NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Sebanyak 23 kader Mujahid Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Kota Banda Aceh resmi menjalani bai’at setelah menyelesaikan rangkaian Pelatihan Kader Dasar (PKD) dan Sekolah Islam Gender (SIG) 2026.
Prosesi tersebut digelar di Aula Sekretariat Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Banda Aceh pada malam Senin, 6 September 2026. Kegiatan kaderisasi berlangsung selama tiga hari tiga malam dan menjadi bagian dari upaya PMII Banda Aceh meningkatkan kapasitas kader dalam berbagai bidang.
Penguatan yang diberikan mencakup pemahaman organisasi, kepemimpinan, intelektualitas, keislaman hingga perspektif gender. Rangkaian kegiatan sebelumnya dibuka Ketua Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII Aceh, Teuku Raysoel Akram, serta dihadiri Ketua KNPI Kota Banda Aceh dan Ketua Ikatan Alumni (IKA) PMII Kota Banda Aceh.
Ketua PC PMII Kota Banda Aceh, Muhammad Idris, mengatakan proses kaderisasi tidak seharusnya berhenti sebagai prosedur untuk melanjutkan ke jenjang pengkaderan berikutnya.
“PKD dan SIG bukan hanya kegiatan formalitas untuk kenaikan jenjang pengkaderan di PMII. Ini adalah ruang belajar untuk memahami PMII secara lebih mendalam dan utuh. Ilmu, pengalaman, serta nilai-nilai yang diperoleh dari para pemateri harus menjadi bekal bagi kader untuk menjalankan peran dan tanggung jawabnya setelah kembali ke komisariat dan kampus masing-masing,” ujar Muhammad Idris.
Menurut Idris, kader yang telah menyelesaikan PKD dan SIG perlu meneruskan proses pembelajaran melalui jenjang kaderisasi berikutnya. Ia menyebut perjalanan tersebut membutuhkan kesungguhan dan konsistensi dari setiap kader.
“Jangan berhenti sampai di PKD dan SIG. Kader harus memiliki komitmen untuk melanjutkan proses kaderisasi ke jenjang berikutnya, mulai dari PKL, PKN, SKK hingga SKKN. Karena semakin jauh seseorang menempuh proses kaderisasi, semakin besar pula ruang untuk memahami mengapa kita harus ber-PMII dan apa yang dapat kita kontribusikan bagi organisasi, kampus, masyarakat, dan bangsa,” katanya.
Ia juga meminta para kader tidak sekadar membawa identitas sebagai anggota PMII setelah kembali ke lingkungan masing-masing. Pengetahuan dan pengalaman selama kaderisasi diharapkan diwujudkan melalui kegiatan organisasi, pencapaian akademik, pengabdian, maupun berbagai bentuk kontribusi sosial.
Hal serupa disampaikan Sekretaris IKA PMII Kota Banda Aceh sekaligus Sekretaris KNPI Kota Banda Aceh, Akmaluddin. Ia menilai selesainya proses kaderisasi harus menjadi awal bagi kader untuk mengambil peran lebih luas.
Akmaluddin mendorong para kader Mujahid kembali ke komisariat dan kampus dengan membawa semangat baru serta ikut mencari jalan keluar atas berbagai persoalan yang muncul di lingkungan akademik dan masyarakat.
“Setelah kembali ke komisariat dan kampus masing-masing, kader harus mampu memberikan warna yang positif. Jadilah kader yang menghadirkan gagasan, membangun kolaborasi, menjaga tradisi intelektual, dan memberikan kontribusi nyata. Keberadaan kader PMII harus dapat dirasakan manfaatnya, bukan hanya bagi organisasi, tetapi juga bagi kampus dan masyarakat,” pesan Akmaluddin.
Ia mengatakan kemampuan beradaptasi dengan perubahan harus berjalan beriringan dengan penguatan kapasitas dan nilai-nilai yang menjadi dasar perjuangan organisasi. Kader juga dinilai perlu memperluas jejaring dan mengambil peran dalam berbagai bidang.
Sementara itu, Ketua PKC PMII Aceh, Teuku Raysoel Akram, menyoroti tantangan yang muncul seiring perkembangan teknologi dan perubahan sosial. Menurutnya, kondisi tersebut mengharuskan kader memiliki kemampuan membaca perubahan secara kritis.
“Kader PMII hari ini harus melek terhadap perkembangan zaman. Tantangan era digital dan global tidak boleh dihadapi dengan sikap pasif. Kader harus memiliki kapasitas intelektual, kemampuan beradaptasi, dan keberanian untuk mengambil peran. Teknologi harus menjadi instrumen perjuangan untuk memperluas manfaat dan gerakan,” tegas Teuku Raysoel.
Raysoel juga mengingatkan agar kemampuan memanfaatkan perkembangan teknologi tidak membuat kader kehilangan nilai dan arah perjuangan organisasi.
“Kader harus mampu menyeimbangkan antara kemajuan zaman dan nilai-nilai yang menjadi pijakan perjuangan. Jangan sampai perkembangan teknologi membuat kita kehilangan arah. Justru dengan kapasitas keilmuan dan nilai yang kuat, kader harus mampu membawa perubahan dan manfaat yang nyata di kepengurusan, komisariat, kampus, maupun di tengah masyarakat,” lanjutnya.
Bai’at terhadap 23 kader tersebut menjadi bagian dari upaya PC PMII Kota Banda Aceh menjaga keberlanjutan proses kaderisasi organisasi. Setelah menyelesaikan PKD dan SIG, para kader diharapkan melanjutkan proses pengembangan diri melalui aktivitas organisasi dan pengabdian di tengah masyarakat.
PC PMII Kota Banda Aceh berharap para kader Mujahid dapat membawa bekal kaderisasi dalam kehidupan akademik, organisasi dan sosial. Mereka juga diharapkan memiliki integritas, wawasan keislaman dan kebangsaan, kapasitas kepemimpinan serta kepekaan terhadap persoalan yang berkembang di masyarakat.
Prosesi bai’at pun menjadi awal dari tanggung jawab baru para kader untuk menerapkan pengetahuan dan nilai yang diperoleh selama mengikuti proses kaderisasi.
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

