Buku Yusri Kasim Ungkap Bagaimana Aceh Bangun Kembali Ketahanan Sosial Usai Konflik

Share

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Konflik bersenjata yang berlangsung panjang di Aceh tidak hanya meninggalkan persoalan keamanan. Konflik juga sempat menggerus ketahanan sosial masyarakat, termasuk tradisi gotong royong dan hubungan antarmasyarakat.

Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam buku Aceh dan Ujian Ketahanan Sosial: Pelajaran dari Daerah Bekas Konflik karya Yusri Kasim yang dirilis di Banda Aceh pada Selasa (25/8/2026).

Yusri mengatakan konflik membuat masyarakat hidup dalam ketakutan sekaligus menghadapi keterbatasan ekonomi. Kondisi tersebut turut memengaruhi tradisi sosial yang sebelumnya menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Aceh.

Ia mencontohkan tradisi gotong royong saat masyarakat menggelar kenduri atau pesta perkawinan.

Sebelum konflik, masyarakat terbiasa datang membantu tetangga yang menggelar kenduri. Namun, tradisi tersebut ikut berubah ketika konflik membuat masyarakat takut untuk berkumpul dan kondisi ekonomi memburuk.

“Pada zaman konflik, mana ada pesta perkawinan secara meriah. Orang semua hidup dalam ketakutan, uang tidak ada, jadi orang nikah cukup di KUA,” kata Yusri dalam keterangannya kepada Nukilan.

Menurutnya, situasi tersebut perlahan berubah setelah perdamaian. Masyarakat mulai kembali menjalankan adat, membangun hubungan sosial dan menunjukkan semangat gotong royong.

Yusri melihat pemulihan tersebut sebagai bagian dari ketahanan sosial masyarakat Aceh. Kehidupan adat dan budaya kembali berjalan, kehidupan beragama membaik, sementara aktivitas ekonomi juga mulai tumbuh.

“Namun hari ini Aceh Utara mampu berbenah. Adat istiadat, kehidupan sosial kembali normal, kembali utuh. Orang-orang kembali melaksanakan adat budaya, kehidupan beragama membaik, ekonomi perlahan tumbuh, walaupun belum sempurna,” ujarnya.

Konflik dan Bencana Sama-sama Merusak Tatanan Sosial

Dalam bukunya, Yusri juga membandingkan dampak konflik dengan bencana terhadap kehidupan sosial masyarakat.

Menurut dia, baik konflik maupun bencana dapat mengubah struktur kehidupan masyarakat secara drastis. Kondisi tersebut membuat posisi sosial dan ekonomi masyarakat dapat berubah dalam waktu singkat.

“Konflik, bencana itu merusak proporsi. Orang yang kehidupan strata sosialnya tinggi bisa menjadi rendah, yang rendah bisa tinggi. Merusak semua proporsi,” terangnya.

Namun, Yusri melihat masyarakat memiliki kemampuan untuk membangun kembali kehidupan sosial setelah mengalami krisis.

Ia mencontohkan solidaritas masyarakat ketika bencana banjir terjadi. Menurutnya, semangat saling membantu yang kembali terlihat dalam situasi tersebut menunjukkan bahwa modal sosial masyarakat Aceh masih kuat.

Hal itu juga menjadi bagian penting dari pembelajaran yang ditawarkan buku tersebut, yakni bagaimana masyarakat di daerah bekas konflik dapat membangun kembali kepercayaan, hubungan sosial dan kehidupan bersama.

Aceh Jadi Pembelajaran Merawat Perdamaian

Yusri menilai pengalaman Aceh dalam mempertahankan perdamaian selama 21 tahun memiliki nilai penting untuk dipelajari. Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak cukup hanya dilihat dari tercapainya kesepakatan damai, tetapi juga dari kemampuan masyarakat menjaga kondisi tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Ia mengatakan momentum peringatan Hari Damai Aceh setiap 15 Agustus seharusnya menjadi kesempatan untuk melihat perjalanan panjang masyarakat dalam merawat perdamaian.

“Jadi kita jangan hanya lihat yang pada 15 Agustus yang lalu saja. Dua puluh tahun yang lalu kan itu berhasil merawat. Jadi kita jangan fokus hanya pada satu tahun itu saja,” ujarnya.

Yusri mencontohkan pelaksanaan zikir akbar di hampir seluruh kabupaten/kota di Aceh dalam rangka memperingati 21 tahun perdamaian. Menurutnya, kegiatan tersebut menunjukkan bahwa perdamaian telah menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat.

“Di 22 kabupaten/kota semuanya berhasil. Itu yang perlu kita pelajari dan itu yang perlu kita ceritakan,” katanya.

Melalui buku tersebut, Yusri ingin menggeser cara pandang terhadap Aceh. Menurutnya, Aceh tidak hanya perlu dilihat sebagai daerah bekas konflik, tetapi juga sebagai daerah yang memiliki pengalaman dalam membangun kembali ketahanan sosial dan mempertahankan perdamaian.

“Bagi saya, Aceh ini adalah lab-nya dunia untuk mempelajari bagaimana merawat damai,” pungkas Yusri.

Reporter: Rezi

spot_img
spot_img
spot_img

Read more

Local News