Koreografer asal Aceh Ungkap Tantangan Ajarkan Ratoh Duek kepada Anak-anak Australia

Share

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Koreografer asal Aceh yang menetap di Australia, Murtala, mengungkapkan mengajarkan Ratoh Duek kepada anak-anak Australia memerlukan proses yang jauh lebih panjang dibandingkan mengajar peserta dari Indonesia. Sebelum mempelajari gerakan tari, para peserta terlebih dahulu diperkenalkan dengan sejarah, budaya, hingga kondisi geografis Aceh.

Murtala mengatakan sebagian besar peserta Gondwana Choirs sama sekali belum mengenal Aceh sehingga proses pembelajaran selalu diawali dengan pengenalan budaya.

“Kalau kita bilang tarian ini dari Aceh, mereka belum tahu Aceh itu apa. Jadi kami harus membangun imajinasi mereka lebih dulu tentang Aceh, letaknya, masyarakatnya, budayanya, jumlah suku, bahasa, sampai jenis-jenis tari duduk yang berkembang di sana,” ujarnya kepada Nukilan, Minggu (12/7/2026).

Setelah memahami latar belakang budaya, barulah peserta diperkenalkan dengan gerakan-gerakan dasar Ratoh Duek melalui demonstrasi sebelum mulai berlatih bersama. Menurut Murtala, tantangan berikutnya adalah membiasakan peserta melakukan posisi duduk khas tari Aceh yang cukup berat bagi mereka.

“Yang paling sulit membiasakan anak-anak duduk seperti posisi tari Aceh. Karena itu kami sering melatih gerakan tangan sambil berdiri atau duduk di kursi terlebih dahulu agar mereka tidak langsung merasa sakit pada lutut,” katanya.

Selain gerakan, pengucapan syair berbahasa Aceh juga menjadi tantangan tersendiri karena sebagian besar peserta tidak pernah mempelajari bahasa Indonesia maupun bahasa Aceh. Meski demikian, Murtala mengaku semangat belajar para peserta menjadi modal utama dalam proses latihan.

“Anak-anak ini punya keinginan belajar yang luar biasa. Saat waktu istirahat pun mereka tetap berlatih sendiri untuk menghafal gerakan. Itu yang membuat saya semakin bersemangat mengajar,” tuturnya.

Ia menambahkan, setiap syair lagu selalu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris agar peserta memahami makna yang mereka nyanyikan, termasuk lagu-lagu bernuansa religius maupun lagu yang menggambarkan kehidupan masyarakat Aceh.

Menurut Murtala, proses tersebut tidak hanya bertujuan mengajarkan tari dan musik, tetapi juga memperkenalkan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam Ratoh Duek.

“Ini adalah transformasi budaya di era modern, tidak hanya belajar menyanyi dan bergerak, tetapi juga memahami sistem nilai yang menjadi bagian dari budaya masyarakat Aceh,” katanya.

Murtala menjelaskan proses panjang tersebut akhirnya membawa Ratoh Duek menjadi salah satu materi pertunjukan Gondwana Choirs dalam tur Asia Tenggara. Selain tampil di Kuala Lumpur, Kuching, dan Singapura, rombongan juga menggelar lokakarya di sejumlah sekolah di Malaysia. []

Reporter: Sammy

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Read more

Local News