Monday, 5 October 2026 Banda Aceh 31°C
Jernih dan Mendalam
Mode Terang
Langganan
TERKINI
Opini

Janur Ireng: Prekuel yang Kaya Mitologi, tetapi Miskin Rasa Takut

Poster Film Janur Ireng: Sewu Dino The Prequel (2025). (Foto: mdentertainment.com)
Poster Film Janur Ireng: Sewu Dino The Prequel (2025). (Foto: mdentertainment.com)

NUKILAN.ID | OPINI – Janur Ireng: Sewu Dino The Prequel (2025) adalah film horor garapan Kimo Stamboel yang tayang di bioskop pada 24 Desember 2025. Filmnya diproduseri Manoj Punjabi lewat MD Pictures, dengan durasi sekitar 94 menit dan klasifikasi D17+. Ceritanya diadaptasi dari novel SimpleMan dan menjadi prekuel Sewu Dino (2023). Sebagai upaya memperluas semesta horor Jawa, film ini menarik dibahas karena menjanjikan asal-usul teror yang sebelumnya hanya disinggung samar. Pertanyaannya, apakah asal-usul itu dituturkan dengan cukup mencekam?

Sinopsis

Film ini berlatar tahun 1997, beberapa tahun sebelum peristiwa Sewu Dino. Sabdo (Marthino Lio) dan adiknya, Intan (Nyimas Ratu Rafa), hidup sederhana di desa. Keluarga besar mereka meyakini keduanya tidak boleh dipersatukan, sebab jika bersatu mereka akan memiliki kekuatan yang tak terkalahkan. Keyakinan itu memancing paman mereka, Arjo Kuncoro (Tora Sudiro), untuk menguasai keduanya. Mereka dibawa ke rumah mewah keluarga Kuncoro dengan janji kekayaan, yang ternyata menjadi awal malapetaka. Di titik inilah santet Janur Ireng menjadi satu-satunya harapan.

Aspek Naratif

Kekuatan terbesar film ini ada pada gagasannya. Kimo berhasil mengaitkan ceritanya dengan Sewu Dino secara konsisten, sehingga penonton yang mengikuti semestanya mendapat jawaban atas beberapa pertanyaan lama. Intrik tujuh keluarga dan konspirasi di baliknya juga cukup menarik untuk diikuti. Ceritanya memang berbeda dari versi Wattpad dan buku SimpleMan, yang bisa dibaca sebagai keberanian adaptasi sekaligus risiko bagi pembaca setia novelnya.

Kelemahannya terasa pada eksekusi. Alur terkesan terburu-buru, sehingga duka sang tokoh utama kurang mendapat ruang untuk dirasakan penonton. Emosi yang seharusnya menjadi fondasi tragedi keluarga ini terasa dangkal karena filmnya tidak memberi waktu untuk mengendapkannya. Sebagai prekuel, film ini juga masih meninggalkan banyak hal menggantung, termasuk sejarah santet Janur Ireng itu sendiri, padahal judul filmnya menjanjikan hal itu.

Aspek Sinematik

Dari sisi akting, Karina Suwandi kembali menghadirkan Mbah Karsa sebagai sosok anggun, berwibawa, sekaligus mengerikan, dan Rio Dewanto menjadi jembatan yang kuat ke semesta Sewu Dino. Namun konsistensi nada permainan, terutama di antara pemeran pendukung, masih naik-turun.

Secara visual, desain kuyang menjadi salah satu daya tarik: khas secara budaya dan efektif secara visual. Sayangnya, kualitas CGI tidak merata. Adegan kepala terpenggal, misalnya, terlihat seperti efek tempelan yang tidak menyatu dengan gambar.

Persoalan paling mendasar ada pada rasa takutnya. Film ini lebih banyak mengandalkan gore yang berdarah-darah dan kejutan kasar ketimbang ketegangan yang dibangun perlahan. Hasilnya lebih melelahkan daripada mencekam, dan bagi film horor, itu kekurangan yang sulit dimaafkan.

Pesan dan Konteks Sosial

Di balik santet dan darahnya, Janur Ireng bicara tentang keluarga sebagai sumber luka. Ambisi menguasai kekuatan, iming-iming kekayaan, dan dendam yang diwariskan antargenerasi menunjukkan bahwa teror sejati lahir dari manusia, bukan dari makhluk gaib. Anak-anak yang diperlakukan sebagai “aset” keluarga adalah gambaran yang cukup relevan dengan relasi kuasa dalam keluarga. Sayang, subteks ini belum digali sedalam potensinya karena film terlalu sibuk berpindah dari satu adegan mengejutkan ke adegan berikutnya.

Kesimpulan

Janur Ireng adalah prekuel yang berguna bagi penggemar semesta Sewu Dino dan punya gagasan mitologis yang layak dihargai. Namun sebagai film horor, ia belum sepenuhnya berhasil menakuti, dan sebagai drama keluarga, ia belum cukup memberi ruang bagi emosinya. Film ini direkomendasikan bagi penonton yang sudah mengikuti semestanya dan tahan dengan adegan gore. Penonton yang mencari horor atmosferik yang menghantui mungkin akan merasa kurang puas. (xrq)

A
Penulis

Akil