BPSDM Aceh dan UIN Ar-Raniry Siapkan Modul Syariat Islam dan Kekhususan Aceh untuk ASN

Share

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Aceh bersama Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh tengah menyusun modul pembelajaran mengenai Syariat Islam, keistimewaan, dan kekhususan Aceh bagi Aparatur Sipil Negara (ASN).

Penyusunan modul tersebut ditujukan untuk meningkatkan pemahaman ASN sekaligus mendorong penerapan nilai-nilai Syariat Islam, keistimewaan, dan kekhususan Aceh dalam penyelenggaraan pemerintahan, pelayanan publik, hingga pembangunan.

Pembahasan modul berlangsung di ruang rapat BPSDM Aceh, Senin (24/8/2026). Kegiatan tersebut dihadiri Kepala BPSDM Aceh Marthunis, ST, DEA yang juga bertindak sebagai Ketua Tim Pengarah, Sekretaris BPSDM Aceh Faisal Reza, S.Sos, MPA, Koordinator Widyaiswara Kamaruddin Andalah, S.Sos, M.Si, serta para kepala bidang dan Widyaiswara.

Marthunis mengatakan, modul yang disusun tidak sekadar menjadi materi pembelajaran, tetapi juga diharapkan menjadi sarana untuk menanamkan nilai-nilai Syariat Islam, keistimewaan, dan kekhususan Aceh dalam pelaksanaan tugas ASN.

“Modul ini akan digunakan untuk memberikan pemahaman sekaligus internalisasi nilai-nilai Syariat Islam dan kekhususan Aceh sebagai daya saing Aceh dalam pembangunan. Selama ini pengetahuan dan pemahaman ASN, terutama CPNS, terhadap keistimewaan dan kekhususan Aceh masih sangat terbatas,” ujar Marthunis.

Menurut Marthunis, pemahaman ASN mengenai kekhususan Aceh harus lebih dari sekadar mengetahui aspek regulasi. Nilai-nilai tersebut perlu menjadi dasar dalam menjalankan tugas pemerintahan, memberikan pelayanan kepada masyarakat, serta menyusun dan menjalankan kebijakan pembangunan.

Sementara itu, Ketua Tim Penulis Modul sekaligus Guru Besar UIN Ar-Raniry, Prof Dr Syahrizal Abbas, MA, menjelaskan bahwa materi dalam modul disusun secara bertingkat dengan mempertimbangkan jabatan dan kebutuhan kompetensi ASN.

Modul tersebut dibagi menjadi tiga jenjang, yakni pemula, menengah, dan lanjut.

Jenjang pemula ditujukan bagi CPNS, staf, serta pejabat fungsional ahli pertama dan ahli muda. Pada tahap ini, materi difokuskan pada pemberian pengetahuan dan pemahaman dasar mengenai Syariat Islam, keistimewaan, serta kekhususan Aceh.

Sementara jenjang menengah diperuntukkan bagi pejabat pengawas, administrator, serta pejabat fungsional ahli madya. Materinya lebih diarahkan pada kemampuan menerapkan nilai-nilai Syariat Islam, keistimewaan, dan kekhususan Aceh dalam pelaksanaan tugas pemerintahan.

Adapun jenjang lanjut ditujukan bagi pejabat pimpinan tinggi pratama, pejabat pimpinan tinggi madya, serta pejabat fungsional ahli utama. Pada tingkat ini, ASN diharapkan memiliki kemampuan dalam mengambil dan merumuskan kebijakan yang berbasis pada Syariat Islam, keistimewaan, dan kekhususan Aceh.

“Dengan pembagian level ini, kita ingin memastikan materi yang diberikan sesuai dengan kebutuhan dan tanggung jawab masing-masing jenjang ASN. Pemula lebih diarahkan pada pengetahuan, menengah pada penerapan nilai-nilai, sedangkan level lanjut pada kemampuan mengambil kebijakan,” kata Syahrizal Abbas.

Syahrizal Abbas menyebut penyusunan modul tersebut memiliki pijakan hukum, terutama Undang-Undang Nomor 44 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa Aceh serta Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh.

Koordinator Widyaiswara Aceh, Kamaruddin Andalah, menilai modul terkait kekhususan dan keistimewaan Aceh semestinya telah disusun sejak regulasi mengenai hal tersebut diterbitkan.

“Seharusnya modul seperti ini sudah dibuat ketika undang-undang tentang kekhususan dan keistimewaan Aceh diterbitkan. Namun, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali,” ujarnya.

Ia berharap modul yang disusun BPSDM Aceh dan UIN Ar-Raniry tersebut nantinya dapat didaftarkan serta memperoleh pengakuan dari Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI. Dengan demikian, modul tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan ajar dalam berbagai program pelatihan ASN di Aceh.

Setelah proses penyusunan selesai, BPSDM Aceh juga berencana menggelar Training of Trainers (ToT) bagi para Widyaiswara. Langkah tersebut dilakukan agar modul dapat segera diterapkan dalam program pengembangan kompetensi ASN.

Tim penyusun modul terdiri dari Prof Dr Syahrizal Abbas, MA sebagai ketua, Dr Syarifah Rahmatillah, MH sebagai sekretaris, serta Prof Dr Ali Abubakar, MA, Prof Dr Analiansyah, MA, dan Dr Zulfatmi, MA sebagai anggota.

Melalui penyusunan modul tersebut, BPSDM Aceh berharap kapasitas ASN semakin kuat, tidak hanya dari sisi profesionalitas dan kompetensi, tetapi juga dalam memahami serta mengimplementasikan nilai-nilai Syariat Islam, keistimewaan, dan kekhususan Aceh dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. (xrq)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

spot_img
spot_img
spot_img

Read more

Local News