Yusri Kasim Rilis Buku “Aceh dan Ujian Ketahanan Sosial”, Rekam 21 Tahun Merawat Damai

Share

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Sekretaris Umum Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas (IKAL) Aceh sekaligus penulis  Dr. Yusri Kasim, SE, M.Si, meluncurkan buku berjudul Aceh dan Ujian Ketahanan Sosial: Pelajaran dari Daerah Bekas Konflik. Buku ini mengangkat perjalanan masyarakat Aceh dalam mempertahankan perdamaian selama 21 tahun setelah konflik bersenjata berakhir.

Yusri mengatakan buku itu lahir dari rasa ingin tahunya terhadap kemampuan masyarakat Aceh dalam memulihkan kehidupan sosial setelah melewati konflik berkepanjangan.

“Bagaimana sebenarnya masyarakat Aceh sampai dengan 21 tahun ini mampu merawat perdamaian,” kata Yusri kepada Nukilan usai acara launching di Banda Aceh, pada Selasa (25/8/2026).

Menurut Yusri, konflik yang berlangsung di Aceh tidak hanya berdampak terhadap keamanan, tetapi juga memengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat, termasuk sosial, ekonomi, adat, budaya, agama hingga hubungan antarmasyarakat.

Ia kemudian memilih Aceh Utara sebagai salah satu wilayah yang menjadi fokus kajian dalam buku tersebut. Menurutnya, Aceh Utara memiliki sejarah konflik yang cukup berat, namun masyarakat di wilayah itu mampu berangsur-angsur memulihkan kehidupan sosial setelah perdamaian tercapai.

“Buku dengan judul Aceh dan Ujian Ketahanan Sosial: Pelajaran dari Daerah Bekas Konflik itu menggambarkan bagaimana konflik memporak-porandakan kehidupan masyarakat,” ujarnya.

Lebih lanjut, kata dia, buku tersebut tidak hanya melihat Aceh dari sisi sejarah konflik, tetapi juga mencoba menggambarkan proses masyarakat membangun kembali kehidupan setelah konflik berakhir.

Ia berharap pengalaman Aceh selama 21 tahun mempertahankan perdamaian dapat menjadi pembelajaran bagi daerah lain yang pernah mengalami konflik, bahkan bagi masyarakat internasional.

“Bagi saya, Aceh ini adalah lab-nya dunia untuk mempelajari bagaimana merawat damai,” katanya.

Menurutnya, perjalanan perdamaian Aceh tidak semestinya hanya dilihat dari momentum peringatan Hari Damai Aceh setiap 15 Agustus. Hal yang lebih penting adalah melihat bagaimana perdamaian tersebut mampu dipertahankan dan dirawat oleh masyarakat selama lebih dari dua dekade.

“Jadi kita jangan hanya lihat yang pada 15 Agustus yang lalu saja. Dua puluh tahun yang lalu kan itu berhasil merawat. Jadi kita jangan fokus hanya pada satu tahun itu saja,” ujarnya.

Berangkat dari Disertasi

Yusri juga menjelaskan buku tersebut merupakan pengembangan dari riset akademiknya mengenai Aceh Utara. Penelitian awalnya mengkaji peraturan bupati terkait upaya pengentasan kemiskinan.

Dalam proses penelitian tersebut, ia menemukan berbagai aspek kehidupan masyarakat yang berkaitan dengan pendidikan, kesehatan, sosial, adat hingga agama.

Hasil penelitian itu kemudian dikembangkan menjadi sebuah buku setelah melalui proses pengujian akademik oleh para guru besar di Malang.

“Disertasi kita rubah menjadi sebuah buku dari hasil kajian yang sudah diuji secara akademik oleh para guru besar di Malang,” ujarnya.

Yusri menuturkan proses penulisan buku berlangsung sekitar tiga bulan. Waktu tersebut relatif singkat karena sebagian besar bahan telah tersedia dalam riset disertasinya.

“Karena bahan dasarnya sudah dari disertasi, saya hanya ingin mengubah itu menjadi kalimat-kalimat buku,” katanya.

Buku tersebut diterbitkan oleh Lembaga Riset Siber Indonesia (CISSReC) dan telah memiliki ISBN serta ESBN. Selain versi cetak, buku itu juga telah tersedia dalam format elektronik atau e-book.

Reporter: Rezi

spot_img
spot_img
spot_img

Read more

Local News