NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh mencatat perekonomian Aceh pada triwulan II 2026 tumbuh 4,86 persen secara tahunan (year-on-year/y-on-y). Sementara dibandingkan triwulan sebelumnya (quarter-to-quarter/q-to-q), ekonomi Aceh tumbuh 3,77 persen, dan secara kumulatif semester I 2026 tumbuh 4,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu (cumulative-to-cumulative/c-to-c).
Kepala BPS Provinsi Aceh, Agus Andria, mengatakan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Aceh atas dasar harga berlaku pada triwulan II 2026 mencapai Rp69,69 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan 2010 sebesar Rp41,46 triliun.
“Ekonomi Aceh pada triwulan II 2026 menunjukkan pertumbuhan yang positif, baik dibandingkan triwulan sebelumnya maupun periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan ini mencerminkan meningkatnya aktivitas ekonomi di berbagai sektor, terutama konstruksi serta pengeluaran konsumsi pemerintah,” kata Agus Andria dalam konferensi pers BPS Aceh, dilansir Nukilan, Jumat (7/8/2026).
Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan tahunan tertinggi terjadi pada sektor konstruksi yang tumbuh 13,36 persen. Sektor jasa keuangan dan asuransi meningkat 12,32 persen, sedangkan penyediaan akomodasi dan makan minum tumbuh 9,84 persen. Sebaliknya, sektor real estat mengalami kontraksi sebesar 5,95 persen, sementara pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah, dan daur ulang terkontraksi 2,01 persen.
Meski demikian, struktur ekonomi Aceh masih didominasi sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan dengan kontribusi 31,16 persen terhadap PDRB. Posisi berikutnya ditempati perdagangan besar dan eceran serta reparasi mobil dan sepeda motor sebesar 15,35 persen, administrasi pemerintahan 9,18 persen, konstruksi 8,88 persen, dan transportasi serta pergudangan 7,12 persen. Lima sektor tersebut menyumbang sekitar 71,69 persen terhadap perekonomian Aceh.
Sementara dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi Aceh terutama didorong oleh meningkatnya pengeluaran konsumsi pemerintah yang tumbuh 22,16 persen secara tahunan. Selain itu, pembentukan modal tetap bruto meningkat 10,78 persen dan konsumsi lembaga non-profit yang melayani rumah tangga (LNPRT) tumbuh 9,83 persen.
Pada semester I 2026, ekonomi Aceh tumbuh 4,48 persen dibandingkan semester I 2025. Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi berasal dari lapangan usaha jasa keuangan dan asuransi sebesar 15,11 persen, diikuti konstruksi 14,62 persen serta penyediaan akomodasi dan makan minum 11,68 persen. Dari sisi pengeluaran, konsumsi pemerintah menjadi komponen dengan pertumbuhan tertinggi sebesar 23,89 persen.
Agus Andria menjelaskan, capaian tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi di Aceh terus bergerak positif sepanjang semester pertama tahun ini. Menurutnya, peningkatan belanja pemerintah serta aktivitas pembangunan menjadi faktor penting yang menopang pertumbuhan ekonomi daerah.
Di tingkat regional, Aceh menyumbang 4,78 persen terhadap perekonomian Pulau Sumatera. Pertumbuhan ekonomi Sumatera pada triwulan II 2026 tercatat sebesar 5,06 persen secara tahunan, sehingga laju pertumbuhan Aceh masih berada sedikit di bawah rata-rata regional Sumatera. []
Reporter: Sammy

