Beranda blog Halaman 268

Standar Ganda Efisiensi: Senayan Menari, Rakyat Merana

0
Ilustrasi kontrasnya Wakil Rakyat dengan Rakyat. (Foto: Berbagai Sumber)

NUKILAN.ID | INDEPTH – Di tengah rakyat yang dihantam badai pemangkasan subsidi, kenaikan pajak, hingga gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), gedung parlemen di Senayan justru menjadi panggung “perayaan.” Para wakil rakyat masih bisa menikmati gaji tetap, tunjangan berlapis, hingga fasilitas rumah sewa puluhan juta rupiah per bulan.

Di ruang berpendingin, tepuk tangan para legislator terdengar bak musik kemenangan. Namun di luar sana, masyarakat justru bergulat dengan harga kebutuhan pokok yang kian mencekik. Lembaran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang digadang-gadang sebagai bukti efisiensi justru menyisakan luka: subsidi energi dipangkas, bantuan sosial diperketat, hingga dana transfer daerah ditekan.

Ironisnya, di saat publik diminta berhemat, anggota DPR justru menandatangani aturan tunjangan baru. Setiap bulannya, mereka menerima gaji pokok, tunjangan jabatan, tunjangan komunikasi, tunjangan anak dan pasangan, bantuan listrik, hingga uang sewa rumah yang mencapai Rp 50 juta. Tak hanya itu, laporan penggunaan dana yang mereka terima pun hanya sebatas “laporan lump sum”, sesuatu yang bagi masyarakat nyaris mustahil, namun di Senayan dianggap sah.

Isu gaji anggota DPR kembali mencuat setelah publik mengetahui bahwa total pendapatan seorang legislator bisa menembus Rp 100 juta per bulan. Meski gaji pokok relatif kecil, tunjangan berlapis membuat jumlah akhirnya membengkak. Sejak periode 2024–2029, para wakil rakyat memang tidak lagi difasilitasi rumah jabatan. Sebagai gantinya, negara memberikan tunjangan rumah Rp 50 juta per bulan selama satu tahun.

Ketua DPR Puan Maharani menegaskan, apa yang dilakukan DPR bukanlah menambah penghasilan anggota, melainkan mengalihkan fasilitas rumah jabatan menjadi tunjangan perumahan.

“Itu sudah dikaji dengan sebaik-baiknya, sesuai dengan kondisi ataupun harga yang ada di Jakarta karena kan kantornya ada di Jakarta,” kata Puan beberapa waktu lalu sebagaimana dikutip dari Detik.com.

Kebijakan ini lahir dari hitung-hitungan efisiensi. Dikutip dari Tempo.co, Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR, Said Abdullah, menjelaskan bahwa biaya untuk memelihara Rumah Jabatan Anggota (RJA) yang jumlahnya ratusan unit di Jakarta, kerap membebani anggaran negara.

Dari urusan pemangkasan rumput, gaji satpam, sampai renovasi atap yang bocor—semuanya membutuhkan biaya besar. Dengan mengalihkan fasilitas itu menjadi tunjangan, Said menyebut negara justru bisa berhemat ratusan miliar rupiah.

“Kompensasi tunjangan perumahan ini lebih masuk akal dibanding menempati rumah-rumah dinas,” ujarnya.

Said bahkan menyinggung perbandingan dengan pejabat eksekutif. Menurutnya, publik sering kali melupakan bahwa para menteri juga mendapatkan rumah dinas selain tetap memiliki rumah pribadi.

“Menteri semua punya rumah. Tapi disediakan rumah dinas. Kenapa kalian enggak protes juga?” ucapnya, menyindir kritik yang diarahkan ke DPR.

Penderitaan di Bawah, Kemewahan di Atas

Kontras kehidupan di Indonesia kembali tersaji lewat angka. Data terbaru Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) mengungkap, satu anggota DPR bisa mengantongi hingga Rp 230 juta per bulan. Jika ditotal, dalam setahun penghasilan mereka menembus Rp 2,8 miliar. Dengan jumlah kursi DPR sebanyak 580, negara harus menggelontorkan sedikitnya Rp 1,6 triliun setiap tahun hanya untuk membiayai para wakil rakyat.

Sementara itu, realitas di lapangan jauh berbeda. Upah Minimum Provinsi (UMP) 2025 rata-rata hanya Rp 3,31 juta. Jakarta berada di posisi tertinggi dengan Rp 5,39 juta, sedangkan Jawa Tengah menjadi yang terendah, Rp 2,16 juta. Itu berarti, satu gaji anggota DPR setara dengan 17 hingga 46 kali lipat upah minimum buruh.

Bandingkan dengan pekerja pabrik yang kerap harus lembur demi membawa pulang gaji Rp 2 jutaan, atau pekerja informal yang sering kali tak tahu berapa penghasilan besok hari. Ironi ini semakin menusuk ketika dikaitkan dengan data Badan Pusat Statistik (BPS).

Per Maret 2025, BPS mencatat masih ada 23,85 juta orang miskin, atau sekitar 8,47 persen dari populasi. Garis kemiskinan ditetapkan Rp 609.160 per kapita per bulan. Ketimpangan juga terasa di ruang geografis: di desa, tingkat kemiskinan mencapai 11,03 persen, jauh lebih tinggi dibanding kota yang hanya 6,73 persen.

Jika menggunakan standar Bank Dunia, US$ 8,3 PPP per hari atau sekitar Rp 49.244, maka gambarnya lebih suram. Sebanyak 194,4 juta orang Indonesia, setara 68,2 persen dari total penduduk, masuk kategori miskin.

Ketimpangan ekonomi di Indonesia masih nyata terasa di tengah masyarakat. Berdasarkan data terbaru BPS per Maret 2025, rasio Gini tercatat 0,375. Meski sedikit lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya yang berada di angka 0,381, distribusi pengeluaran masyarakat masih timpang.

“20 persen penduduk terkaya menguasai 45,56 persen pengeluaran nasional, sedangkan 40 persen penduduk terbawah hanya 18,65 persen,” catat data resmi. Di perkotaan, ketimpangan justru lebih tajam dengan Gini mencapai 0,399, memperlihatkan jurang kaya-miskin yang makin melebar.

Di balik angka-angka ini, kehidupan masyarakat terasa semakin berat. Mengutip Satu Data Kemnaker, pemutusan hubungan kerja (PHK) melonjak 32,19 persen sepanjang semester I-2025, dengan 42.385 pekerja kehilangan mata pencaharian mereka.

Gelombang PHK paling banyak terjadi di Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten, dan DKI Jakarta, menempatkan industri padat karya dalam posisi rapuh. Daya beli masyarakat pun melemah, sementara harga kebutuhan pokok terus melambung, memaksa banyak keluarga menata ulang pengeluaran demi bertahan hidup.

Pajak Pejabat Dibayar Oleh Negara

Di tengah desakan rakyat untuk menahan pengeluaran dan menyesuaikan gaya hidup, kenyataan di gedung parlemen terasa jauh berbeda. Anggota DPR rupanya menikmati fasilitas yang terasa bagai dunia lain. Salah satunya adalah tunjangan rumah senilai Rp 50 juta per bulan. Sebagai perbandingan, Center of Economic and Law Studies (Celios) mencatat, rata-rata biaya sewa rumah rakyat di Jakarta hanya Rp 819 ribu per bulan sebagaimana diutip dari Inilah.com.

“Artinya, satu tunjangan rumah DPR bisa menyewa 61 rumah rakyat sekaligus,” kata Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Celios.

Data ini memperlihatkan jurang yang lebar antara kebutuhan dasar rakyat dengan kemewahan fasilitas wakilnya. Menurut Bhima, kondisi itu jauh dari “sense of crisis” yang semestinya muncul saat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tengah ditekan dan masyarakat menghadapi tekanan daya beli.

Namun, ironi terbesar muncul dari sisi pajak. Rakyat kerap tak menyadari, gaji dan tunjangan anggota DPR bukan hanya tinggi, tetapi juga bebas dari pungutan pajak pribadi.

“Waktu kita bilang secara terbuka bahwa gaji pejabat, anggota DPR itu pajaknya dibayar APBN, reaksinya langsung dikategorikan berita hoaks. Padahal faktanya, di slip gaji PPh21 memang tunjangannya dibayar oleh APBN. Jadi tidak ada satu pun pejabat atau anggota dewan yang pajaknya benar-benar dipotong dari gaji mereka,” ungkap Bhima.

Masih mengutip sumber yang sama, Bhima memberi gambaran konkret: “Jika seorang anggota DPR bisa mengantongi tunjangan pajak sekitar Rp2,7 juta per bulan, maka dalam lima tahun masa jabatan jumlahnya mencapai miliaran rupiah. Ada yang menghitung, selama lima tahun itu ada sekitar Rp178 miliar penghematan kalau DPR membayar sendiri PPh21 untuk gaji mereka.”

Kontrasnya begitu tajam. Rakyat diminta berhemat, subsidi dipotong, sementara wakilnya menikmati gaji besar, tunjangan rumah puluhan juta, bahkan bebas dari kewajiban pajak pribadi.

Sejarah tampak menertawakan kita. Rumah dinas DPR, yang dibangun sejak Orde Baru di Kalibata dan Ulujami, awalnya dimaksudkan untuk efisiensi, dalam artian negara tak perlu menyediakan hotel mewah bagi wakil rakyat. Kini, rumah-rumah itu dianggap tak layak, bocor, dan tak sesuai selera elite.

Ironi bertambah pahit ketika KPK pada maret lalu mengungkap kasus korupsi renovasi rumah dinas DPR, dengan Sekjen DPR Indra Iskandar sebagai tersangka. Babak gelap itu seolah dilupakan, sementara DPR kembali mengajukan tunjangan rumah puluhan juta.

Protes rakyat bergema dari Pati hingga Jakarta. Spanduk sederhana menghiasi jalanan bertuliskan “Uang Rp 50 juta lebih baik untuk kontrakan 50 keluarga daripada rumah elite.”

Presiden Partai Buruh Said Iqbal menekankan ketimpangan yang terjadi, mulai dari buruh kontrak, pekerja informal, ojek daring, semua berjuang di bawah langit yang sama, tapi dibayangi angka yang mustahil mereka raih.

“Ini yang dibilang ketidakadilan, di tengah pendapatan rendah, mudah di-PHK, tidak ada jaminan sosial. DPR kerja lima tahun saja dapat uang pensiun,” kata Said Iqbal sebagaimana diberitakan oleh Tempo.co pada 23 Agustus 2025.

Puncaknya, publik disuguhi tontonan anggota DPR berjoget ketika besaran tunjangan mereka tengah dikritisi.

“DPR aja naikin tunjangan seenak-enaknya dia. Dia naikin gaji seenak-enaknya dia, pakai joget-joget lagi. Di mana hati nuraninya? Itu yang menyakiti rakyat. Buruh sampai turun ke jalan hanya untuk naik 8,5 persen,” tegas Iqbal.

Kemewahan DPR yang Memicu Tragedi di Jalanan

Di balik gedung megah Senayan, kemewahan para wakil rakyat kontras dengan kehidupan sehari-hari masyarakat yang kian terhimpit. Ketimpangan ini memicu gelombang protes yang menelurkan tragedi, yakni seorang anak bangsa, Affan Kurniawan, meregang nyawa di tengah kericuhan demonstrasi menolak kenaikan gaji DPR.

Demonstrasi yang digelar pada 25 dan 28 Agustus 2025 semula berniat menyuarakan kekecewaan rakyat terhadap rencana peningkatan pendapatan anggota dewan. Massa yang hadir datang dari berbagai latar, mulai dari mahasiswa, buruh, hingga pekerja informal, dengan tuntutan sederhana, mempertanyakan wajar atau tidaknya tunjangan fantastis bagi DPR di tengah tekanan ekonomi yang mendera rakyat kecil.

Data BPS menunjukkan, daya beli masyarakat pada kuartal II-2025 menurun 3,4 persen dibanding tahun sebelumnya. Bahkan pengeluaran rumah tangga untuk kebutuhan pangan melonjak hingga 65 persen dari total belanja bulanan.

Angka-angka itu bukan sekadar statistik. Bagi masyarakat, ini adalah kenyataan pahit yang mereka hadapi setiap hari. Di tengah kondisi itu, wacana kenaikan gaji DPR dianggap “bentuk ketidakpekaan yang menyakitkan.”

Namun, suara rakyat tak selalu didengar. Aparat keamanan diturunkan dengan kekuatan penuh. Bentrokan pertama terjadi pada 25 Agustus, tetapi puncaknya baru terasa tiga hari kemudian. Ketika massa mencoba mendekat ke pagar gedung, gas air mata, water cannon, dan kendaraan taktis Brimob dikerahkan untuk membubarkan demonstran.

Di tengah kekacauan itu, Affan Kurniawan, pengemudi ojek daring berusia 21 tahun, menjadi korban. Ia bukan provokator, bukan demonstran garis depan. Ia hanyalah rakyat kecil yang sedang melintas, namun terjebak di tengah kericuhan.

Sebagaimana ditulis oleh Kompas.com pada 29 Agustus lalu, saksi mata menyebutkan Affan tewas setelah terlindas kendaraan taktis Brimob. Kematian Affan sontak memicu kemarahan publik, mengubah demonstrasi menjadi tuntutan moral terhadap negara.

Dalam catatan politik Indonesia, bab rumah dinas dan tunjangan fantastis bagi DPR menjadi ironi panjang, “hemat untuk rakyat, boros untuk DPR.” Kata “efisiensi” seolah menjadi mantra sakti yang menelan akal sehat, logika finansial, dan rasa keadilan.

Di jalanan, rakyat mengangkat nama Affan sebagai simbol: ketika efisiensi hanya berlaku bagi rakyat kecil, sementara kemewahan DPR tetap tak tergoyahkan, lahirlah bukan sekadar ketidakadilan, melainkan tragedi bangsa.

Gelombang protes, kritik publik, hingga tragedi itu membuat situasi memanas. Presiden Prabowo Subianto pun turun tangan, menegaskan bahwa negara harus berpihak pada rakyat, dan berupaya menenangkan gejolak publik agar ketenteraman kembali terjaga.

Namun, di tengah gedung megah yang masih berdiri kokoh, gema tepuk tangan mungkin masih terdengar. Sementara di jalanan, nama Affan menjadi pengingat abadi: bahwa kemewahan yang tak terkendali bisa berujung pada tragedi, dan suara rakyat—sekecil atau sekadar lewat nyawa seorang anak muda, tak boleh diabaikan. (XRQ)

Penulis: AKil

Mahasiswa USM Tampilkan Produk Kreatif di Mini Bazar Expo HIPKA 2025

0
Tiga kelompok mahasiswa USM penerima program P2MW mengikuti mini Bazar Expo Hipka 2025 di Landmark BSI. (Foto: Nukilan/Rezi)

Banda Aceh – Tiga kelompok perwakilan mahasiswa Universitas Serambi Mekkah (USM) berpartisipasi dalam mini Bazar Expo Himpunan Pengusaha KAHMI (HIPKA) yang diselenggarakan di Landmark BSI Aceh, Banda Aceh, Sabtu (30/8/2025).

Ketiga kelompok tersebut merupakan penerima program P2MW (Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha) yang terdiri dari Aceh Green Hub, Aromata Serambi Mekkah, dan Legal Artworks. Mereka menampilkan berbagai produk unggulan seperti lilin aromatherapy, bros pin, serta gantungan kunci.

Dina Ediwani selaku mentor para mahasiswa, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu aksi mahasiswa dalam mempelajari pasar secara langsung.

“Ini adalah kesempatan bagi mahasiswa untuk memahami dinamika pasar dan berinteraksi langsung dengan konsumen,” ujar Dina dalam keterangannya kepada Nukilan.

Hal senada disampaikan Susanti, Ketua Inkubator Bisnis USM. Ia menilai, ajang ini menjadi kesempatan mahasiswa untuk menumbuhkan jiwa kewirausahaan.

“Mereka bisa belajar langsung dari pelaku UMKM, bagaimana cara mengembangkan usaha dan berinovasi,” katanya.

Sementara itu, Hambali, Wakil Rektor III USM yang turut menghadiri langsung expo, menyampaikan dukungan penuh terhadap peran dan semangat para mahasiswa dalam mengikuti berbagai event bazar.

“USM akan terus membuka peluang agar mahasiswa dapat ikut serta dalam event serupa lainnya demi mengasah keterampilan kewirausahaan mahasiswa,” pungkasnya.

Sebagai informasi, Mini Bazar Expo HIPKA 2025 ini digelar bersamaan dengan pelatihan pengurus HIPKA Aceh.

Reporter: Rezi

Susul NasDem dan PAN, Golkar Resmi Nonaktifkan Adies Kadir dari DPR RI

0
Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar resmi menonaktifkan Adies Kadir dari keanggotaan DPR RI mulai Senin, 1 September 2025. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.ID | JAKARTA – Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar resmi menonaktifkan Adies Kadir dari keanggotaan DPR RI mulai Senin, 1 September 2025. Keputusan tersebut tertuang dalam surat siaran pers yang ditandatangani Ketua Umum Golkar Bahlil Lahadalia dan Sekjen Muhammad Sarmuji pada Minggu (31/8/2025).

Dalam keterangannya, DPP Golkar menegaskan komitmennya untuk menjadikan aspirasi rakyat sebagai acuan utama, sekaligus memperkuat disiplin dan etika kader partai di parlemen.

“Berdasarkan pertimbangan itu, Dewan Pimpinan Pusat Partai GOLKAR resmi menonaktifkan saudara Adies Kadir sebagai Anggota DPR dari Fraksi Partai GOLKAR, terhitung sejak Senin, 1 September 2025,” bunyi keterangan tersebut.

Sekjen DPP Partai Golkar, Muhammad Sarmuji, membenarkan keputusan itu. Mengutip Tempo, ia juga menyampaikan duka cita atas jatuhnya korban dari masyarakat sipil dalam memperjuangkan aspirasinya.

Adies Kadir merupakan legislator Golkar yang menjabat Wakil Ketua DPR periode 2024–2029. Namanya belakangan ramai diperbincangkan setelah pernyataannya soal tunjangan perumahan bagi anggota DPR menuai kritik publik.

Adies sempat menyampaikan perhitungan biaya kos di sekitar Senayan, Jakarta, dengan asumsi harga Rp 3 juta per hari. “Rp 3 juta itu sudah paling murah. Kalau dikalikan satu bulan dianggap 26 hari mereka bekerja, berarti kurang lebih Rp 78 juta. Mereka masih nombok,” ucap Adies pada Selasa, 19 Agustus 2025 lalu.

Tak lama setelah itu, ia meralat pernyataannya. “Saya tadi ngomong-nya Rp 3 juta kali 26, jadi Rp 78 juta. Padahal maksud saya Rp 3 juta kali 12 bulan atau Rp 36 juta per tahun,” kata Adies.

Penonaktifan kader di parlemen bukan hanya dilakukan Golkar. Sejumlah partai lain juga mengambil langkah serupa. DPP Partai NasDem menonaktifkan Ahmad Sahroni dan Nafa Urbach, sementara DPP PAN menonaktifkan Eko Patrio dan Uya Kuya. Keempatnya anggota DPR tersebut juga menjadi sorotan publik lantaran dinilai arogan dalam menanggapi aspirasi masyarakat. (XRQ)

Reporter: Akil

Prabowo Minta DPR Undang Tokoh Masyarakat dan Mahasiswa untuk Berdialog

0
presiden prabowo
Presiden Prabowo saat bersalaman dengan Ketua DPR RI, Puan Maharani seusai Konferensi Pers di Istana (Foto: YouTube Setpres)

NUKILAN.ID | JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmennya untuk membuka ruang dialog dengan berbagai elemen masyarakat di tengah situasi nasional yang sempat diwarnai ketegangan.

Dalam konferensi pers di Istana Kepresidenan, Minggu (31/8/2025), Prabowo menyampaikan bahwa dirinya telah meminta pimpinan DPR RI untuk mengundang langsung tokoh masyarakat, mahasiswa, dan kelompok yang ingin menyampaikan aspirasi.

“Saya juga akan meminta pimpinan DPR untuk langsung mengundang tokoh-tokoh masyarakat, tokoh-tokoh mahasiswa, tokoh-tokoh dari kelompok yang ingin menyampaikan aspirasinya agar bisa diterima dengan baik dan langsung berdialog,” kata Prabowo dalam konferensi pers yang disiarkan melalui kanal YouTube Setpres.

Prabowo menegaskan bahwa aspirasi rakyat tidak boleh diabaikan. Karena itu, ia juga menginstruksikan seluruh jajaran kementerian untuk menyiapkan diri mendengar kritik maupun masukan dari masyarakat.

“Kepada pemerintah, saya juga sampaikan agar semua kementerian/lembaga menerima masukan-masukan, koreksi-koreksi secara langsung,” ujarnya.

Prabowo kemudian menekankan pentingnya menjaga ketenangan publik di tengah dinamika politik yang berkembang. Ia meminta masyarakat tetap percaya bahwa pemerintah yang dipimpinnya berkomitmen membela kepentingan rakyat kecil.

“Saya minta seluruh warga negara untuk percaya kepada pemerintah, untuk tenang. Pemerintah yang saya pimpin bertekad untuk selalu memperjuangkan kepentingan rakyat, termasuk rakyat yang paling kecil, paling tertinggal,” imbuhnya.

Konferensi pers ini turut dihadiri pimpinan partai politik besar, menunjukkan soliditas koalisi pemerintahan di hadapan publik. Dari pantauan Nukilan.id melalui tayangan tersebut, hadir antara lain Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri, Ketua MPR sekaligus Ketua Dewan Kehormatan Gerindra Ahmad Muzani, Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Edhie Baskoro Yudhoyono, dan Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia.

Selain itu, tampak pula Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan, Ketua Umum NasDem Surya Paloh, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, serta Sekjen PKS M Kholid. Dari unsur legislatif, Ketua DPR RI Puan Maharani dan Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin juga turut hadir mendampingi Presiden. (XRQ)

Reporter: Akil

Prabowo Jamin Negara Terbuka dan Hormati Aspirasi Rakyat

0
presiden prabowo
Konferensi Pers Presiden Prabowo di Istana (Foto: YouTube Setpres)

NUKILAN.ID | JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmennya untuk menjaga keterbukaan negara terhadap aspirasi rakyat. Pernyataan itu ia sampaikan dalam konferensi pers bersama pimpinan MPR, DPR, DPD, dan seluruh ketua partai politik yang memiliki kursi di parlemen, di Istana Kepresidenan, Minggu (31/8/2025) sore.

“Dalam beberapa hari ini, saya Presiden Republik Indonesia terus memantau perkembangan situasi yang terjadi di Jakarta dan beberapa kota lain di Indonesia. Negara menghormati dan terbuka terhadap kebebasan penyampaian pendapat dan aspirasi yang murni dari masyarakat,” kata Prabowo dalam konferensi pers yang disiarkan melalui YouTube Setpres.

Prabowo menekankan bahwa pemerintah tidak akan menutup mata terhadap dinamika yang berkembang di tengah masyarakat. Menurutnya, suara rakyat merupakan fondasi penting dalam perjalanan demokrasi Indonesia.

Ia juga memastikan aparat yang melakukan pelanggaran akan diproses secara hukum.

“Terhadap petugas yang kemarin melakukan kesalahan ataupun pelanggaran saat ini Kepolisian Negara Republik Indonesia telah melakukan proses pemeriksaan, ini telah saya minta dilakukan dengan cepat, dengan transparan, dan dapat diikuti secara terbuka oleh publik,” ucapnya.

Pernyataan itu menjadi penegasan bahwa pemerintah ingin mengedepankan akuntabilitas dalam penegakan hukum. Transparansi, kata Prabowo, menjadi syarat agar kepercayaan publik terhadap negara tetap terjaga.

Dalam konferensi pers tersebut, sejumlah tokoh politik lintas partai mendampingi Presiden. Amatan Nukilan.id melalui tayangan konferensi pers memperlihatkan hadirnya jajaran pimpinan partai besar di Indonesia.

Berikut daftar pimpinan parpol yang hadir mendampingi Prabowo:

  1. Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri

  2. Ketua MPR sekaligus Ketua Dewan Kehormatan Gerindra Ahmad Muzani

  3. Waketum Demokrat Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas)

  4. Ketum Golkar Bahlil Lahadalia

  5. Ketum PAN Zulkifli Hasan

  6. Ketum NasDem Surya Paloh

  7. Ketum PKB Muhaimin Iskandar

  8. Sekjen PKS M Kholid

Selain itu, Ketua DPR Puan Maharani dan Ketua DPD Sultan Bachtiar Najamudin juga hadir mendampingi Kepala Negara. (xrq)

Reporter: Akil

Presiden Sebut DPR Siap Cabut Tunjangan dan Moratorium Kunker ke Luar Negeri

0
Konferensi Pers Prabowo di Istana (Foto: YouTube Setpres)

NUKILAN.ID | JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto mengundang sejumlah ketua umum partai politik ke Istana Negara untuk membicarakan dinamika yang tengah mengemuka di masyarakat. Pertemuan tersebut menghasilkan sejumlah langkah tegas yang akan langsung berdampak pada kinerja lembaga legislatif.

Hal itu disampaikan Prabowo melalui konferensi pers di Istana pada Minggu sore, yang disiarkan melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden, sebagaimana dilansir oleh Nukilan.id.

“Dalam rangka menyikapi apa yang menjadi aspirasi murni dari masyarakat, saya menerima laporan dari ketua umum partai politik bahwa mereka telah mengambil langkah tegas terhadap anggota DPR masing-masing terhitung mulai hari Senin, 1 September 2025, yaitu terhadap anggota DPR masing-masing yang mungkin menyampaikan pernyataan-pernyataan yang keliru,” kata Prabowo, Minggu (31/8/2025).

Prabowo menambahkan, laporan serupa juga disampaikan oleh pimpinan DPR. Menurutnya, lembaga legislatif bersepakat untuk melakukan evaluasi serius terhadap sejumlah fasilitas yang selama ini dinikmati anggota dewan.

“Kemudian, para pimpinan DPR menyampaikan akan dilakukan pencabutan beberapa kebijakan DPR RI, termasuk besaran tunjangan anggota DPR dan moratorium kunjungan kerja ke luar negeri,” tutur Prabowo.

Langkah ini dinilai sebagai upaya konkret pemerintah bersama partai politik dalam merespons keresahan publik, terutama terkait gaya hidup dan kebijakan yang dianggap tidak sejalan dengan semangat pengabdian wakil rakyat. (XRQ)

Reporter: Akil

DPP PAN Resmi Nonaktifkan Eko Patrio dan Uya Kuya dari Anggota DPR RI

0
Wakil Ketua Umum (Waketum) PAN, Viva Yoga Mauladi. (Foto: Tangkapan Layar)

NUKILAN.ID | JAKARTA – Dinamika politik di Senayan kembali memanas. Partai Amanat Nasional (PAN) resmi menonaktifkan dua artis yang juga anggota DPR RI, yakni Eko Hendro Purnomo atau Eko Patrio dan Surya Utama atau Uya Kuya.

Keputusan itu diumumkan langsung oleh Wakil Ketua Umum (Waketum) PAN, Viva Yoga Mauladi, melalui unggahan video pada Instagram resmi PAN pada Minggu (31/8/2025).

“Mencermati dinamika dan perkembangan saat ini, DPP PAN memutuskan untuk menonaktifkan Saudaraku Eko Hendro Purnomo (Eko Patrio) dan Saudaraku Surya Utama (Uya Kuya) sebagai anggota DPR RI dari Fraksi PAN DPR RI, terhitung sejak Senin, 1 September 2025,” kata Viva Yoga dikutip Nukilan.id.

Lebih lanjut, Viva Yoga meminta masyarakat untuk tetap tenang menghadapi situasi ini dan menyerahkan sepenuhnya penyelesaian persoalan kepada pemerintah.

“PAN mengimbau kepada masyarakat untuk bersikap tenang, sabar, dan mempercayakan secara penuh kepada pemerintah yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto untuk menyelesaikan persoalan ini secara tepat, cepat, dan berpihak kepada rakyat,” ujarnya.

Langkah PAN ini menyusul keputusan serupa yang diambil Partai NasDem sehari sebelumnya. NasDem resmi menonaktifkan Ahmad Sahroni dan Nafa Urbach sebagai anggota DPR RI, buntut dari pernyataan keduanya yang dianggap mencederai hati rakyat. (XRQ)

Reporter: Akil

Surya Paloh Nonaktifkan Ahmad Sahroni dan Nafa Urbach dari Anggota DPR RI

0
Ketua Umum NasDem, Surya Paloh. (Foto; Nukilan)

NUKILAN.ID | JAKARTA – Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai NasDem resmi menonaktifkan Ahmad Sahroni dan Nafa Urbach dari keanggotaan DPR RI Fraksi NasDem, terhitung mulai Senin, 1 September 2025.

Ketua Umum Partai NasDem melalui maklumat dari DPP mengumumkan keputusan itu melalui Sekretaris Jenderal DPP Partai NasDem, Hermawi F Taslim, lewat video keterangan pers yang diunggah di akun Instagram resmi partai pada Minggu (31/8/2025).

Dilansir Nukilan.id, Partai NasDem menegaskan bahwa aspirasi masyarakat harus tetap menjadi acuan utama dalam perjuangan politik partai. Namun, terdapat pernyataan dari kadernya di DPR yang dianggap telah menyinggung publik.

“Bahwa dalam perjalanan mengemban aspirasi masyarakat ternyata ada pernyataan dari pada wakil rakyat khususnya Anggota DPR RI dari Fraksi Partai NasDem yang telah menyinggung dan mencederai perasaan rakyat, dan hal tersebut merupakan penyimpangan terhadap perjuangan Partai NasDem,” kata Hermawi.

Atas dasar itu, Hermawi menyatakan DPP mengambil langkah tegas. “Atas pertimbangan hal hal tersebut diatas dengan ini DPP Partai NasDem menyatakan terhitung sejak hari Senin, 1 September 2025 DPP Partai NasDem menonaktifkan saudara Ahmad Sahroni dan Nafa Urbach sebagai Anggota DPR RI dari Fraksi Partai NasDem,” ujarnya.

Dalam sepekan terakhir, Sahroni dan Nafa menjadi sorotan tajam publik. Sahroni menuai kritik setelah menyebut desakan pembubaran DPR sebagai sikap keliru dan bahkan menilainya sebagai “mental orang tolol.”

Imbas dari polemik tersebut, posisinya sebagai Wakil Ketua Komisi III DPR digeser ke Komisi I.

Sementara itu, Nafa Urbach turut dihujani kecaman setelah unggahan videonya yang menampilkan dukungan terhadap tunjangan rumah bagi anggota DPR beredar luas di media sosial. (XRQ)

Reporter: Akil

Mahasiswa KKM Unida Tampilkan Seni Aceh di Thailand dan Malaysia

0
Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Internasional Universitas Iskandar Muda (Unida) berhasil mencuri perhatian masyarakat Toknaebaeming, Narathiwat, Thailand Selatan. (Foto: LLDIKTI XIII)

NUKILAN.ID | NARATHIWAT – Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Internasional Universitas Iskandar Muda (Unida) berhasil mencuri perhatian masyarakat Toknaebaeming, Narathiwat, Thailand Selatan. Mereka menampilkan dua seni tradisional Aceh, yakni likok pulo dan ranup lampuan, yang disambut hangat oleh warga setempat.

Penampilan yang sarat nilai budaya tersebut mendapat apresiasi tinggi dari masyarakat Thailand. Antusiasme penonton menjadi bukti bahwa seni tradisi Aceh mampu menembus panggung internasional.

M. Nur, S.IKom., M.I.Kom., selaku Ketua Tim KKM Internasional sekaligus Ketua Prodi Ilmu Komunikasi Unida, menyampaikan rasa bangganya atas keberhasilan ini.

“Alhamdulillah, kegiatan ini dapat berjalan dengan lancar. Saya berterima kasih atas dukungan semua pihak sehingga mahasiswa kita mampu memperkenalkan seni Aceh di kancah internasional,” ujarnya.

Setelah sukses tampil di Thailand, mahasiswa KKM Internasional Unida akan melanjutkan misi kebudayaan mereka ke Malaysia. Mereka dijadwalkan tampil di Gampong Aceh Yan, Keudah, yang akan dihadiri langsung oleh Rektor Unida, Prof. Dr. Syafei Ibrahim; Ketua Yayasan Unida, Drs. H. A Malik Raden; Wakil Rektor III, Dr. Bustamam Ali, M.Pd; serta Koordinator Kampus Lamteuba, Drs. Hamdani.

Tak hanya menampilkan seni, mahasiswa juga akan menggelar program pengabdian masyarakat. Kegiatan tersebut meliputi kajian dan diskusi bersama masyarakat setempat mengenai eksistensi etnis Aceh di Malaysia yang telah hidup secara turun-temurun, serta masih menjaga bahasa Aceh dalam kehidupan sehari-hari.

Editor: Akil

Polres Aceh Besar Launching Gerakan Pangan Murah Serentak Meriahkan HUT ke-80 RI

0
Polres Aceh Besar Launching Gerakan Pangan Murah Serentak Meriahkan HUT ke-80 RI. (Foto: RRI)

NUKILAN.ID | JANTHO – Dalam rangka memeriahkan HUT ke-80 Republik Indonesia, Polres Aceh Besar bersama Pemerintah Kabupaten dan Dinas Pangan Aceh Besar meluncurkan Gerakan Pangan Murah Serentak, Sabtu (30/8/2025). Kegiatan yang dipusatkan di Aula Satya Haprabu Polres Aceh Besar, Kota Jantho, ini menjadi bagian dari program nasional yang digelar di seluruh daerah.

Gerakan pangan murah bertujuan menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok, memastikan ketersediaan pangan, serta membantu meringankan beban masyarakat.

Kapolres Aceh Besar, AKBP Sujoko S.I.K., M.H., menyampaikan bahwa pangan murah merupakan program pemerintah bersama Polri untuk mendukung ketahanan pangan sekaligus menjaga daya beli masyarakat.

“Dengan adanya pangan murah ini, kita harapkan masyarakat dapat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga terjangkau. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana memperkuat sinergitas antara pemerintah, Polri, dan masyarakat,” ujar Kapolres.

Senada dengan itu, Kepala Dinas Pangan Aceh Besar, Alyadi, S.Pi., M.M., berharap gerakan pangan murah dapat memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

“Semoga kegiatan ini dapat menjadi gerakan yang bermanfaat dan dapat berguna untuk memenuhi kebutuhan masyarakat secara terjangkau secara ekonomis,” tuturnya.

Antusiasme masyarakat terlihat jelas dalam kegiatan ini. Sejumlah warga memanfaatkan kesempatan untuk membeli berbagai kebutuhan pokok, termasuk beras SPHP, dengan harga lebih rendah dari pasaran.

Acara tersebut turut dihadiri unsur Forkopimda Aceh Besar, perwakilan Bulog, serta Kepala Badan Kesbangpol Aceh Besar.