Mahasiswa KKN USK Edukasi Warga Desa Mesjid Lancok Olah Belimbing Wuluh Jadi Sabun Cuci Piring

Share

NUKILAN.ID | MEUREUDU – Kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Periode 111 (R-XXIX-111) Universitas Syiah Kuala (USK) menggelar pelatihan pemanfaatan belimbing wuluh menjadi sabun cuci piring ramah lingkungan di Meunasah Desa Mesjid Lancok, Pidie Jaya, Rabu (22/7/2026).

Kegiatan yang dimulai pukul 15.00 WIB tersebut bertujuan mengenalkan pemanfaatan baru belimbing wuluh yang selama ini lebih dikenal sebagai bahan pembuatan asam sunti maupun bumbu masakan. Melalui pelatihan ini, mahasiswa KKN mendorong masyarakat agar mampu mengolah potensi lokal menjadi produk rumah tangga yang bernilai guna, ekonomis, dan ramah lingkungan.

Program tersebut diinisiasi oleh Novi Cristina Oktaviani, mahasiswa Program Studi Pendidikan Kesejahteraan Keluarga USK. Menurutnya, kandungan asam alami dan sifat antibakteri pada belimbing wuluh menjadikannya bahan yang berpotensi dimanfaatkan sebagai sabun cuci piring.

“Selama ini belimbing wuluh di Desa Mesjid Lancok sangat melimpah, tapi pemanfaatannya masih terbatas pada olahan dapur seperti asam sunti. Padahal kandungan alami di dalamnya punya sifat antibakteri dan tingkat keasaman yang bagus banget buat mengangkat lemak. Makanya kami tergerak untuk memanfaatkan potensi lokal ini menjadi sabun cuci piring yang pastinya lebih berguna dan ramah lingkungan untuk kebutuhan sehari-hari warga,” ujar Novi.

Pelatihan diikuti sekitar 25 peserta yang terdiri atas anak-anak, remaja, hingga mahasiswa setempat. Peserta tidak hanya mendapatkan materi, tetapi juga mempraktikkan secara langsung proses pembuatan sabun cuci piring, mulai dari mengolah ekstrak belimbing wuluh hingga menghasilkan produk yang siap digunakan. Pada akhir kegiatan, setiap peserta membawa pulang sampel sabun cuci piring hasil praktik bersama sebagai bekal untuk dipraktikkan secara mandiri di rumah.

Sabun cuci piring berbahan dasar belimbing wuluh memiliki sejumlah keunggulan, di antaranya biaya produksi yang relatif hemat, aman digunakan pada tangan, serta efektif menghilangkan minyak dan bau amis pada peralatan dapur.

Salah seorang peserta, Nafisa, mengaku mendapatkan pengalaman baru melalui pelatihan tersebut. Ia menilai inovasi yang diperkenalkan mahasiswa KKN memiliki manfaat yang dapat langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Jujur ini ide yang unik dan bermanfaat banget buat kami. Biasanya belimbing wuluh di pekarangan cuma dibiarkan jatuh atau cuma dibuat asam sunti. Ternyata setelah ikut praktik langsung hari ini, cara bikin sabunnya lumayan simpel dan hasilnya ampuh banget buat hilangin bau amis. Jadi dapet ilmu baru yang benar-benar bisa kita terapkan sendiri di rumah,” ungkap Nafisa.

Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Kelompok KKN R-XXIX-111 Universitas Syiah Kuala, Mukhrijal, M.I.P., mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk pengabdian mahasiswa yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan potensi lokal.

“KKN bukan hanya tentang menjalankan program kerja, tetapi bagaimana mahasiswa mampu menghadirkan solusi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Belimbing wuluh yang selama ini banyak dijumpai di lingkungan desa memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk yang bermanfaat, bernilai ekonomi, dan ramah lingkungan. Kami berharap pengetahuan yang telah dibagikan dapat terus diterapkan dan dikembangkan oleh masyarakat setelah program KKN berakhir,” ujar Mukhrijal.

Ia berharap inovasi sederhana seperti ini dapat menginspirasi masyarakat untuk terus mengembangkan potensi sumber daya lokal menjadi produk yang memiliki nilai tambah sekaligus mendukung terciptanya lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Melalui kegiatan ini, Kelompok KKN R-XXIX-111 Universitas Syiah Kuala berharap masyarakat, khususnya generasi muda di Desa Mesjid Lancok, semakin terdorong memanfaatkan sumber daya alam di sekitar secara kreatif, bernilai ekonomi, dan berkelanjutan.

Kelompok KKN R-XXIX-111 terdiri atas tujuh mahasiswa lintas disiplin ilmu, yakni Agus Aulia (Ilmu Hukum), Razian Sabri (Informatika), Alfi Rahmaini (Pendidikan Sejarah), Chila Zara Janiesa (Ilmu Komunikasi), Rizka Salasih (Manajemen), Novi Cristina Oktaviani (Pendidikan Kesejahteraan Keluarga), dan Tiara Ramadhany Putri (Ilmu Keperawatan). Melalui program pengabdian ini, seluruh anggota tim berkomitmen untuk terus berkolaborasi bersama masyarakat dalam mengembangkan potensi desa melalui berbagai inovasi yang bermanfaat. (XRQ)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Read more

Local News