11 Agustus Diperingati sebagai Hari Hip-Hop Sedunia, Begini Sejarahnya dari Bronx

Share

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Setiap 11 Agustus, masyarakat dunia memperingati Hari Hip-Hop Sedunia atau World Hip Hop Day. Peringatan ini menjadi momentum untuk mengenang perjalanan hip-hop yang tidak hanya berkembang sebagai genre musik, tetapi juga menjadi bagian dari gerakan sosial dan gaya hidup yang memiliki pengaruh luas.

Berdasarkan hasil penelusuran Nukilan.id, sejarah peringatan tersebut tidak dapat dilepaskan dari sebuah pesta yang berlangsung di kawasan Bronx, New York City, Amerika Serikat, pada 11 Agustus 1973.

Pada hari itu, seorang DJ muda bernama Kool Herc atau Clive Campbell menggelar pesta ulang tahun untuk adiknya, Cindy Campbell. Pesta tersebut berlangsung di ruang rekreasi sebuah gedung apartemen di 1520 Sedgwick Avenue.

Dalam pesta itu, Kool Herc memperkenalkan teknik memainkan musik yang kemudian dianggap berperan penting dalam perkembangan awal budaya hip-hop. Ia menggunakan dua turntable untuk memainkan dua salinan piringan hitam yang sama.

Kool Herc kemudian memanfaatkan bagian tertentu dari lagu yang dikenal sebagai break, yakni bagian dengan ketukan perkusi yang kuat dan sering menjadi bagian favorit para penari. Dengan memindahkan jarum di antara dua piringan hitam, bagian tersebut dapat dimainkan berulang kali sehingga menghasilkan breakbeat yang lebih panjang.

Teknik tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu fondasi dalam budaya hip-hop. Perkembangannya juga menjadi ruang ekspresi bagi anak-anak muda kulit hitam dan Latin di Bronx yang ketika itu menghadapi berbagai persoalan ekonomi dan sosial.

Dari perkembangan tersebut, budaya hip-hop kemudian dikenal melalui empat elemen utama. Pertama, DJing, yaitu seni memilih, meracik, memotong, dan memainkan musik menggunakan turntable.

Kedua, MCing atau rapping, yakni seni menyampaikan kata-kata secara berirama mengikuti ketukan musik. Pada awalnya, MC berperan menghidupkan suasana pesta, sebelum kemudian berkembang menjadi media untuk menceritakan kehidupan dan menyuarakan kritik sosial.

Elemen ketiga adalah breakdance atau B-Boying dan B-Girling. Tarian jalanan ini berkembang seiring dengan penggunaan breakbeat dan dikenal melalui gerakan yang dinamis serta akrobatik.

Sementara itu, elemen keempat adalah graffiti art. Seni grafiti berkembang di ruang-ruang publik dan menjadi salah satu bentuk ekspresi visual sekaligus sarana membangun identitas komunitas.

Dari lingkungan Bronx, hip-hop kemudian menyebar dan mengalami perkembangan pesat. Memasuki akhir 1970-an hingga 1980-an, budaya tersebut mulai masuk ke industri musik arus utama. Salah satu tonggaknya adalah keberhasilan lagu “Rapper’s Delight” yang dibawakan The Sugarhill Gang.

Perkembangan tersebut membuat hip-hop tidak lagi terbatas pada komunitas tempat budaya itu lahir. Musik, tarian, grafiti, dan gaya hidup yang berkaitan dengan hip-hop kemudian menyebar ke berbagai negara, termasuk Indonesia.

Di Indonesia, perkembangan hip-hop melahirkan berbagai komunitas rap, breakdance, dan grafiti yang menggabungkan unsur budaya global dengan identitas lokal. Karena itu, peringatan Hari Hip-Hop Sedunia setiap 11 Agustus tidak hanya menjadi pengingat terhadap sejarah kelahirannya, tetapi juga perayaan atas kreativitas dan daya tahan komunitas yang dahulu berada di pinggiran masyarakat hingga akhirnya mampu memberi pengaruh besar terhadap budaya dunia. (XRQ)

spot_img

Read more

Local News