NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Hari Kartini menjadi momen refleksi untuk melihat bagaimana perempuan terus berkontribusi dalam pembangunan. Dari sektor perdagangan hingga jasa, perempuan Aceh kian menunjukkan perannya di dunia kerja. Melalui data ketenagakerjaan, kita dapat membaca gambaran partisipasi, peluang, sekaligus tantangan yang mereka hadapi.
Narasi lama yang menyebut perempuan hanya berkutat pada “kasur, dapur, dan sumur” masih kerap muncul dalam budaya patriarki. Perempuan sering dijebak dalam anggapan bahwa ruang mereka terbatas pada urusan domestik. Namun, zaman terus berubah. Tembok rumah tidak lagi mampu membendung potensi perempuan untuk berdiri sejajar dengan laki-laki.
Partisipasi yang Kian Menguat
Data hasil penelusuran Nukilan.id dari Badan Pusat Statistik menunjukkan perubahan itu bukan sekadar asumsi, melainkan realitas yang terukur dan terus bergerak dari waktu ke waktu.
Pada Agustus 2025, jumlah perempuan Aceh yang masuk dalam angkatan kerja mencapai 1.041.048 orang, sementara yang bukan angkatan kerja tercatat 1.040.671 orang. Angka ini menunjukkan bahwa hampir separuh perempuan usia kerja di Aceh telah terlibat dalam aktivitas ekonomi, baik bekerja maupun mencari pekerjaan.

Partisipasi ini juga tercermin dari peningkatan jumlah perempuan bekerja dalam beberapa tahun terakhir. Pada Agustus 2023, jumlah perempuan bekerja tercatat 906.469 orang. Angka ini meningkat menjadi 941.033 orang pada 2024, dan kembali naik menjadi 962.758 orang pada 2025.
Peningkatan jumlah perempuan yang bekerja tidak terjadi secara kebetulan. Ada sejumlah faktor yang mendorongnya, antara lain meningkatnya Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK), membaiknya akses pendidikan dan literasi, pertumbuhan sektor UMKM, digitalisasi ekonomi, serta dorongan kebutuhan ekonomi rumah tangga.

TPAK sendiri merupakan indikator yang menunjukkan persentase penduduk usia kerja yang aktif bekerja atau sedang mencari pekerjaan. Pada Agustus 2025, TPAK perempuan di Aceh mencapai 50,01 persen. Artinya, satu dari dua perempuan usia kerja di Aceh telah terlibat dalam pasar tenaga kerja.
Dominasi di Sektor Tertentu
Jika ditelusuri lebih jauh, kontribusi perempuan terlihat dari berbagai sektor pekerjaan. Pada 2025, perempuan Aceh paling banyak bekerja di sektor:
- Pertanian, perkebunan, kehutanan, perburuan, dan perikanan: 312.218 orang
- Jasa kemasyarakatan, sosial, dan perorangan: 292.673 orang
- Perdagangan, rumah makan, dan jasa akomodasi: 224.685 orang
- Industri pengolahan: 103.612 orang
Sementara itu, jumlah perempuan yang bekerja di sektor lainnya relatif lebih kecil:
- Lembaga keuangan, real estate, dan jasa perusahaan: 13.198 orang
- Transportasi, pergudangan, dan komunikasi: 7.145 orang
- Konstruksi: 6.169 orang
- Pertambangan dan penggalian: 1.541 orang
- Listrik, gas, dan air minum: 1.517 orang
Distribusi ini menunjukkan bahwa perempuan masih banyak terkonsentrasi pada sektor-sektor tertentu, terutama yang bersifat tradisional dan berbasis layanan.

Tantangan yang Masih Membayangi
Di balik peningkatan partisipasi tersebut, tantangan tetap ada. Pada Agustus 2025, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) perempuan di Aceh tercatat sebesar 7,52 persen, yang menunjukkan masih adanya perempuan yang belum mendapatkan pekerjaan meski aktif mencari kerja.
Selain itu, sekitar 37,58 persen pekerja informal di Aceh merupakan perempuan. Pekerjaan informal memang menawarkan fleksibilitas, namun sering kali tidak disertai jaminan sosial, kepastian pendapatan, maupun perlindungan kerja yang memadai. Kondisi ini membuat stabilitas ekonomi perempuan cenderung lebih rentan.
Antara Peran Domestik dan Ekonomi
Di sisi lain, masih banyak perempuan yang berada di luar angkatan kerja. Dari kelompok ini, mayoritas merupakan perempuan yang mengurus rumah tangga, yakni sebanyak 757.135 orang. Selain itu, terdapat 184.875 orang yang masih bersekolah, serta 96.661 orang yang melakukan kegiatan lainnya.
Hal ini menunjukkan bahwa peran domestik masih menjadi faktor penting yang memengaruhi partisipasi perempuan di dunia kerja. Meski demikian, mengurus rumah tangga tetap merupakan pekerjaan yang memiliki nilai penting dalam kehidupan sosial.

Pada akhirnya, setiap angka dalam data ini bukan sekadar statistik. Ia merepresentasikan realitas perempuan Aceh yang terus bergerak, beradaptasi, dan berkontribusi dalam pembangunan.
Kartini masa kini tidak lagi hanya hidup dalam sejarah. Ia hadir dalam angka-angka—dalam setiap perempuan yang bekerja, berkarya, dan mengambil peran dalam membangun masa depan. (XRQ)
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News
Sumber Data: Badan Pusat Statistik (BPS), Keadaan Angkatan Kerja Provinsi Aceh, Agustus 2025

