NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Filmmaker asal Aceh yang juga Ketua Aceh Documentary, Azhari, mengatakan film dokumenter karya pelajar tidak hanya menjadi medium untuk menyampaikan cerita, tetapi juga dapat digunakan sebagai sarana dakwah yang menyentuh sisi emosional penonton.
Hal itu disampaikan Azhari dalam sambutannya pada Award Ceremony Aceh Documentary Competition (ADC) 2026 yang digelar Aceh Documentary di Perpustakaan Wilayah Aceh, Lamgugob, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh, Senin (28/9/2026).
Kegiatan tersebut merupakan puncak penganugerahan dan penyerahan penghargaan bagi film dokumenter pelajar terbaik ADC 2026. Tiga film yang dihasilkan dalam kompetisi tersebut yakni “Bili dan Laut”, “Bahasa Indatu”, dan “Selat Hormuz”.
Pantauan Nukilan di lokasi acara, Award Ceremony ADC 2026 berlangsung tertib. Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh M Nasir, perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Aceh, perwakilan sekolah, serta siswa SMA/MA di Banda Aceh.
Azhari mengatakan, proses produksi ketiga film tersebut berlangsung selama dua bulan dengan melibatkan para pelajar bersama teman sebaya dan guru pendamping.
“Selama dua bulan ini akan melahirkan tiga karya film dokumenter. Selama dua bulan ini saya didampingi oleh kawan-kawan sesama pelajar dan ibu guru selaku pendamping,” kata Azhari dalam sambutannya, Senin (28/9/2026).
Ia menyebut perjalanan tersebut merupakan bagian dari program Aceh Documentary yang telah memasuki tahun ke-14. Menurutnya, dalam perkembangannya Aceh Documentary mengubah fokus program dengan memberikan perhatian lebih besar kepada pelajar.
“Di tahun terakhir ini kami kemudian berubah, yang awalnya ADISI ini hanya fokus secara umum, tapi akhirnya kami memilih pelajar,” ujarnya.
Menurut Azhari, pelajar memiliki kedekatan emosional dengan lingkungan di sekitarnya sehingga dapat menghasilkan perspektif tersendiri ketika mengangkat berbagai persoalan melalui film dokumenter.
“Mereka lebih punya emosional tentang alam sekitarnya,” kata Azhari.
Azhari kemudian menceritakan pengalaman pemutaran film dalam program Kampung Film yang dijalankan Aceh Documentary. Program tersebut, kata dia, telah membawa film-film karya peserta ke berbagai kampung.
Ia mengatakan, pada tahun ini program tersebut dilaksanakan di 17 kampung. Dalam salah satu pemutaran di Bireuen, terdapat tiga desa yang membatalkan pemutaran film karena salah satu film dinilai memiliki persoalan tertentu.
Namun, sebuah pondok pesantren kemudian meminta film tersebut diputar di tempat mereka. Setelah film selesai ditonton, pimpinan pesantren yang biasa dipanggil walid bahkan memutuskan tidak menyampaikan ceramah pada malam itu.
“Ada hal menarik bagi kami setelah film ditonton, kemudian walid, panggilan pimpinannya itu, walid meminta bahwa dia malam ini enggak lagi berceramah karena sudah menonton film,” ujar Azhari.
Pengalaman tersebut, menurut Azhari, menunjukkan bahwa film dapat menjadi medium alternatif untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat.
“Akhirnya kami merasa sangat lega karena film di satu sisi juga bisa menjadi sebuah medium dakwah,” katanya.
Ia menilai pesan yang disampaikan melalui film dapat membangun keterlibatan emosional penonton, termasuk ketika karya tersebut dibuat oleh pelajar yang merekam realitas kehidupan di sekitarnya.
“Mungkin kawan-kawan pelajar ini sudah memberikan dakwahnya saya rasa yang bisa memberikan emosional kepada penonton,” ujar Azhari. []
Reporter: Sammy


