NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Dampak perubahan iklim yang kian nyata di Aceh, mulai dari banjir hingga kekeringan yang berujung pada gagal panen, menuntut hadirnya solusi berbasis ilmu pengetahuan. Pendekatan bioteknologi pertanian dinilai menjadi salah satu jalan strategis untuk memperkuat ketahanan pangan di daerah ini.
Pada Jumat (17/4/2026), Nukilan.id mewawancarai Andriy Anta Kacaribu, S.Si., M.T., peneliti sekaligus calon doktor Bioteknologi Pertanian di Universitas Syiah Kuala (USK). Ia menjelaskan bahwa riset di bidang ini sejatinya telah berkembang cukup pesat, terutama pada komoditas utama seperti padi.
“Padi ini direkayasa agar lebih tahan terhadap berbagai cekaman, misalnya kekeringan, kelebihan air, hingga kondisi lingkungan ekstrem lainnya,” katanya.
Menurutnya, upaya tersebut bukan sekadar wacana, melainkan telah menjadi fokus berbagai penelitian untuk menjawab tantangan nyata di sektor pertanian.
“Dalam bioteknologi pertanian, yang biasanya kita lakukan adalah rekayasa genetik, atau sering disebut genetic engineering, pada tanaman. Melalui berbagai metode, gen pada tanaman padi dimodifikasi agar menghasilkan varietas yang lebih tahan terhadap berbagai kondisi tersebut,” ungkap Andriy.
Ia menekankan bahwa proses tersebut melibatkan intervensi ilmiah yang terukur, dengan tujuan menghasilkan varietas unggul yang adaptif terhadap perubahan lingkungan yang semakin tidak menentu.
Namun demikian, Andriy mengingatkan bahwa hasil penelitian tidak serta-merta dapat langsung diterapkan di lapangan. Ada tahapan penting yang harus dilalui untuk memastikan efektivitas dan keamanannya.
“Namun, semua hasil studi itu tidak bisa langsung diterapkan. Harus melalui tahapan uji terlebih dahulu, uji ketahanan terhadap kekeringan, banjir, hingga kondisi seperti masuknya pasir ke lahan sawah akibat banjir,” jelasnya.
Tahapan pengujian ini menjadi krusial untuk memastikan bahwa inovasi yang dihasilkan benar-benar relevan dengan kondisi riil yang dihadapi petani di lapangan, termasuk berbagai skenario ekstrem yang kerap terjadi akibat perubahan iklim.
“Jadi, pendekatannya tetap berbasis riset dan pengujian sebelum benar-benar diaplikasikan di lapangan,” pungkasnya.
Dengan pendekatan berbasis riset tersebut, bioteknologi pertanian diharapkan tidak hanya menjadi solusi jangka pendek, tetapi juga fondasi jangka panjang dalam membangun sistem pertanian yang tangguh dan berkelanjutan di Aceh. (XRQ)
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

