UTU Gandeng USK untuk Penuhi Kebutuhan Dosen Biomedik, Perizinan Fakultas Kedokteran Dikebut

Share

NUKILAN.ID | MEULABOH — Universitas Teuku Umar (UTU) menggandeng Universitas Syiah Kuala (USK) dalam upaya mempercepat proses perizinan pembukaan Fakultas Kedokteran (FK) UTU. Kerja sama tersebut diarahkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga pengajar spesialis di bidang biomedik yang menjadi salah satu kendala dalam pengajuan izin operasional fakultas tersebut.

Kesepakatan kedua perguruan tinggi negeri itu dituangkan melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) di Ruang Senat USK, Banda Aceh, Kamis, 3 September 2026.

MoU ditandatangani Rektor UTU Prof. Dr. Nyak Amir, S.Pd., M.Pd. dan Rektor USK Prof. Mirza Tabrani, S.E., M.B.A., D.B.A. Pada kesempatan yang sama, dokumen teknis pengampuan bidang kedokteran turut diteken Wakil Rektor III UTU H. Ibrahim Laweung, SKM., MNSc. bersama Dekan FK USK Dr. dr. Bakhtiar, Sp.A., M.Kes. Penandatanganan tersebut disaksikan Ketua Tim Task Force Pendirian FK UTU Prof. Dr. dr. Rajuddin, Sp.OG(K), Subsp.FER., FISOG.

Sejumlah pejabat dari kedua universitas turut menghadiri kegiatan tersebut. Dari UTU hadir Kepala LPMPP UTU Prof. Dr. Iskandar AS, S.Pd., M.App. Ling., tim kerja sama, serta unsur protokoler dan humas. Sementara dari USK hadir Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kewirausahaan Dr. Rina Suryani Oktari, S.Kep., M.Si., FRSPH., Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kemitraan, dan Bisnis Dr. Ir. Ramzi Adriman, S.T., M.Sc., Sekretaris Universitas Prof. Dr. Nur Fadli, S.Pi., M.Sc., serta sejumlah pimpinan lainnya.

Sebelumnya, pengajuan pendirian FK UTU melalui Sistem Informasi Pengajuan Kelembagaan (SIAGA) Dikti belum dapat diproses secara tuntas karena persyaratan tenaga pengajar spesialis biomedik yang harus memiliki keterikatan langsung dengan home base UTU belum sepenuhnya terpenuhi. Adapun kebutuhan tenaga dosen klinis disebut telah tersedia.

Melalui kerja sama tersebut, USK akan membantu UTU memenuhi kebutuhan sumber daya manusia di bidang biomedik sekaligus memperkuat kesiapan fasilitas penunjang pendidikan kedokteran. Upaya itu diharapkan dapat memperlancar tahapan verifikasi kelayakan oleh kementerian hingga izin operasional FK UTU diterbitkan.

Sebagai tindak lanjut awal, UTU akan mengirimkan 17 tenaga laboratorium untuk mengikuti pelatihan di FK USK. Mereka akan mendapatkan pembekalan mengenai pengelolaan ruang praktikum, pemeliharaan peralatan medis, serta penerapan standar keselamatan di laboratorium kedokteran.

“Membangun Fakultas Kedokteran tidak cukup dengan mendirikan gedung dan membeli peralatan. Kehadiran USK sangat kami butuhkan untuk menutupi kekurangan SDM pengajar biomedik serta melatih pengelola laboratorium agar siap menjalankan proses pembelajaran,” kata Prof. Nyak Amir di hadapan jajaran senat dan pimpinan kedua universitas.

Menurut Nyak Amir, hubungan antara UTU dan USK telah terjalin sejak masa awal berdirinya UTU. Pendampingan untuk rencana pendirian FK UTU sebelumnya juga pernah melibatkan FK USK. Namun, sekitar tiga tahun lalu, proses pendampingan tersebut dialihkan kepada UPN Veteran Jakarta karena FK USK tengah mendampingi perguruan tinggi lain.

Meski demikian, komunikasi dan hubungan kelembagaan antara UTU dan USK tetap berjalan. Kerja sama terbaru ini kembali mempertemukan kedua institusi untuk mendukung percepatan pembukaan FK UTU.

Rektor USK Prof. Mirza Tabrani dalam kesempatan itu menekankan pentingnya memastikan kerja sama tersebut menghasilkan manfaat nyata, bukan berhenti pada penandatanganan dokumen. Ia meminta aspek keberlanjutan pembiayaan, kualitas pendidikan, serta regenerasi tenaga dosen turut dipersiapkan sejak awal.

“Kerja sama perguruan tinggi saat ini diukur dari output dan dampak riil bagi masyarakat. Penandatanganan hari ini harus segera ditindaklanjuti dengan pengisian formasi dosen biomedik, pelatihan laboratorium, dan verifikasi fasilitas pendukung agar izin dapat segera terbit,” ujar Prof. Mirza.

Rencana pendirian FK UTU sendiri berkaitan dengan kebutuhan pemerataan akses layanan kesehatan di wilayah Barat Selatan Aceh. Kawasan Barsela selama ini menghadapi tantangan geografis dan jarak menuju pusat layanan kesehatan serta rujukan di Banda Aceh.

Dengan keberadaan fakultas kedokteran di Meulaboh, UTU berharap dapat ikut memperkuat ketersediaan tenaga medis di kawasan tersebut. Lulusan yang berasal dari daerah juga diharapkan memiliki peluang lebih besar untuk kembali mengabdi di wilayah asalnya.

Ketua Tim Task Force Pendirian FK UTU Prof. Rajuddin mengatakan hasil riset kependidikan menunjukkan dokter yang menempuh pendidikan dan berasal dari daerah tertentu cenderung memiliki tingkat retensi lebih tinggi untuk bekerja di daerah asal.

“FK UTU hadir bukan sebagai pesaing fakultas kedokteran yang sudah ada di Aceh, melainkan pelengkap. Kami ingin memastikan masyarakat di kawasan Barat Selatan mendapat kepastian akses layanan medis melalui pemerataan distribusi dokter di masa depan,” kata Prof. Rajuddin.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Read more

Local News