Monday, 12 October 2026 Banda Aceh 30°C
Jernih dan Mendalam
Mode Terang
Langganan
TERKINI
Daerah

Mitigasi Banjir di Hulu Aceh Diperkuat, Pembangunan Sabo Dam Pepelah Capai 50 Persen

Pembangunan Sabo Dam Pepelah. (Foto: Kemendagri)
Pembangunan Sabo Dam Pepelah. (Foto: Kemendagri)

NUKILAN.ID | JAKARTA – Upaya mengurangi risiko bencana di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Lesten terus dilakukan melalui percepatan penanganan kawasan hulu di Kabupaten Gayo Lues, Aceh. Salah satu langkah yang ditempuh adalah pembangunan Sabo Dam Pepelah di Kecamatan Pining yang saat ini telah mencapai progres fisik 50 persen.

Infrastruktur tersebut dibangun untuk mengendalikan material sedimen, seperti lumpur, pasir, dan pecahan batu, agar tidak terbawa arus sungai dalam jumlah berlebihan ke wilayah hilir. Pengendalian sedimen ini diharapkan mampu menekan pendangkalan sungai sekaligus meningkatkan perlindungan bagi masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai.

“Sabo Dam ini untuk mengendalikan sedimentasi dari debris atau pecahan batu,” kata Pengawas Proyek Sabo Dam Pepelah dari PT Suwanda Karya Mandiri Firman Siahaan, dalam keterangan tertulis, Minggu (11/10/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan Firman saat menerima kunjungan Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera di Kecamatan Pining, Sabtu (10/10).

Pembangunan Sabo Dam Pepelah memperoleh dukungan anggaran dari APBN Tahun Anggaran 2026 sebesar Rp70 miliar. Proyek ini ditargetkan rampung pada Desember 2026.

Untuk memastikan penyelesaian sesuai jadwal, pelaksana proyek meningkatkan jumlah tenaga kerja dan menambah dukungan alat berat. Selain itu, pekerjaan dilakukan dengan menerapkan sistem kerja tiga sif.

Saat ini, sebanyak sekitar 60 pekerja terlibat dalam pembangunan tersebut. Mereka didukung enam unit ekskavator, satu unit breaker, dua truk pengaduk beton, serta satu unit pompa beton.

Aktivitas pembangunan berlangsung secara bergantian pada siang dan malam hari. Meski demikian, pelaksanaan pekerjaan tetap mempertimbangkan faktor cuaca dan keselamatan para pekerja.

“Percepatannya sekarang kami bekerja siang dan malam karena sudah mendekati musim hujan dan waktu pelaksanaan juga semakin dekat dengan Desember,” ujar Firman.

Sementara itu, Koordinator Lapangan Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I Aceh Fahried Wajidi menjelaskan bahwa pembangunan Sabo Dam Pepelah merupakan bagian dari upaya penanganan DAS Lesten secara menyeluruh.

Menurutnya, hujan dengan intensitas tinggi dapat meningkatkan aliran air dari kawasan hulu yang membawa sedimen dan material batu dalam volume besar menuju wilayah hilir.

“Sedimen datang dari hulu DAS Sungai Lesten. Apabila terjadi banjir besar, material tersebut dapat terbawa hingga ke wilayah hilir, terutama Aceh Timur dan Aceh Tamiang,” kata Fahried.

Pembangunan infrastruktur pengendali sedimen ini diharapkan dapat memberikan perlindungan tambahan bagi permukiman yang berada di sepanjang aliran sungai. Sejumlah wilayah yang menjadi perhatian di antaranya Desa Pining, Desa Lesten, Desa Lokop, serta kawasan permukiman lainnya di bagian hilir DAS.

Langkah mitigasi tersebut juga mempertimbangkan pengalaman bencana hidrometeorologi pada November 2025. Saat itu, luapan sungai membawa material sedimen hingga ke kawasan permukiman dan menimbulkan dampak bagi wilayah terdampak.

Dengan demikian, penanganan DAS Lesten tidak hanya difokuskan pada pemulihan kawasan yang terdampak bencana, tetapi juga pada pembangunan infrastruktur mitigasi untuk mengurangi risiko kerusakan serupa di masa mendatang.