NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Struktur ketenagakerjaan di Aceh masih didominasi sektor pertanian dan pekerjaan informal. Hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Februari 2026 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh menunjukkan sebagian besar penduduk bekerja menggantungkan mata pencaharian pada sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan, sementara hampir dua pertiga pekerja berada di sektor informal.
Dilansir Nukilan dari Data Sakernas menyebutkan sebanyak 2,5 juta penduduk Aceh bekerja dari total 2,657 juta angkatan kerja, sedangkan jumlah penganggur mencapai 156 ribu orang. BPS juga mencatat kondisi perekonomian yang belum sepenuhnya pulih menyebabkan jumlah tenaga kerja berkurang sekitar 55 ribu orang, sementara jumlah penganggur bertambah sekitar 7 ribu orang.
Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menjadi penyerap tenaga kerja terbesar dengan kontribusi 41,39 persen dari total penduduk bekerja. Posisi berikutnya ditempati sektor perdagangan sebesar 13,41 persen, jasa lainnya 6,97 persen, industri pengolahan 6,72 persen, serta administrasi pemerintahan 5,63 persen.
Di sisi lain, BPS mencatat 64,15 persen pekerja di Aceh masih bekerja pada sektor informal, sedangkan pekerja formal hanya 35,85 persen. Pekerja informal lebih banyak terkonsentrasi di wilayah perdesaan, mencapai 71,38 persen, dibandingkan kawasan perkotaan sebesar 53,61 persen.
Berdasarkan status pekerjaan utama, kelompok terbesar merupakan buruh, karyawan, atau pegawai sebesar 31,44 persen. Selanjutnya pekerja yang berusaha dengan dibantu buruh tidak tetap mencapai 19,18 persen, disusul pekerja yang berusaha sendiri sebesar 18,44 persen.
Sementara itu, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Aceh pada Februari 2026 tercatat 5,88 persen. Artinya, dari setiap 100 orang angkatan kerja terdapat sekitar enam orang yang belum memperoleh pekerjaan. Tingkat pengangguran lebih tinggi di wilayah perkotaan (8,03 persen) dibandingkan perdesaan (4,34 persen), serta lebih tinggi pada perempuan (5,51 persen) dibanding laki-laki (6,09 persen).
BPS juga mencatat lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menjadi kelompok dengan tingkat pengangguran tertinggi, yakni 10,13 persen. Sebaliknya, tingkat pengangguran terendah terdapat pada penduduk berpendidikan SD ke bawah, yakni 1,30 persen.
Publikasi Sakernas Februari 2026 ini memberikan gambaran bahwa struktur ketenagakerjaan Aceh masih sangat bergantung pada sektor primer dan pekerjaan informal. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi pemerintah dalam memperluas kesempatan kerja formal sekaligus mendorong diversifikasi lapangan pekerjaan di luar sektor pertanian. []
Reporter: Sammy









