Cuaca Ekstrem di Aceh, Masyarakat Diminta Terapkan Delapan Langkah Pencegahan

Share

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Cuaca panas ekstrem yang melanda sejumlah wilayah di Aceh dalam beberapa waktu terakhir berpotensi memicu berbagai gangguan kesehatan. Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan dengan menerapkan pola hidup sehat guna mencegah dehidrasi hingga heatstroke.

Penelaah Kebijakan pada UPTD Balai Pelatihan Kesehatan Dinas Kesehatan Aceh, Sri Mulyati Mukhtar, SKM., MKM, menjelaskan bahwa peningkatan suhu udara membuat tubuh bekerja lebih keras untuk mempertahankan suhu normal melalui produksi keringat. Akibatnya, tubuh kehilangan lebih banyak cairan sehingga kebutuhan asupan air juga meningkat.

Paparan cuaca panas yang berkepanjangan dapat menyebabkan berbagai keluhan kesehatan, seperti dehidrasi, sakit kepala, kram otot, tekanan darah menurun, gangguan penglihatan, iritasi kulit, hingga pingsan. Dalam kondisi yang lebih serius, seseorang dapat mengalami heatstroke, yaitu kondisi ketika suhu tubuh mencapai 40 derajat Celsius atau lebih yang dapat mengancam keselamatan jiwa.

Sri Mulyati menjelaskan bahwa gejala heatstroke antara lain pusing, mual, denyut nadi meningkat, kulit terasa sangat panas dan kering, hingga kehilangan kesadaran. Jika menemukan orang dengan kondisi tersebut, masyarakat dianjurkan segera memindahkannya ke tempat yang teduh, mendinginkan tubuh korban, memberikan air minum apabila masih sadar, serta segera menghubungi tenaga kesehatan.

Selain risiko heatstroke, cuaca ekstrem juga dapat meningkatkan potensi munculnya sejumlah penyakit, seperti infeksi saluran pernapasan, demam, batuk, pilek, diare, demam berdarah, malaria, tuberkulosis, hingga malnutrisi. Untuk menjaga daya tahan tubuh, masyarakat disarankan mengonsumsi makanan bergizi seimbang, termasuk buah-buahan yang kaya kandungan air seperti semangka, jeruk, pepaya, dan pir.

Ia juga membagikan delapan langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat selama cuaca panas, yaitu memperbanyak konsumsi air putih sekitar dua hingga tiga liter per hari, menghindari minuman berkafein dan bersoda, membatasi konsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak, berolahraga pada pagi atau sore hari, tidur selama tujuh hingga delapan jam, menghindari paparan sinar matahari langsung, mengelola stres, menggunakan masker ketika kualitas udara memburuk, serta segera mendinginkan tubuh apabila mulai merasakan gejala kepanasan.

Selain itu, masyarakat dianjurkan mengenakan pakaian berbahan ringan seperti katun, memakai topi atau payung saat beraktivitas di luar ruangan, serta mengurangi aktivitas di bawah terik matahari, khususnya pada pukul 11.00 hingga 15.00 WIB.

“Cuaca ekstrem bukan hanya soal rasa gerah, tetapi juga ancaman serius bagi kesehatan. Dengan menjaga hidrasi, mengonsumsi makanan bergizi, berolahraga, beristirahat cukup, dan melindungi diri dari paparan panas, masyarakat dapat tetap sehat meski suhu udara meningkat,” ujar Sri Mulyati.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Read more

Local News