NUKILAN.ID | MEKKAH — Gelombang jemaah haji kini tinggal menghitung jam untuk bergerak menuju Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) guna melaksanakan puncak ibadah haji. Menjelang momen krusial tersebut, para petugas maktab dan pembimbing ibadah terus melakukan pemantauan intensif terhadap berbagai fasilitas yang akan digunakan jemaah selama berada di Armuzna.
Pada Minggu, 7 Zulhijjah 1447 H atau bertepatan dengan Minggu (24/5/2026), delegasi pembimbing haji dari Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) asal Embarkasi Aceh (BTJ) melakukan kunjungan visitasi ke kawasan Arafah. Kegiatan ini dilakukan untuk memastikan kesiapan sarana dan prasarana yang akan digunakan jemaah, mulai dari tenda, pendingin ruangan (AC), fasilitas sanitasi, hingga aspek keamanan.
Pembimbing Ibadah Haji dari KBIHU Ibnu Mas’ud Provinsi Aceh, Abdullah AR, mengatakan dirinya turut bergabung dalam delegasi yang difasilitasi pihak maktab untuk meninjau langsung kondisi di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
“Kami ikut dalam delegasi yang difasilitasi oleh maktab untuk melihat langsung kesiapan tempat di Arafah, Muzdalifah, dan Mina,” ujar Pembimbing Ibadah Haji dari KBIHU Ibnu Mas’ud Provinsi Aceh, Abdullah AR, Minggu (24/5/2026).
Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, Abdullah menjelaskan bahwa mayoritas jemaah haji asal Aceh yang tergabung dalam Kloter 7, 8, dan 9 Embarkasi Aceh akan ditempatkan di Maktab 56. Meski demikian, dalam maktab tersebut juga terdapat sejumlah jemaah dari provinsi lain yang bergabung bersama kloter Aceh.
Selain memastikan kesiapan fasilitas, Satgas Armuzna juga melakukan pengawasan terhadap area perkemahan guna mengantisipasi berbagai potensi gangguan selama pelaksanaan puncak haji.
“Pengawasan dilakukan untuk penertiban area dan mencegah ada kaveling tenda ilegal oleh pihak yang tidak bertanggung jawab,” tambah pria yang akrab disapa Abi tersebut.
Adapun estimasi pergerakan jemaah haji dimulai pada 8 Zulhijjah dengan keberangkatan dari Mekkah menuju Arafah. Selanjutnya pada 9 Zulhijjah, jemaah melaksanakan wukuf di Arafah dan bergerak ke Muzdalifah setelah Magrib untuk melaksanakan mabit.
Pada 10 Zulhijjah, jemaah akan menuju Mina untuk mabit, melontar Jamarah Aqabah, serta melaksanakan Tahallul Awal. Kemudian pada 11 hingga 12 Zulhijjah, jemaah melaksanakan lontar Jamarah Ula, Wustha, dan Aqabah bagi yang memilih Nafar Awal. Sementara pada 13 Zulhijjah, lontar jamarah dilaksanakan oleh jemaah yang mengambil Nafar Tsani.
Dalam kesempatan tersebut, Abdullah juga mengingatkan bahwa pilihan antara Nafar Awal maupun Nafar Tsani merupakan kemudahan yang diberikan dalam syariat Islam. Menurutnya, yang terpenting dari seluruh rangkaian ibadah haji adalah tercapainya nilai spiritual dan kemabruran haji.
“Spiritualitas dari puncak ibadah haji adalah memperoleh haji mabrur. Ini impian semua jemaah. Sosok yang mabrur akan memancarkan kebaikan bagi manusia lain dan menjadi pribadi yang peka terhadap kondisi sosial di sekitarnya,” jelas mantan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pidie tersebut.
Dengan berbagai persiapan yang terus dimatangkan di kawasan Armuzna, diharapkan seluruh jemaah dapat melaksanakan rangkaian rukun dan wajib haji dengan lancar, aman, dan khusyuk, serta kembali ke tanah air dengan predikat haji mabrur yang membawa manfaat bagi lingkungan dan masyarakat di sekitarnya.
Penempatan Jemaah Haji Aceh di Armuzna:
- Kloter 7 BTJ: Maktab 56
- Kloter 8 BTJ: Maktab 56
- Kloter 9 BTJ: Maktab 56
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

