NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Pengamat sosial dan politik Risman A. Rachman menilai partai politik perlu kembali menempatkan kaderisasi, loyalitas, dan rekam jejak pengabdian sebagai dasar utama dalam menentukan figur yang akan menduduki jabatan strategis maupun diusung sebagai kepala daerah.
Menurutnya, demokrasi akan kehilangan substansi apabila proses politik lebih ditentukan oleh kekuatan modal, jabatan, atau kedekatan dengan elite, sementara kader yang telah lama mengabdi justru terpinggirkan.
Pandangan tersebut disampaikan Risman melalui akun Facebook pribadinya pada Sabtu (18/7/2026). Dalam unggahannya, ia mengutip pandangan akademisi Ferry Daud Liando yang dimuat Kompas pada 2025 dalam artikel Kaderisasi Parpol yang Lemah Hambat Konsolidasi Demokrasi.
“Kadang yang dicalonkan belum pernah berproses di partai politik, hanya modal kartu tanda anggota dadakan bisa maju menjadi calon kepala daerah,” tulis Risman mengutip Ferry Daud Liando.
Risman menegaskan bahwa kaderisasi bukan sekadar urusan administratif di internal partai. Menurutnya, kaderisasi merupakan fondasi untuk membentuk pemimpin yang memahami ideologi, sejarah perjuangan, aturan organisasi, serta tanggung jawab politik kepada masyarakat.
Ia menilai tanpa proses tersebut, partai politik berpotensi hanya menjadi kendaraan elektoral yang digunakan menjelang pemilu maupun pemilihan kepala daerah.
“Kartu tanda anggota seharusnya bukan sekadar tiket untuk memperoleh pencalonan. Keanggotaan partai harus disertai proses pembelajaran, pengabdian, ujian loyalitas, serta pemahaman terhadap nilai-nilai perjuangan organisasi,” ujarnya.
Risman juga menilai standar demokrasi yang dibangun di Aceh seharusnya lebih tinggi daripada sekadar demokrasi prosedural yang berorientasi pada perebutan kekuasaan.
Ia mengingat kembali semangat perdamaian Aceh melalui salah satu judul Majalah Acehkita, Habis Perang Terbitlah Damai. Menurutnya, setelah perdamaian berhasil diwujudkan, Aceh perlu memperkuat kualitas demokrasinya.
“Saat ini mestinya, ‘dengan damai kuatlah demokrasi’. Untuk diketahui, standar demokrasi Aceh itu diletakkan lebih tinggi dari standar demokrasi Indonesia. Demokrasi yang hendak dibangun di Aceh adalah demokrasi sejati,” katanya.
Risman menjelaskan bahwa demokrasi sejati tidak boleh tunduk pada kekerasan, tekanan kekuasaan, maupun dominasi modal. Demokrasi juga harus menjadi sarana menghadirkan keadilan, termasuk di dalam kehidupan partai politik.
“Demokrasi sejati adalah demokrasi yang tidak berlutut di hadapan kekerasan dan menjadi alat untuk mengakhiri ketidakadilan,” tulisnya.
Ia kemudian mempertanyakan keadilan apabila seseorang yang belum mengikuti pendidikan politik maupun proses kaderisasi justru langsung dipercaya memimpin organisasi hanya karena memiliki jabatan atau kemampuan finansial.
“Pertanyaan sederhana saja, apakah adil orang luar yang belum mengalami ujian kepartaian, belum mengikuti pendidikan dan kaderisasi, langsung diserahkan tugas memimpin hanya karena dia punya jabatan dan punya uang?” ujarnya.
Menurut Risman, kondisi tersebut dapat memicu kekecewaan di kalangan kader yang telah lama membangun partai dari tingkat bawah. Dalam jangka panjang, praktik semacam itu dinilai dapat melemahkan militansi, loyalitas, serta kepercayaan kader terhadap mekanisme organisasi.
Ia menambahkan bahwa kader dapat kehilangan keyakinan apabila pengabdian, pendidikan politik, prestasi, dan konsistensi menjaga organisasi tidak lagi menjadi pertimbangan dalam penentuan jabatan.
“Ketika kaderisasi tidak dihargai, partai sedang mengirim pesan buruk kepada kadernya sendiri. Mereka bisa kehilangan keyakinan bahwa kerja keras dan loyalitas merupakan jalan untuk memperoleh kepercayaan organisasi,” katanya.
Lebih lanjut, Risman menilai partai politik yang sehat seharusnya tidak hanya mempertimbangkan popularitas dan kemampuan finansial seseorang. Kompetensi, integritas, penerimaan akar rumput, pemahaman ideologi, serta perjalanan panjang bersama partai juga harus menjadi indikator penting.
Ia juga menyinggung Partai Demokrat yang menurutnya memiliki hubungan historis dengan perdamaian Aceh melalui peran Presiden keenam RI sekaligus pendiri partai tersebut, Susilo Bambang Yudhoyono.
Berdasarkan sejarah tersebut, Risman berharap Partai Demokrat dapat menjadi contoh dalam menjaga nilai-nilai demokrasi, menghormati proses kaderisasi, dan menghindari kesan bahwa kepemimpinan partai hanya ditentukan oleh kekuasaan maupun modal.
“Bagi partai-partai lain mungkin bisa dimaklumi. Namun, bagi Partai Demokrat, yang SBY memiliki andil dalam mewujudkan perdamaian, hal seperti itu tidak elok,” tegasnya.
Menurut Risman, perdamaian Aceh tidak cukup dipertahankan hanya dengan tidak adanya konflik bersenjata. Perdamaian juga harus diwujudkan melalui penguatan institusi demokrasi, penghormatan terhadap aturan organisasi, regenerasi kepemimpinan, serta kompetisi politik yang adil.
Ia menilai partai politik memiliki tanggung jawab besar sebagai tempat lahirnya calon pemimpin pemerintahan dan wakil rakyat. Karena itu, proses internal partai juga harus berjalan secara demokratis agar mampu melahirkan pemerintahan yang demokratis dan berkeadilan.
“Demokrasi tidak hanya diuji ketika rakyat memberikan suara di tempat pemungutan suara. Demokrasi juga diuji dari cara partai memilih pemimpinnya, menghormati kadernya, dan menjalankan aturan organisasinya,” katanya.
Risman berharap setiap keputusan politik diambil melalui mekanisme yang transparan, partisipatif, serta memperhatikan aspirasi kader di seluruh tingkatan sehingga kepemimpinan yang lahir memperoleh legitimasi dari elite maupun kepercayaan akar rumput.
Ia menegaskan bahwa uang dan jabatan mungkin dapat membuka jalan menuju politik, tetapi tidak dapat menggantikan pengalaman, pengabdian, dan legitimasi yang dibangun melalui proses panjang bersama kader serta masyarakat.
“Partai yang kuat bukan partai yang bergantung pada satu figur bermodal besar. Partai yang kuat adalah partai yang memiliki sistem kaderisasi, tradisi demokrasi, dan keberanian untuk menjaga marwah organisasinya,” pungkas Risman. (xrq)
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News









