Teuku Ali Usuf: Pengawal Tanah Kluet yang Terlupakan

Share

NUKILAN.ID | FEATURE – Di antara hamparan sawah yang menghijau di Gampong Tinggi, Kecamatan Kluet Utara, Kabupaten Aceh Selatan, tersimpan sebuah makam sederhana yang nyaris luput dari perhatian.

Tak banyak penanda yang menunjukkan siapa sosok yang berbaring di sana. Namun bagi sebagian masyarakat Kluet, tanah itu menyimpan kisah seorang panglima perang yang memilih gugur di medan perjuangan daripada menyerah kepada penjajah.

Namanya Teuku Ali Usuf.

Waktu telah berlalu lebih dari satu abad. Generasi berganti, cerita berpindah dari mulut ke mulut, sementara catatan sejarah yang menuliskan namanya nyaris tak ditemukan. Namun di tengah keterbatasan itu, ingatan tentang Teuku Ali Usuf tetap hidup dalam cerita keluarga dan masyarakat yang meyakini bahwa pernah ada seorang pemuda pemberani yang mempertaruhkan hidupnya demi tanah kelahirannya.

Menurut salah seorang keturunan dari keluarganya, Muhammad Hasbi, Teuku Ali Usuf diperkirakan lahir sekitar tahun 1884 dan meninggal dunia pada usia kurang lebih 35 tahun.

“Beliau meninggal sekitar usia 35 tahun. Beliau adalah kakek saya yang meninggal dunia demi mempertahankan tanah yang ia cintai,” ujar Muhammad Hasbi saat diwawancarai Nukilan.id pada Rabu (6/5/2026).

Dalam cerita yang diwariskan turun-temurun, Teuku Ali Usuf merupakan bagian dari barisan perjuangan Aceh yang berada di bawah komando Teungku Cut Ali ketika perlawanan terhadap kolonial Belanda masih berkecamuk di wilayah Kluet dan sekitarnya.

Masa itu adalah periode ketika rakyat Aceh terus melakukan perlawanan meski kekuatan militer Belanda semakin besar. Di pelosok-pelosok pedalaman, semangat perjuangan tetap menyala. Para panglima lokal menjadi tumpuan rakyat untuk mempertahankan kehormatan negeri mereka.

Teuku Ali Usuf dikenal sebagai sosok tangguh dan piawai di medan pertempuran. Kemampuannya membuat ia dipercaya memimpin perjuangan di wilayah Kluet Utara. Namun, demi menjaga strategi gerakan, ia tidak selalu tampil sebagai panglima yang mudah dikenali.

Dalam berbagai kesempatan, ia disebut lebih sering menyamar sebagai rakyat biasa. Cara itu dilakukan agar pergerakannya tidak terdeteksi pasukan kolonial yang terus memburu para pejuang Aceh.

Perlawanan rakyat Kluet kala itu berlangsung secara terorganisasi. Di Kluet Utara perjuangan dipimpin Teuku Ali Usuf, di Kluet Timur terdapat Panglima Rajo Lelo, di Kluet Tengah berdiri Imam Sabil, sementara Kluet Selatan menjadi basis perjuangan Teungku Cut Ali.

Sekitar tahun 1919, suasana Kluet sedang mencekam. Pemerintah kolonial Belanda memaksa masyarakat menjalani kerja rodi. Rakyat dipaksa bekerja untuk kepentingan penjajah di tanah mereka sendiri.

Di tengah situasi itu, Teuku Ali Usuf memilih berada bersama rakyat.

Muhammad Hasbi menuturkan, ketika pasukan Belanda datang ke wilayah tersebut, sang panglima tidak memilih melarikan diri. Ia tetap berdiri menghadapi ancaman yang datang.

Berbekal sebilah parang kecil, Teuku Ali Usuf menghadapi situasi yang nyaris mustahil dimenangkan.

Dalam kisah yang hidup di tengah masyarakat, seorang komandan Belanda disebut sempat menantangnya untuk bertarung satu lawan satu. Duel itu kemudian benar-benar terjadi.

Teuku Ali Usuf dikisahkan mampu mengalahkan komandan tersebut. Namun kemenangan itu hanya berlangsung sesaat.

Pasukan Belanda yang menyaksikan kejadian itu kemudian melepaskan tembakan. Peluru menghantam tubuh sang panglima hingga ia gugur di lokasi.

“Beliau meninggal demi mempertahankan tanah yang ia cintai,” kata Muhammad Hasbi.

Kematian Teuku Ali Usuf ternyata bukan akhir dari penderitaan yang harus dihadapi masyarakat saat itu.

Menurut cerita yang berkembang di Gampong Tinggi, jasadnya tidak langsung dimakamkan. Selama tiga hari tiga malam, tubuh sang panglima dibiarkan tergeletak.

Belanda disebut mengancam akan memburu keturunannya apabila terbukti Teuku Ali Usuf merupakan putra asli kampung tersebut.

Ancaman itu membuat masyarakat berada dalam situasi sulit.

Demi menyelamatkan warga dan keluarga yang ditinggalkan, para tokoh kampung bersama Geuchik Nyak Husen kala itu disebut mengambil keputusan berat. Mereka menyatakan kepada Belanda bahwa Teuku Ali Usuf bukan berasal dari Gampong Tinggi.

Sebuah pengingkaran yang dilakukan bukan karena melupakan jasa sang pejuang, melainkan demi melindungi kampung dari amarah penjajah.

Setelah situasi dianggap aman, masyarakat kemudian memakamkannya di kawasan persawahan Gampong Tinggi.

Di sanalah jasad sang panglima beristirahat hingga hari ini.

Lebih dari satu abad telah berlalu sejak Teuku Ali Usuf gugur dalam perlawanan melawan Belanda. Waktu telah menghapus banyak jejak perjuangannya. Rumah, peralatan perang, hingga berbagai peninggalan lain perlahan hilang ditelan zaman.

Namun di tengah memudarnya jejak sejarah itu, keluarga masih menyimpan satu benda yang diyakini menjadi saksi bisu perjuangan sang panglima: sebuah pedang tua.

Muhammad Hasbi kemudian memperlihatkan pedang tersebut kepada penulis. Bilahnya tampak telah termakan usia. Warnanya kusam, sementara sebagian permukaannya menunjukkan bekas korosi yang tak terhindarkan. Bentuknya sekilas menyerupai rencong Aceh, tetapi dengan ukuran yang lebih panjang dan bilah yang lebih lebar.

pedang Teuku Ali Usuf
Pedang peninggalan Teuku Ali Usuf. (Foto: Nukilan)

Bagi keluarga, pedang itu bukan sekadar benda pusaka. Di balik besi tua yang mulai menua itu tersimpan kisah keberanian, pengorbanan, dan semangat perlawanan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

“Peninggalan beliau hanya pedang yang saya simpan untuk dikenang. Jika pemuda seperti kalian ingin mengetahui sejarah beliau, saya akan menunjukkan kisahnya serta pedang ini sebagai tandanya,” ujarnya.

Hingga kini, pedang tersebut tetap disimpan dengan penuh kehati-hatian. Di tengah minimnya dokumentasi sejarah tentang Teuku Ali Usuf, benda itu menjadi salah satu penghubung yang masih tersisa antara masa kini dengan kisah heroik seorang pejuang Kluet yang gugur demi mempertahankan tanah kelahirannya.

Pengorbanan itu bahkan menyentuh sisi paling pribadi dalam hidupnya.

Menurut Muhammad Hasbi, Teuku Ali Usuf memiliki sebuah nazar sederhana: menikah ketika Aceh telah merdeka.

Namun harapan itu tidak pernah menjadi kenyataan.

Ia keburu gugur sebelum sempat menikmati kehidupan yang diperjuangkannya.

Sementara itu, Syahrul Amin, intelektual muda dari PMII Aceh, menilai kisah Teuku Ali Usuf penting dikenalkan kepada generasi muda agar sejarah perjuangan lokal tidak hilang ditelan zaman.

“Meski namanya tidak sepopuler Teungku Cut Ali atau Panglima Rajo Lelo, perjuangan Teuku Ali Usuf tidak kalah besar. Ia rela mengorbankan kehidupan pribadinya demi kemerdekaan,” ungkapnya.

Kini, ketika angin sore berembus di antara hamparan sawah Gampong Tinggi, nama Teuku Ali Usuf mungkin tidak banyak ditemukan dalam buku-buku sejarah. Namun bagi masyarakat yang masih menyimpan kisahnya, sang panglima belum pernah benar-benar pergi.

Ia tetap hidup dalam cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi—seperti jejak langkah yang tak terlihat, tetapi selalu ada di tanah yang dahulu ia pertahankan dengan nyawanya. (XRQ)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Read more

Local News