NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Komunitas Peduli Etnik Aceh (KPEA) menggelar pameran berbagai wastra serta perlengkapan adat Aceh dalam kegiatan “Dedikasi Volume 1” yang berlangsung di Museum Tsunami Aceh, Banda Aceh, pada 29–31 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut menjadi upaya KPEA untuk memperkenalkan kembali kekayaan budaya Aceh kepada masyarakat, khususnya kalangan anak muda. Pameran ini sekaligus menjadi bagian dari usaha menjaga keberadaan sejumlah wastra dan perlengkapan tradisional yang mulai jarang ditemukan dalam kehidupan masyarakat.
Ketua KPEA Nelisma Amin mengatakan komunitas yang dipimpinnya dibentuk sebagai bagian dari gerakan bersama untuk mempertahankan sekaligus mengembangkan kebudayaan Aceh.
“Tujuan KPEA ini kami bentuk dengan keinginan untuk menjadi bagian dalam gerakan bersama untuk menjaga, melestarikan, dan mengembangkan budaya Aceh, terkhusus untuk generasi muda,” kata Nelisma kepada Nukilan.id di Banda Aceh, Sabtu (29/8/2026).
Berbagai wastra yang dipamerkan memiliki hubungan erat dengan tradisi serta prosesi pernikahan adat Aceh. Koleksi tersebut memperlihatkan beragam perlengkapan yang dahulu menjadi bagian penting dalam pelaksanaan upacara adat.
Di antara koleksi yang ditampilkan yakni lapisan tempat tidur, kain tiang Aceh, ikat kelambu, tiang merah, sarung bantal, kain pelapis dinding atau pelaminan, serta dekorasi untuk bagian langit-langit.
Pameran juga menampilkan alas duduk yang digunakan dalam prosesi peusijuk, kain kepala, dan sejumlah perlengkapan tradisional lainnya.
Nelisma menyebut perubahan zaman membuat sejumlah perlengkapan adat semakin jarang digunakan sehingga keberadaannya pun mulai kurang dikenal oleh generasi muda.
“Dengan pameran ini kita mengedukasi lagi pihak terkait, masyarakat untuk mari sama-sama kita melestarikan wastra-wastra yang hilang. Caranya tentunya dengan memberikan masukan kepada anak muda yang sudah lupa dengan budaya,” ujarnya.
Museum Tsunami Aceh dipilih sebagai lokasi kegiatan karena merupakan salah satu tempat yang banyak didatangi masyarakat lokal maupun wisatawan dari berbagai daerah. Selain jumlah pengunjung yang cukup tinggi, museum tersebut juga memiliki nilai sejarah yang kuat.
Dengan menempatkan pameran di ruang publik, KPEA berharap pengetahuan mengenai wastra dan tradisi Aceh dapat diketahui oleh lebih banyak orang.
Nelisma juga mendorong keterlibatan berbagai pihak dalam upaya mempertahankan dan mengembangkan wastra Aceh. Menurutnya, pelestarian budaya membutuhkan kolaborasi antara komunitas, pemerintah, badan usaha, pelaku kebudayaan, dan masyarakat.
“Harapan kami semua dinas terkait, BUMN, pelatih budaya, masyarakat, peduli, dan bersinergi juga dengan KPEA dalam hal misalnya mengembangkan wastra ini untuk anak muda,” katanya.
Salah seorang pengunjung, Laisya Gebrina Amelia, menyambut baik keberadaan pameran tersebut. Ia mengaku senang bisa melihat langsung berbagai wastra dan perlengkapan adat yang saat ini semakin sulit ditemui.
Menurut Laisya, penggunaan sejumlah perlengkapan tradisional dalam prosesi pernikahan juga mulai berkurang karena masyarakat semakin banyak memilih konsep pernikahan modern.
“Biasanya kan ini di PKA (Pekan Kebudayaan Aceh). Kalau untuk melihat seperti ini saya senang karena suka melihat adat dan etnik. Biasanya jarang kita melihat, di acara pernikahan juga sudah banyak yang modern,” katanya.
Salah satu koleksi yang menarik perhatiannya adalah kasa emas. Laisya tertarik melihat proses pembuatan serta teknik jahit yang digunakan pada benda tersebut.
Ia menilai pameran seperti yang digelar KPEA dapat menjadi sarana pembelajaran bagi anak muda Aceh untuk mengenal kembali berbagai unsur dalam tradisi pernikahan adat, termasuk pakaian, songket, dan perlengkapan upacara.
“Menurut saya acara seperti KPEA ini penting banget, karena edukasi dapat, pelajaran dapat. Jadi buat anak muda Aceh itu bisa tahu dulu bagaimana acara nikah dan yang dipakai apa saja, baju, songket adatnya apa,” ujarnya.
Selain pameran, “Dedikasi Volume 1” juga diisi dengan seminar bertajuk “Upacara Pernikahan Adat Aceh dalam Dinamika Zaman”.
KPEA turut menjadwalkan pertunjukan langsung bertajuk “Pesona Perangkat Pernikahan Adat Aceh” pada 30 Agustus 2026 di Museum Tsunami Aceh.
Melalui seluruh rangkaian kegiatan tersebut, KPEA ingin agar wastra Aceh tidak sekadar dipandang sebagai benda peninggalan tradisional. Masyarakat diharapkan dapat memahami fungsi, nilai, serta sejarah yang melekat pada setiap perlengkapan adat.
Keterlibatan generasi muda menjadi bagian penting dalam upaya tersebut agar pengetahuan mengenai budaya dan tradisi Aceh tetap dapat diwariskan kepada generasi berikutnya di tengah perkembangan zaman. (xrq)
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News




