JaaNUKILAN.ID | Takengon — Kondisi ruas jalan Bintang–Serule di Kecamatan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah, dilaporkan masih sulit dilalui pascabadai disertai angin kencang yang terjadi pada 20 Mei lalu. Material longsor yang menimbun badan jalan serta kondisi berlumpur disebut menghambat mobilitas warga dan distribusi barang kebutuhan masyarakat.
Berdasarkan dokumentasi lapangan dan keterangan warga, sejumlah titik jalan masih dipenuhi lumpur dan sisa longsoran. Kendaraan pengangkut material bahkan dilaporkan kerap terjebak saat melintas.
Kepala Koordinator Relawan Kecamatan Bintang, Wedy Sastra Yoga, mengatakan kondisi jalan hingga kini belum sepenuhnya pulih meski alat berat sempat dikerahkan ke lokasi.
“Alat berat datang, tapi hanya membersihkan jalan. Belum perbaikan menyeluruh. Jalan masih berlumpur dan susah dilalui,” kata Wedy kepada Nukilan, Sabtu (23/5/2026).
Ia menyebut Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah sejauh ini hanya mengalokasikan satu unit ekskavator untuk menangani pembersihan material longsor di wilayah Kecamatan Bintang. Keterbatasan alat berat tersebut dinilai membuat proses penanganan berjalan lambat.
“Ekskavatornya cuma satu untuk Kecamatan Bintang dan dipakai ke beberapa lokasi. Jadi penanganannya terhambat, hanya bersihkan jalan saja,” ujarnya.
Menurut Wedy, kerusakan akses jalan mulai berdampak pada berbagai aktivitas masyarakat, termasuk distribusi material bangunan untuk fasilitas pendidikan dan kegiatan sosial di desa.
Kendaraan pembawa material, lanjutnya, sempat terjebak berjam-jam akibat kondisi jalan yang licin dan tertutup lumpur.
“Mobil pembawa material pernah terjebak dari sekitar pukul 20.00 sampai dini hari. Material pasir akhirnya diturunkan di jalan agar kendaraan bisa keluar,” katanya.
Ruas jalan tersebut diketahui berstatus jalan provinsi dan menjadi jalur penting bagi aktivitas masyarakat Kecamatan Bintang. Namun hingga saat ini, warga menilai penanganan yang dilakukan masih bersifat sementara.
Kerusakan jalan juga berdampak terhadap perekonomian masyarakat. Sebagian warga menggantungkan penghasilan dari hasil getah pinus, sementara distribusi hasil panen menjadi terhambat karena kendaraan pengangkut sulit menjangkau lokasi.
“Ekonomi warga ikut terganggu. Hasil getah pinus susah dijual karena mobil pengangkut tidak bisa masuk,” kata Wedy.
Ia menyebut dalam sebulan terakhir, ruas jalan di kawasan tersebut telah beberapa kali mengalami putus akses akibat longsor. Penanganan darurat dilakukan dengan pembersihan material longsor, namun kondisi serupa kembali terjadi setelah hujan.
“Dalam bulan ini hampir tiga kali jalan putus. Biasanya dibersihkan, tetapi beberapa waktu kemudian longsor lagi. Belum ada solusi permanen,” ujarnya.
Wedy menambahkan, persoalan jalan rusak telah disampaikan kepada pemerintah daerah. Terdapat wacana peningkatan status ruas jalan dari jalan provinsi menjadi jalan nasional agar penanganan infrastruktur mendapat dukungan lebih besar. Namun hingga kini belum ada tindak lanjut yang terlihat.
Warga berharap pemerintah segera melakukan perbaikan permanen pada ruas jalan Bintang–Serule guna mengurangi risiko terputusnya akses dan menjaga kelancaran aktivitas ekonomi masyarakat di wilayah tersebut. []
Reporter: Sammy

