NUKILAN.ID | NAGAN RAYA — Tokoh masyarakat Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, Tgk. Malikul Aziz atau yang akrab disapa Abu Kamil, menegaskan masyarakat tetap menolak rencana aktivitas pertambangan di wilayah tersebut. Menurutnya, hingga saat ini penolakan warga terhadap izin tambang belum berubah.
Abu Kamil yang juga merupakan putra ulama kharismatik almarhum Tgk. Bantaqiah mengatakan, muncul sejumlah informasi yang dinilainya tidak sesuai dengan kondisi di lapangan terkait aksi masyarakat di kantor camat beberapa waktu lalu yang mendukung aksi tambang.
Ia membantah kabar yang menyebut adanya pembagian sembako kepada masyarakat dalam rangkaian aksi dukungan tersebut. Menurutnya, informasi itu tidak benar dan justru berpotensi memicu perpecahan di tengah warga.
“Pada prinsipnya kami tetap menolak tambang itu. Namun ada informasi yang simpang siur terkait aksi di kantor camat. Menurut kami, itu bentuk pembohongan publik,” kata Abu Kamil kepada Nukilan, Sabtu (16/5/2026).
Selain itu, Abu Kamil menyebut aparatur desa di sejumlah wilayah juga mengalami tekanan berkaitan dengan persoalan rekomendasi izin tambang. Ia mengatakan kepala desa dari empat gampong disebut terpaksa menandatangani surat rekomendasi terkait izin tersebut.
“Keuchik dari empat desa itu juga mendapat tekanan sehingga akhirnya menandatangani surat rekomendasi izin tambang,” katanya.
Meski demikian, pihaknya menyatakan masyarakat masih akan melakukan pembahasan bersama untuk menentukan langkah lanjutan terkait penolakan terhadap izin pertambangan di Beutong Ateuh Banggalang.
“Kami akan tetap bermusyawarah dengan warga mengenai langkah atau aksi berikutnya yang akan dilakukan terkait penolakan izin tambang ini,” ujar Abu Kamil.
Sebelumnya, ratusan warga Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, menggelar aksi unjuk rasa disertai zikir dan doa bersama pada Selasa (12/5/2026).
Kegiatan yang berlangsung di kawasan Jembatan Krueng Beutong itu dilakukan sebagai bentuk penolakan terhadap segala bentuk izin maupun aktivitas pertambangan di wilayah setempat.
Aksi tersebut diikuti masyarakat dari berbagai kalangan, tokoh adat, hingga unsur masyarakat sipil yang menyuarakan kekhawatiran terhadap potensi dampak lingkungan dan sosial akibat aktivitas pertambangan.
Selain menyampaikan aspirasi melalui orasi, warga juga menggelar zikir bersama sebagai bentuk doa dan harapan agar kawasan Beutong Ateuh Banggalang tetap terjaga. []
Reporter: Sammy

