NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Tim Paduan Suara Gondwana Choirs dari Australia membawa seni tradisi Aceh dalam rangkaian tur budaya ke Asia Tenggara pada Juli 2026. Salah satu materi yang ditampilkan dalam tur di Kuala Lumpur, Kuching, dan Singapura tersebut adalah Ratoh Duek yang dikoreografikan oleh koreografer asal Aceh yang telah lama menetap di Australia, Murtala.
Murtala menjelaskan Ratoh Duek dipilih karena mampu merepresentasikan kekayaan ragam tari duduk yang berkembang di Aceh, bukan sekadar menampilkan satu jenis tarian.
“Secara koreografi Ratoh Duek bisa menggambarkan bentuk-bentuk tari duduk yang ada di Aceh. Saya memilih gerakan tertentu dari berbagai tari duduk pesisir Aceh, seperti Likok Pulo dan Ratéb Meuseukat, kemudian dirangkai menjadi Ratoh Duek,” kata Murtala saat dihubungi Nukilan, Minggu (12/7/2026).
Menurut Murtala, penyusunan koreografi tersebut bertujuan memperlihatkan kepada penonton internasional bahwa tari duduk Aceh memiliki keragaman bentuk, baik gerakan yang dilakukan serempak, berselang-seling, maupun pola-pola ritmis yang menjadi ciri khasnya.
Ia juga ingin menunjukkan bahwa kesenian Aceh memiliki beragam tema. Sebagian syair berisi pujian kepada Allah sebagai bagian dari penyebaran syiar Islam, sebagian menggambarkan kehidupan masyarakat Aceh, sementara sejumlah lagu lainnya bersifat tradisional tanpa muatan religius.
Murtala mengatakan seluruh makna lagu yang diajarkan kepada anggota Gondwana Choirs selalu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris agar para peserta memahami isi syair yang mereka nyanyikan.
“Semua harus dijelaskan artinya. Ketika mereka menyanyikan lagu berbahasa Aceh, di samping teks lagu juga ada terjemahan bahasa Inggris sehingga mereka memahami maknanya,” tuturnya.
Ia menambahkan, Ratoh Duek menjadi salah satu dari tujuh materi pertunjukan yang dibawa Gondwana Choirs selama tur Asia Tenggara. Selain tampil di panggung, para anggota paduan suara juga memberikan lokakarya di sejumlah sekolah di Malaysia dan memperkenalkan gerakan dasar tari Aceh kepada para peserta.
Sebelumnya, Murtala menjelaskan proses masuknya Ratoh Duek ke Gondwana Choirs melalui perjalanan yang panjang. Tim paduan suara tersebut merupakan tim nasional yang beranggotakan anak-anak dari berbagai negara bagian di Australia.
Menurut dia, keterlibatannya tidak terlepas dari aktivitas seni yang dijalankannya bersama sang istri, Alfira O’Sullivan, yang memiliki darah Aceh-Irlandia dan mendirikan kelompok tari tradisional Suara Dance di Australia.
Ia menilai keterlibatan anak-anak Australia dalam membawakan tari Aceh merupakan bentuk diplomasi budaya Indonesia di luar negeri. Upaya tersebut mendapat dukungan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Canberra dan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Direktorat Film, Musik, dan Seni.
Berkat dukungan tersebut, Suara Dance dapat bergabung dalam tur Gondwana Choirs ke Asia Tenggara yang meliputi Kuala Lumpur, Kuching, dan Singapura pada pertengahan Juli 2026.
Ratoh Duek merupakan tarian tradisional Aceh yang dibawakan secara berkelompok dalam posisi duduk dengan mengandalkan kekompakan tepukan tangan, gerak tubuh, dan ritme yang dinamis. []
Reporter: Sammy









