NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Banjir bandang dan material lumpur yang menerjang sejumlah wilayah Aceh pada penghujung 2025 tak hanya berdampak pada kehidupan masyarakat dan infrastruktur. Bencana tersebut juga mengancam keberadaan manuskrip kuno yang menjadi bagian dari warisan budaya dan menyimpan pengetahuan serta memori kolektif masyarakat.
Kondisi itu mendorong Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Masyarakat Pernaskahan Nusantara (MANASSA) dan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) melakukan penelitian mengenai manajemen risiko bencana sekaligus konservasi manuskrip yang terdampak bencana hidrologi.
Rangkaian observasi dan uji coba penelitian berlangsung di Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, pada 25–31 Agustus 2026.
Ketua Tim Riset dari Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan (PR MLTL) BRIN, Husnul Fahimah Ilyas, mengatakan penelitian tersebut diarahkan untuk menghasilkan model konservasi manuskrip yang terdampak banjir dengan menggunakan teknik pengeringan manual knockdown.
“Metode ini bersifat portabel, modular, berbiaya rendah, dan dapat diterapkan secara in situ (langsung di lokasi) pada wilayah rawan bencana hidrologi,” paparnya.
Peneliti PR MLTL BRIN sekaligus Ketua Umum MANASSA Pusat, Agus Iswanto, mengatakan penelitian itu tidak hanya berfokus pada aspek konservasi fisik, tetapi juga mencakup penyusunan sistem penanganan manuskrip ketika bencana terjadi.
“Riset ini juga diarahkan untuk menghasilkan model atau protokol manajemen risiko bencana hidrologi yang dikhususkan bagi warisan dokumenter berupa manuskrip,” ujarnya Agus yang juga menjabat sebagai Ketua Umum MANASSA Pusat.
Sementara itu, Konservator Perpusnas Aris Riyadi menjelaskan bahwa tim juga mengembangkan ruang pengering atau chamber yang dapat dipindahkan dari satu lokasi ke lokasi lain.
“Alat ini mampu mengeringkan manuskrip terdampak banjir langsung di lokasi bencana dengan proses yang jauh lebih cepat, efisien, dan mudah dimobilisasi ketimbang mesin freeze drying yang selama ini lazim digunakan,” tegas Aris.
Dalam observasi yang turut melibatkan Pamong Budaya dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah Aceh, Aris menjelaskan bahwa proses penyelamatan manuskrip harus diawali dengan pemeriksaan terhadap tingkat kerusakannya.
Menurut dia, identifikasi tersebut menjadi tahap penting pada masa awal setelah bencana. Manuskrip kemudian dapat menjalani proses pengeringan sebelum masuk ke tahap restorasi berikutnya, dengan penanganan disesuaikan kondisi masing-masing naskah.
Dampak banjir terhadap manuskrip di Aceh disebut cukup luas. Ketua Komisariat MANASSA Aceh yang juga Wakil Dekan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry, Hermansyah, menyebut sedikitnya 520 manuskrip yang tersebar di sembilan kabupaten/kota terdampak bencana.
“Hasil riset yang dilakukan BRIN dan tim ini diharapkan dapat dimanfaatkan secara luas dalam penanganan naskah yang terdampak bencana serupa di wilayah lain,” harap Hermansyah.
Peneliti Deputi Kebijakan Pembangunan (DKP) BRIN, AS. Rakhmad Idris, menilai hasil penelitian tersebut perlu diperkuat melalui dukungan kebijakan. Menurutnya, diperlukan dokumen kebijakan yang dapat menjadi acuan bagi pemangku kepentingan dalam melakukan konservasi manuskrip setelah terjadi bencana hidrologi.
Riset tersebut juga mendapat dukungan dari BPK Wilayah Aceh yang berencana melakukan konservasi terhadap sejumlah manuskrip yang terdampak bencana.
Kepala BPK Aceh, Piet Rusdi, mengapresiasi hasil observasi dan rekomendasi praktis yang diberikan tim peneliti. Ia menilai kolaborasi antarlembaga perlu diperkuat untuk menjaga keberadaan manuskrip Aceh.
“Kami menyambut gembira kegiatan riset ini. Ke depannya, tentu perlu dibangun kerja sama yang lebih kuat dalam program-program pelestarian, penelitian, dan pengembangan manuskrip Aceh,” pungkasnya.
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

