat diperlukan, terutama dalam hal pemenuhan kebutuhan dasar petani terhadap air.

“Pemerintah perlu segera melakukan pendistribusian bantuan air, baik melalui mobil tangki maupun pembangunan sumur dangkal dan embung darurat,” kata Mujiburrahmad.

Ia menambahkan bahwa bantuan tidak boleh berhenti pada aspek pasokan air semata. Petani, kata dia, juga membutuhkan dukungan lain yang lebih komprehensif agar mampu bertahan di tengah tekanan cuaca ekstrem.

“Selain itu, subsidi pompa air, penyediaan benih tahan kekeringan, dan pendampingan teknis kepada petani sangat penting,” ujarnya.

Lebih jauh, Mujiburrahmad mendorong pemerintah untuk membentuk satuan tugas darurat yang terdiri dari para tenaga teknis, penyuluh, dan relawan lokal. Menurutnya, kehadiran tim khusus ini akan mempercepat respons di lapangan dan membantu petani dalam mengambil langkah adaptif.

“Pemerintah juga bisa memfasilitasi pembentukan brigade pertanian darurat kekeringan yang terdiri dari penyuluh, teknisi, dan relawan lokal untuk merespons secara cepat,” jelasnya.

Selain upaya tanggap darurat, ia juga menekankan pentingnya penguatan sistem mitigasi jangka panjang. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan teknologi dan data iklim yang akurat sebagai basis pengambilan keputusan di sektor pertanian.

“Di sisi lain, penguatan early warning system berbasis BMKG dan digitalisasi data lahan akan membantu pengambilan keputusan berbasis risiko,” tuturnya.

Dengan kombinasi strategi jangka pendek dan jangka panjang, Mujiburrahmad berharap pemerintah tidak hanya mampu menyelamatkan musim tanam kali ini, tetapi juga membangun ketahanan pertanian yang lebih tangguh ke depan. (XRQ)

Reporter: Akil