BI: Ekonomi Aceh Diproyeksi Tumbuh Hingga 5,16 Persen pada 2026

Share

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Aceh memproyeksikan perekonomian Aceh pada 2026 tumbuh lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Dalam Laporan Perekonomian Provinsi Aceh Mei 2026, BI memperkirakan ekonomi Aceh akan tumbuh pada kisaran 4,66-5,16 persen secara tahunan (year on year/yoy), meningkat dari realisasi pertumbuhan 2025 yang sebesar 2,97 persen.

Temuan tersebut tertuang dalam Laporan Perekonomian Provinsi Aceh Mei 2026 yang diterbitkan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh, sebagai gambaran perkembangan ekonomi daerah sekaligus proyeksi perekonomian Aceh sepanjang 2026.

Dikutip Nukilan dari laporan tersebut, Bank Indonesia menyebut percepatan pertumbuhan tersebut didorong oleh mulai efektifnya pembangunan dan rekonstruksi pascabencana hidrometeorologi, normalisasi aktivitas ekonomi, serta membaiknya daya beli masyarakat.

Pada triwulan I 2026, ekonomi Aceh telah menunjukkan pemulihan dengan tumbuh 4,09 persen (yoy) setelah pada triwulan IV 2025 mengalami kontraksi 1,61 persen (yoy).

Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ditopang oleh meningkatnya kinerja sektor konstruksi, perdagangan besar dan eceran, serta administrasi pemerintahan. Sementara dari sisi pengeluaran, pertumbuhan didorong oleh peningkatan konsumsi pemerintah, pembentukan modal tetap bruto (PMTB), dan perbaikan konsumsi rumah tangga.

Di sisi harga, BI mencatat inflasi Aceh mulai melandai. Pada triwulan I 2026, inflasi tercatat 5,34 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 6,71 persen (yoy).

Menurut BI, penurunan tekanan inflasi dipengaruhi oleh membaiknya distribusi barang setelah bencana hidrometeorologi, meski permintaan masyarakat meningkat selama Ramadan dan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri 1447 Hijriah.

Laporan tersebut juga menunjukkan stabilitas sistem keuangan Aceh tetap terjaga. Pertumbuhan pembiayaan masih positif dengan kualitas pembiayaan yang baik, tercermin dari rasio pembiayaan bermasalah atau Non-Performing Financing (NPF) yang tetap rendah.

Sementara itu, pembiayaan kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terus meningkat dengan rasio mencapai 25,33 persen. Dana Pihak Ketiga (DPK) juga tumbuh 11,48 persen (yoy) pada periode yang sama.

Pada sektor sistem pembayaran, BI mencatat layanan pembayaran tunai maupun nontunai berjalan lancar. Penggunaan instrumen pembayaran digital, termasuk Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK) dan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS), terus menunjukkan tren peningkatan sepanjang triwulan pertama 2026.

Di bidang ketenagakerjaan, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Februari 2026 meningkat sebagai dampak bencana hidrometeorologi yang terjadi pada akhir 2025. Meski demikian, BI menilai kualitas pasar kerja menunjukkan perbaikan, ditandai dengan meningkatnya proporsi pekerja formal serta menurunnya jumlah pekerja setengah menganggur dan pekerja paruh waktu.

Ke depan, BI memperkirakan inflasi Aceh sepanjang 2026 tetap terkendali dan berada dalam kisaran sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1 persen (yoy). Optimisme tersebut didukung implementasi strategi pengendalian inflasi melalui empat langkah utama, yakni menjaga ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif. []

Reporter: Sammy

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Read more

Local News