NUKILAN.id | Banda Aceh – Tradisi Meugang, ritual makan daging bersama yang telah menjadi bagian dari budaya masyarakat Aceh, harus terus dilestarikan dan dimaknai dengan bijak. Hal ini disampaikan oleh anggota Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Komisi B, Tgk. H. Abdul Gani Isa, dalam dialog interaktif bersama RRI Banda Aceh, Kamis (27/2/2025).
“Tradisi yang telah menjadi bagian dari budaya masyarakat Aceh ini harus terus berjalan. Karena melalui kegiatan ini dapat memberikan manfaat yang lebih besar,” ujarnya.
Menurutnya, Meugang bukan sekadar perayaan, tetapi juga memiliki nilai sosial dan religius yang mendalam. Ia menegaskan bahwa Meugang seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai ajang hura-hura semata. Lebih dari itu, tradisi ini merupakan momentum untuk berbagi kebahagiaan dengan mereka yang kurang mampu.
“Meugang bisa menjadi kesempatan untuk berbagi dengan masyarakat yang kurang mampu, terutama oleh mereka yang diberikan karunia lebih oleh Allah SWT. Dengan Meugang, orang-orang yang mampu dapat berbagi kepada sesama, sehingga tradisi ini tidak hanya menjadi ritual semata, tetapi juga sebagai bentuk kepedulian sosial,” katanya.
Tgk. H. Abdul Gani Isa juga menekankan pentingnya peran pemerintah daerah dan masyarakat dalam menjaga kelangsungan Meugang. Dukungan dari berbagai pihak diperlukan agar tradisi ini tetap berlangsung dengan manfaat yang maksimal bagi seluruh lapisan masyarakat.
Ia berharap adanya mekanisme yang lebih baik dalam pelaksanaan Meugang, sehingga esensi dan manfaat dari tradisi ini tetap terjaga. Baginya, Meugang tidak hanya soal menikmati hidangan daging, tetapi juga sebagai simbol kebersamaan dan ukhuwah di antara masyarakat Aceh.
“Mari kita teruskan tradisi ini dengan penuh makna dan manfaat,” ajaknya.
Dengan semangat kebersamaan dan kepedulian sosial, Meugang dapat terus menjadi tradisi yang tidak hanya bertahan, tetapi juga semakin memberikan manfaat bagi masyarakat Aceh di masa mendatang.
Editor: AKil